Wednesday, March 29, 2006

Tak Bisa Berpegangan

Adakah jejak cuaca kota itu di rambutmu?
     Aku menyentuh tanah yang subur, liana menyulur
siapa tanam kenangan di jarak yang makin kabur
     Aku cuma pejalan lelah. Katamu. Senyum bersalju.

ini jalan mengantar resah kemana? ada cahaya
     dahan-dahan, kami tak bisa berpegangan
aku kira kau ada di di ujung itu, menunggu
     menebak tiap langkahku, "itu bukan kamu. bukan kamu..."

Tuesday, March 28, 2006

Draft Buku : Jejak-jejak Menapak ke Puncak Sajak (2)

II. Bersajak-sajak Dahulu

7. Saya sudah membaca puisi agak banyak. Saya tak tahu banyak itu ukurannya berapa. Saya sudah punya banyak pertanyaan untuk kita diskusikan.

Saya mau bilang bagus lagi, tapi nanti tidak puitis lagi, ya? He he. Ya, banyak itu tidak ada ukurannya. Berapa buku, atau berapa puisi, atau berapa penyair. Bacalah terus. Saya kira membaca puisi itu tak harus dihentikan bahkan kalau kelak kamu jadi penyair besar. Penyair besar mestinya harus lebih rakus lagi membaca puisi. Lebih membutuhkan banyak puisi untuk dinikmati.

8. Pertanyaan penting saya ini sebenarnya. Setelah membaca banyak puisi saya jadi ingin tahu perlukah falsafah puisi bagi seorang penyair? Perlukah penyair membuat semacam kredonya sendiri sebelum dia berkarya?

Ya, perlu. Konsep, falsafah, atau kredo puisi bisa jadi semacam pintu masuk bagi penjelajahan ke puisi-puisi yang kita tuliskan. Tapi tidak lalu seluruhnya dipertaruhkan pada konsep itu. Penyair boleh saja mencampakkan rumusan yang sebelumnya pernah ia agung-agungkan. Kredo juga tidak harus terumuskan. Biar saja dia menjadi tangan gaib yang membimbing proses persetubuhan ide-ide, kehamilan dan lalu kelahiran puisi. Duh, lihat saya mulai puitis kan?

9. He he. Ya terus? Maksud saya soal kredo tadi. Jadi ingat Sutardji Calzoum Bachri….

Ya, penyair Sutardji yang saya kira adalah penyair yang begitu populer dengan kredonya. Sampai-sampai banyak yang sok tahu dengan kredo itu walaupun tak pernah membacanya. Ia suatu hari pernah bilang, kredo itu diciptakan oleh penyairnya. Bukan kredo yang melahirkan penyair. Jadi, saran saya buat kamu: berkaryalah, dengan atau tanpa terlebih dahulu menyusun konsep puisimu.

Keduanya berisiko. Keduanya menantang. Kita bisa menulis sejumlah karya selama kurun waktu tertentu lalu merumuskan sendiri konsep apa yang bisa disusun untuk menghubungkan semua puisi itu. Atau menyusun sebuah konsep, kredo, kaidah bersyair kemudian kita bersyairlah dengan patuh pada konsep itu. Lalu suatu saat kelak kamu bisa menyusun konsep lain, membuat puisi yang lain.

10. Jadi malu nih. Jujur saja, saya belum baca kredonya Sutardji itu.


Nah, segera bacalah. Banyak yang bisa kita diskusikan dari sana. Kalau boleh mewajibkannya, saya akan mewajibkan siapa pun yang ingin menikmati puisi membaca kredo itu. Tapi jangan cuma membaca kredonya. Baca juga puisi-puisinya. Saya kira itu kredo yang paling banyak mengundang perdebatan. Nikmat sekali membacanya.

11. Oh ya. Tadi kamu bilang, marah pun bisa melahirkan puisi. Kok bisa?

Kok bisa, ya bisa. Saya mau cerita. Kawan bilang dia bisa bikin puisi kalau sedang marah. Kawan yang lain bilang: dia hanya bisa menulis puisi kalau sedang jatuh cinta. Lalu keduanya menyimpulkan seorang penyair adalah orang yang selalu marah dan terus menerus jatuh cinta.

