Wednesday, October 22, 2003

Cerita bagi Secangkir Kopi

    : tsp



pagi datang dengan terang sempurna matahari

saat tepat untuk memetik memilih buah kopi



jejak embun menapa dingin telanjang kaki

jejak musang luak dan bulan mengunyah biji



sepenuh keranjang sekuat menjunjung hati

wanta pulang anak menyanyi siul burung nuri



di bawah hangat matahari tinggi siang hari

di lapang pekarangan, mengantar basah kembali



gemerincing nyaring, riang, kering biji-biji kopi

ditampi di hembus sepoi angin sore hari



di panas wajan bakar bakau mengobar api

hijau keping menghitam menjemput wangi



lalu bertalu lesung menggiling harum kopi

diayak disaring ditumbuk sehalus serbuk sari



maka datanglah juga malam para lelaki

berbincang laut dan ladang, dan mimpi



bersila berselang bersilang kata dan kaki

bersulang menegak tetes akhir hangat kopi



luak di semak kebun mengendap mencari lagi

bulan tersenyum di langit telah lama mengerti



Okt 2003