12. Kalau jatuh cinta saya setuju. Kalau marah?

Begini. Penyair adalah manusia biasa yang bisa marah dan tentu juga boleh jatuh cinta. Ada persamaan antara keduanya – marah dan jatuh cinta - yaitu membuat manusia pada saat itu peka perasaannya. Puisi memerlukan itu. Kepekaan yang berlebih menangkap tanda yang dikirim yang datang yang mengusik yang mengganggu yang diburu yang sekecil apapun bahkan yang remeh tak berguna.

13. Hmmm kalau begitu perasaan apa saja bisa jadi puisi?

Rasa apa saja? Apa misalnya?

14. Wah, menguji ya? Ya, rasa apa saja. Sedih, lapar, letih, gembira, kesal, stres, putus asa, patah hati, haus …. perlu terus saya teruskan?

Cukup. Jadi, saya kira kamu bisa gampang mengerti sekarang kalau saya katakan bahwa kerja menyair yang bersungguh, sesungguhnya bukan hanya pada saat membuat syair, tapi bagaimana membuat perasaan kita terus menerus peka. Kepekaan itu berguna untuk menjemput tanda yang datang tadi, tanpa harus menunggu saat marah atau jatuh cinta. Yang entah bila entah dimana akan menyentuh hidup dan manusia lainnya.

15. Anggaplah sekarang perasaan saya sudah terlatih. Sudah peka. Saya ingin menulis puisi. Saya kan perlu ilham? Perlu ide?

Penyair bukanlah manusia yang dimanjakan alam, kata penyair Polandia peraih Nobel Sastra tahun 1996 Wislawa Szymborska. Inspirasi baginya datang dari ketidaktahuan yang terus menerus diulang. Dengan kata lain dari keingintahuan. Seperti Newton, katanya, yang bertanya kenapa apel jatuh. Peristiwa sederhana itu akhirnya membawa ke teori gravitasi. Tentu saja kamu harus mempersiapkan rasa itu tadi.

16. Sebentar, saya tidak ingin menyusun sebuah teori. Saya ingin menulis puisi.

Menyusun sebuah teori saya pada hakikatnya adalah sama dengan menulis puisi. Tapi yang kamu susun teorinya dalam puisi adalah pertanyaan-pertanyaan tentang hidup dengan kaidah-kaidah perasaan. Puisi yang baik adalah sebuah teori kecil. Sebuah rumusan yang indah tentang sesuatu hal.

Jadi inspirasi puisi juga bisa datang dari keinginan untuk mengetahui atau niat memberi tahu. Kamu perlu memiliki kemauan dan keberanian untuk sedikit mengolah fikir dan rasa, menyelinap ke belakang panggung setiap peristiwa, sekecil atau sebesar apapun ia. Dan keinginan membangkitkan pertanyaan sendiri dan kemudian merumuskan jawaban bagi pertanyaan itu. Puisi bisa kita jadikan jawaban atau cara menjawab atas pertanyaan-pertanyaan yang juga datang pada diri kita. Penyair yang peka adalah dia yang terus-menerus-terus mengolah batin agar peka atas usikan-usikan peristiwa yang datang sebagai pertanyaan yang minta jawaban.

17. Kalau begitu, puisi tidak boleh salah? Harus benar?

Ini bukan perkara benar atau salah. Lagi pula, benar dan salah itu mengacu ke mana? Perasaan kita bisakah dibuat batasan benar salah? Mungkin ucapan Multatuli perlu dikutip dalam diskusi kita ini. Apa katanya? Dalam puisi ada kebenaran. Kamu yang tak menemukan kebenaran dalam puisi hanya akan menjadi penyair yang berdiri di luar kebenaran itu.

Tapi puisi bukan sebuah teori yang eksak, yang pasti. Jawabannya atas problem hidup tentu saja tak akan pernah tuntas. Bahkan sebaliknya bisa kembali membangkitkan pertanyaan lain. Tak henti-henti. Tak henti-henti.

18. Saya minta contoh. Agak bingung nih…


Pernah baca Sang Nabi Kahlil Gibran? Dalam syair itu dia ada merumuskan tentang anak. Anakmu bukanlah anakmu, begitulah katanya. Dia adalah anak-anak kehidupan, dan seterusnya. Ini kan rumus atau sebutlah teori baru tentang hubungan anak dan orang tua yang akhirnya jadi khazanah kebenaran di seluruh dunia. Karena rumusan itu, orang tua bisa bersikap lebih bijak kepada anaknya. Tanpa batasan iman, apa yang dirumuskan oleh Gibran mengandung kebenaran. Cukup contohnya?

19. Wow, contoh yang hebat. Saya bisa mengerti.

Ya, Gibran memang pujangga hebat. Dia mestinya sangat pantas untuk dapat hadiah Nobel Sastra. Tapi sayang hadiah itu tak diberikan kepada orang yang sudah meninggal.
Kamu boleh merumuskan kebesaran Gibran dalam puisimu.

Draft Buku : Jejak-jejak Menapak ke Puncak Sajak

I. Bukan Sekadar Pengantar

1. Wow, judul buku ini puitis juga ya?

Bagus, saya suka pertanyaan pertama ini. Kalau kamu bisa merasakan ada yang puitis pada sesuatu yang bukan puisi, itu pertanda kamu peka. Dan kepekaan rasa itu penting ketika bersuka-suka dengan puisi. Kepekaan itu penting untuk menikmati puisi. Menikmati dalam arti membacanya dan terlebih lagi menuliskannya.

2. Ya. Saya memang hendak menikmati puisi. Saya hendak menjadi pembaca puisi yang baik dan menulis puisi yang hebat. Saya harus mulai dari mana?

Sekali lagi saya harus mengucapkan: bagus! Niatmu hendak membaca dan menulis puisi itu sekaligus juga petunjuk bagimu. Ya, mulailah dengan membaca dan menulis puisi. Jangan tanya saya di mana kamu bisa dapat puisi. Karena saya akan menjawabnya tanpa kamu tanya. Kamu bisa beli surat kabar Minggu yang banyak memberi tempat khusus untuk puisi. Kamu bisa pinjam di perpustakaan terdekat. Kamu juga bisa berseluncur di internet. Atau kalau punya anggaran, belilah buku puisi.

3. Itu saja?

Kamu juga bisa pinjam buku temanmu. Atau mencuri buku seperti Chairil Anwar. Tapi ingat, dulu toko buku tidak dilengkapi kamera pengintai. Saya tidak mengajarimu menjadi pencuri. Saya menyebut Chairil yang mencuri itu bukan sebagai contoh sebuah tindak kriminal. Chairil mencuri karena ia pembaca yang rakus. Ia tidak bisa menahan diri untuk menunda membaca. Ia tak bisa dihalangi oleh kenyataan bahwa dompet dan sakunya sedang kosong. Itu yang harus kamu tiru. Semangat membacanya itu.

4. Baiklah, saya akan menjadi pembaca puisi yang rakus. Bagaimana dengan menulis puisi? Adakah jaminan saya akan jadi penulis yang bagus kalau sudah membaca banyak puisi?

Sabar, ini baru pengantar. Tapi, saya ingin mengingatkan kamu: luruskan dulu niatmu. Kamu kan ingin menikmati puisi? Ini penting. Lebih penting daripada keinginanmu menjadi penulis puisi atau penyair yang hebat. Jadi jangan menuntut garansi apa-apa. Jangan minta jaminan kalau kamu sudah membaca puisi yang baik dan banyak, maka kamu akan jadi penulis puisi yang baik. Meskipun ada hubungan antara si penyebab dan si terakibat di situ. Kalaupun kamu nanti tidak menulis puisi, kamu kan juga bisa jadi penelaah puisi yang tajam, jadi pengamat puisi yang jeli, jadi pemeta puisi yang teliti, jadi pembedah puisi yang piawai. Semuanya menjanjikan kenikmatan. Syukur kalau nanti bisa juga membagi-bagi kenikmatan itu pada orang lain.


5. Iya, ya. Tapi, jangan marah begitulah. Tidak puitis, he he he….

Siapa bilang? Puisi juga bisa lahir dari rasa marah.

6. Oh, ya?

Ya, tapi kita omongkan itu nanti. Pengantar ini cukup sampai di sini.
DUA sarung tangan kiri disatukan tak sama dengan satu pasang sarung tangan. Setengah kebenaran ditambah setengah kebenaran bukan sebuah kebenaran.


* Multatuli [Eduard Douwer Dekker] (1820–1887), Dutch writer
TIDAK ada yang lebih puitis daripada kebenaran. Dia yang tak melihat puisi pada kebenaran selalu hanya kaan menjadi penyair malang yang berdiri di luar kebenaran itu.

* Multatuli [Eduard Douwer Dekker] (1820–1887)

HANYA ada satu keindahan - dan satu ekspresi sempurna - yaitu Puisi. Selain itu hanya dusta - kecuali siapa yang mau hidup dengan tubuh, cinta, dan persahabatan yang mencinta pikir... Bagiku, Puisi mengambil alih tempat cinta, karena ia diranjingi oleh dirinya sendiri, dan karena keriangannya yang memberahikan jatuh kembali ke pangku jiwaku dengan nikmatnya.

Sunday, March 26, 2006









SAINS dan seni, atau pada kasus yang sama, puisi dan prosa, berbeda satu sama lain seperti sebuah perantauan dan sebuah pelancongan. Perantuan diniatkan pada tujuan akhirnya, sementara pelancongan ditekankan pada proses sepanjang perjalanannnya.

* Franz Grillparzer (1791–1872), Austrian author. Notebooks and Diaries (1838).

Tak Ada Penjual Kartu Pos
di Halaman Masjid Tua Itu



TAK ada penjual kartu pos, di halaman masjid tua itu.

Kau pun hanya ingin mengirimkan berita tak gembira:

Aku hanya ingin singgah, setelah jamaah asar bubar,
sebelum magrib mengabarkan azan, tinggal sebentar.

TAK ada penjual kartu pos, hanya tukang potret renta,
kamera Leica tua yang, "Cuma memotret pelancong,
seperti Anda, ribuan lembar fotograf: waktu beku itu."

Ia hanya perlu alamat, posemu jauh di seberang taman.
Kau hanya ingin duduk. Kau ingin sebentar kesepian.

"Lihat, ada paku liar, jadi gulma lebat, di pucuk ikamat,"
tapi tak ada yang bergesa, tak ada yang ingin bersegera.

TAK ada penjual kartu pos, di halaman masjid tua itu.

Dia kah yang seperti ingin menyapamu? Di antara kedai
penjual kopiah dan buku petunjuk ibadah praktis itu?

[Ruang Renung # 137] Tanda Kurung dan Garis Miring


PENYAIR adalah dia yang senantiasa berdiri di pojok tikungan bahasa itu. Tikungan yang penuh bahaya itu. Kenapa? Karena setiap bahasa memiliki tanda kurung dan garis miring. Itulah bahayanya. Itulah risiko orang yang sadar memilih tempat bediri di pojok tikungan bahasa.

KENAPA penyair memilih berdiri di tempat itu? Karena ada engkau yang berusaha menegakkan menara cahaya. Bila segalanya terang benderang, seperti dalam bahasa yang bukan sajak, penyair tak lagi menemukan gairah, tak lagi menemukan gelora bahasa. Karena itu ia lebih memilih menunggu di pojok tikungan bahasa, karena ia tahu di balik garis miring, ada seribu tanda kurung masih menunggu.

BAHKAN di gelora magma bahasa, penyair tak akan juga terbakar. Karena batu bahasa yang dipanas-panaskan hingga mencair menjadi magma yang menggelora, bagi penyair ternyata tak lebih panas daripada letik api sajak. Karena itu, penyair lebih memilih menyergap bayang-bayang yang patah warna. Karena ia tahu bahwa di pojok tikungan bahasa, tempat ia menunggu, ia sedang mendaki garis miring dalam tanda kurung.

ADA tanda ku rung di balik garis miring. Ada garing miring dalam tanda kurung. Garis miring dan tanda kurung, keduanya tanda baca yang tentu saja akrab dengan kita, menjadi metafor yang saya kira khas Jamal D Rahman. Setidaknya dalam sajak "Penyair di Balik Tikungan" ini. Sajak yang termuat dalam buku "Reruntuhan Cahaya" (Bentang, Yogyakarta, 2003) ini amat layak diperbincangkan dan direnungkan. Tiga alinea di atas adalah hasil renungan saya atas puisi itu, dan hasil perbincangan saya dengan puisi itu. Juga dua alinea berikut ini.

Kenapa garis miring? Garis miring adalah sebuah tanda pengatau. Sebuah tawaran untuk memilih. Sebuah alternatif yang bisa x dan bisa y. Garis miring adalah juga pembagi. Puisi sejatinya juga adalah sebuah garis miring. Kalau orang yang bukan penyair melihat x, maka penyair dengan puisinya bisa memberi sebuah atau yang lain. Sebuah y. Ketika makna hidup terlalu berat untuk direngkuh seluruhnya, maka penyair dengan puisinya yang bagai garis miring, membagi-bagi keseluruhan makna itu kedalam pemaknaan-pemaknaan kecil yang lebih punya daya sentuh.

Kenapa tanda kurung? Hakikatnya, tanda ini dipakai untuk membuat kesimpulan-kesimpulan kecil dalam sebuah perjalanan kalimat. Ia juga bisa diisi dengan semacam peringatan ringan agar kalimat-kalimat yang sedang berjalan tidak menyesatkan kita yang mengikutinya. Tanda kurung dengan demikian adalah metafora yang pas untuk puisi dalam kehidupan dan dalam bahasa.[]

Thursday, March 23, 2006

Puisi untuk Sebuah Sore yang Tidak Hangat

"Hujankah semalam?"
Aku melihat genangan seperti gerangan.

Bangku basah, masih juga kosong,
ranting resah, yang tak menolong.

"Kelak aku tinggal kota ini."

Aku tidak ingin ada yang bertanya,
"Hei, kau mau kemana sesungguhnya?"

Kenapa harus tahan bertahan?
Tak ada yang kutinggalkan,
di bangku tua.

Taman menua.

[Tentang Puisi] Merebut Makna

MEMBACA puisi berarti bergulat terus-untuk merebut makna sajak yang disajikan oleh penyair. Sajak yang baik merupakan bangunan bahasa yang menyeluruh dan otonom, hasil ciptaan seorang manusia dengan segala pengalaman dan suka-dukanya; oleh karena itu sajak memerlukan dan berhak untuk dicurahi daya upaya yang total pula dari pihak pembaca yang bertanggungjawab sebagai pemberi makna pada sajak itu.

* A Teeuw, dalam alinea pertama pengantar buku Tergantung pada Kata, Dunia Pustaka Jaya, Jakarta, 1980 (cetakan pertama).

[Ruang Renung # 136] Memberi Tenaga pada Kata

KATA-KATA bisa letih. Kata-kata bisa jadi loyo. Kata-kata bisa jadi tak menggairahkan lagi. Kata letih, loyo dan tak bergairah kalau terlalu sering kita tunggangi, kita pakai, kita akali. Apalagi kalau kata kita pakai untuk menipu, memanipulasi, menyembunyikan makna sebuah atau beberapa buah kenyataan di sebalik kata-kata yang kita peralat. Kata-kata bahkan bisa mati. Atau setidaknya usang, tak seksi lagi.

PUISI adalah jalan yang bisa ditempuh oleh penyair untuk menggairahkan kata lagi. Gairah itu kalau tercapai bisa ditularkan ke pembaca puisinya. Puisi yang berhasil adalah puisi yang penuh gairah dan menggairahkan, penuh nafsu dan memberahikan. Puisi yang berhasil adalah puisi yang - mendukung pendapat A Teeuw - memerlukan dan berhak untuk dicurahi daya upaya yang total pula dari pihak pembaca yang bertanggung jawab sebagai pemberi makna.

JADI jangan jauhi kata yang penat. Kata yang penat harus kita gendong, kita timang, dan kita rawat agar ia segar kembali. Joko Pinurbo dengan sajak pendeknya "Celana Tidur" (Kekasihku, Kepustakaan Populer Gramedia - KPG, Jakarta, 2004) bisa kita tengok jadi teladan.

Celana Tidur

Walau punya bermacam-macam celana tidur,
ia lebih suka tidur tanpa celana.

Supaya celana bisa tidur di luar tubuhnya.
Supaya tidurnya tidak rusak oleh celana.

ADAKAH yang luar biasa pada kata yang dipilih dalam sajak di atas? Tidak ada. Semuanya kata-kata biasa saja. Yang dekat dengan kita. Yang setiap hari pasti kita ucapkan. Kata-kata yang akrab dengan kita - yang karena keakraban itu menjadi tak menarik lagi buat kita.

Monday, March 20, 2006

Kamus Empat Kata Berhuruf Awal G

gersik: hanya ombak masih setia. Datang. Ke pantai itu.
      Pantai kita itu? Aku memburu engkau. Mencari apa yang
      sisa. Mungkin suara. Gemerisik pasir. Karang kering.
      Memungut sisa diam kita. Mengatakannya. Dengan
      sisa kata yang terbaca pada lengking lantun camar,
      lengkung pelangi samar. Tapi, kau tak ada. Hanya aku.
      Menyesali kita. Menyesaki kata.

giuk: kapalku tetap menunggu. Jauh dari dermaga itu. Laut
      memang sedang tak pasang. Seperti hati yang sangkal,
      muara yang dangkal. Aku mengikatkan sebuncu
      saputangan. Di tali pengatur layar. Sebuncu kenangan.
      Di pagar buritan. Sebuncu keraguan. Di tiang haluan.
      Memanggil engkau dalam gerak lambai. Udara malas, angin
      lunglai. Aku semakin tak tahu. Bilakah pelayaran dimulai.

gigau: maka malam muram. Datang sepuluh lelaki dalam hitam.
      Menyiapkan makam. Di anjungan. "Mimpi sudah sampai."
      Ada bayangan, terhempas di geladak retak. Terhantam diam.
      Kita memang harus pulang. Walau makin entah kemana
      pulang. Walau makin betah - seperti lebah - menualang. Walau
      makin resah, segala cuma terulang, cuma mengulang.
      "Mungkin mimpi memang sudah lama sampai....."

geta: pernah ada yang tenggelam. Sebuah kapal, habis karam.
      Takhta terpendam. Sebelum pulang ke malam. Adakah
      waktu untuk menyelam? Sebentar ke laut dalam. Masih
      saja, aku berharap bertemu kita. Aku menduga. Kau
      adalah tali jangkar. Putus ketika aku telah jauh berlayar.
      Ada bukit besar. Timbunan bangkai camar.

Sunday, March 19, 2006

Tiga Surat yang Sampai
pada Alamat yang Salah



1. NUAN, di teater itu kamu masih suka latihan 'kan?
Aku tak pernah datang lagi. Aku bosan. Tak ada tokoh
hebat yang pernah aku perankan. Aku jadi tak percaya
ada orang yang bisa jadi hebat di negeri kita, Nuan.
Aku ingin jadi pelawak saja, Nuan. Aku ingin melucu.
Seperti hidup kita, Nuan. Semuanya ini sebenarnya lucu.
Semuanya ditakdirkan untuk tertawa selamanya.
Tawa-Mu Abadi, bukan? Nasib itu, Nuan, kalau benar ia
diatur oleh Tuhan, hanya bahan lucu-lucuan, Nuan.
Tuhan itu suka canda, Nuan. Ia pasti tertawa melihat
kita pontang-panting, menebak apa yang kelak tiba,
apa yang kelak tak sampai pada kita. Binatang tak bisa
tertawa, Nuan. Manusia bisa. Kau tahu, Nuan, Tuhan
pasti punya Tawa yang lebih Tawa dari tawa kita. Aku mau
latihan tertawa saja, Nuan. Aku mau jadi komedian.

2. DOTTY, meja bundar itu masih adakah di hotel itu? Aku
mau duduk di sana bersama puisi. Aku punya cerita, Dotty.
Tentang nama yang hendak dilupakan. Sambil makan siang.
Menu-menu asing itu. Aku ingin tahu rasa kehilangan, rasa
darah yang tak kita inginkan ada dalam alir nadi kita, dan
rasa kutukan menjadi seorang perempuan. Itu menu-menu
favoritmu kan, Dotty? Akulah kehilangan itu, Dotty. Akulah
darah yang mengalir dalam tubuh yang salah. Akulah kutukan
itu, Dotty. Aku ingin menjemput maut ke jantungku, Dotty,
setelah setiap kata kutaklukkan, sebuah kota kutaklukkan,
seolah kita kutaklukkan.

3. OLIVIA, aku punya boneka baru. Dia mirip kita. Tapi
dia tak punya alat kelamin. Padahal aku ingin dia jadi
pekerja kelamin, supaya bisa sepenuhnya membenci
kelaminnya. Ya, boneka baruku itu perempuan, seperti kita,
Olivia. Nasib perempuan bisa ditentukan cepat dari apa
yang mereka tentukan pada kelaminnya, bukan? Aku benci
kelaminku, Olivia. Kau masih mencintainya, seperti dulu
pernah kau yakinkan saya? Aku benci kau mencintai
kelaminmu. Aku benci karena kau ingin agar aku juga
mencintai kelaminku. Aku tidak ingin jadi lelaki, Olivia.
Kalau aku lelaki, aku juga akan membenci kelaminku.
Lagi pula lelaki tak mencintai boneka lelaki. Apakah kamu
suka boneka lelaki, Olivia? Boneka lelaki juga tak ada
kelaminnya, Olivia. Mereka lebih suka menelanjangi boneka
perempuan. Seperti mereka suka menelanjangi kita, Olivia.
Aku benci kelaminku, Olivia. Sebab kita dan kelamin kita,
seringkali hanya jadi alat, bukan?
Tiga Surat untuk Ibu Pengasuh
Rubrik Konsultasi Psikologi


1. KENAPA saya tak pernah bisa lagi menandai waktu-
waktu, Bu? Hari-hari terasa berhenti. Saya lihat kalender
hanya mencantumkan angka-angka nol dan nama-nama
hari yang tak penah saya kenali. Kenapa saya tak bisa
membedakan pagi, siang, petang, dan atau malam, Bu?
Kenapa waktu seperti berhenti, saya hanya merasakan
alam raya mengembang bersama saya. Semuanya
semakin nisbi, saya risau. Saya pernah menduga waktu
sudah mati, Bu. Alam raya kita akan jadi abadi. Saya
mengira - kalau pun tidak mati - waktu sudah sangat
letih, Bu. Saya jadi tak ingin melakukan apa-apa, Bu.
Saya merasa tak akan pernah mati. Saya merasa tidak
apa-apa menunda segalanya, toh segalanya tak akan pernah
pergi ke mana-mana? Segalanya terasa akan baka, Bu.
Saya tersiksa sekali, Bu. Saya paksakan diri saya untuk
menulis surat ini, setelah sekian lama menunda. Setelah
saya tulis pun saya malas sekali untuk mengirimkannya.
Kalau orang-orang lain ingin segera dapat jawaban, saya
sama sekali tidak punya keinginan itu, Bu.

2. KENAPA saya mual setiap kali bertemu huruf, Bu? Huruf
apa saja yang saya lihat bisa membuat perut saya bagai
dicahar. Padahal di kota besar seperti kota kita ini, mana
bisa kita tak berpapasan dengan huruf kan? Di kiri kanan
jalan tol ada baliho reklame, di jembatan penyeberangan
ada papan iklan, di baju kaus ada kata semboyan. Kata ibu
saya, saya sudah bisa membaca sejak lahir, Bu. Sebelum
saya bisa bicara. Apakah karena itu, Bu? Saya pernah
membuat huruf untuk saya sendiri, Bu. Huruf yang hanya
melambangkan bunyi yang saya mengerti sendiri. Bu, saya
selalu membayangkan hidup di sebuah tempat di mana
tak ada sehuruf pun tertulis di sana. Saya bayangkan di sana
kita akan berbahagia. Tapi, adakah tempat seperti itu,
Bu? Saya tersiksa sekali selama menulis surat ini, Bu. Tak
usah menjawab, Bu, saya mungkin tak akan sanggup lagi
membaca.

3. SAYA ingin sekali bisa sembunyi, Bu. Saya ingin hidup
sendiri. Saya ingin tidak bertemu siapa-siapa, Bu. Saya
ingin segalanya diatur sehingga saya bisa menerima
surat kabar, bahan makanan, tisu, tanpa harus menelepon
atau bertemu siapa pun. Saya percaya semuanya bisa beres
cukup dengan satu deret nomor rekening, dan ada sebuah
kartu yang bisa mengurus segalanya. Saya ingin kalau saya
sakit, misalnya, saya bisa mendiagnosa sendiri apa sebabnya.
Bukankah ada petunjuk untuk keperluan apa saja? Bukankah
memang itu gunanya buku-buku itu ditulis, Bu? Saya tidak
percaya sama orang lain. Saya percaya ada sebuah sistem
yang Mahasistem. Saya percaya semuanya bisa diatur sempurna.
Mungkin Ibulah orang terakhir yang saya percaya. Makanya
saya tulis dan kirim surat ini, Bu.

Thursday, March 16, 2006

[Ruang Renung # 135] Fiktif, Kreatif

PUISI itu karya fiksi yang sangat mempertaruhkan kreativitas. Saya kira kita harus selalu mengingat ini: fiktif, kreatif. Puisi memang sebuah wadah sekaligus isi dari rasa yang deras mengalir dari seorang penyair.

Bisakah perasaan difiktifkan? Perasaan yang menjadi sumber awal puisi harus murni. Ia bukan perasaan gadungan. Ia benar-benar ada. Ia benar-benar dirasakan. Itulah yang kemudian menjadi pahat penatah, dan sekaligus batu yang ditatah - kalau kita ibaratkan batu. Itulah yang menjadi tangan pembentuk dan liat yang dibentuk - kalau kita ibaratkan sebagai tanah liat.

Fiksinya puisi adalah fiksi beranjak dari kenyataan tapi ia bukan kenyataan. Fiksinya puisi adalah kenyataan yang diolah, dikhayalkan, dibelokkan, dirombak, dihancurkan, disusun lagi, jika ia cair maka puisi memadatkan, jika ia kasar maka puisi menghaluskan, jika ia berceceran maka puisi mengutuhkannya. Pada segala kemungkinan itulah kreativitas mengambil peran. Asyik bukan? []

Monday, March 13, 2006

Tiba-tiba Aku Amat Curiga Kau Sedang
Bersiasat Menyusun Sejumlah Tiba-tiba


Puisi Resensi Puisi Oleh Hasan Aspahani

Judul: Hujan Rintih-tintih
Penulis: M Aan Mansyur
Penerbit: Ininnawa, Makassar
Cetakan Pertama, Januari 2005

    AKU sedang dan selalu menunggu di rumah bersalin puisi,
tempat yang cemas dan nyaman menunggu harapan. --- rumah sakit yang
kubangun lama dengan cinta, dengan rindu -- ketika sebuah buku
datang, mengandung 45 puisi, dan setelah itu aku harus segera
ke kantor catatan sipil membuat akte kelahiran, di mataku lahirlah
engkau: Penyair M Aan Mansyur. Kelahiran yang sebenarnya
telah lama diramalkan. Aku seperti mengikutinya sejak datang bulan
terakhir perempuan yang mengandungnya.

    SEBUAH buku datang, membawa 45 puisimu. Aku percaya kau
telah mengandungnya cukup bulan. Kau adalah penyetubuh yang jantan.
Kau punya sperma kata-kata yang sehat dan lincah gerak.

Jika tidak, bagaimanakah bisa kau peranakkan:

kecemasan sebagai hujan rintih-rintih

cuaca selalu datang sepanas pemilu sejak subuh

gerimis tumbuh menderas,
kami tersesat di hutan-hutan hujan
mencari 'tidak', entah sampai kapan.

seorang yang tak melihat di bawah cahaya,
akan membunuh segala yang silau.


    PENYAIR itu, Aan, adalah dia yang tak nyaman hanya melihat usaran arus di muara. Ia adalah orang yang rela menempuh perjalanan seberat apapun perjalanan itu, pergi mengusut ke hulu. Ke asal segala berasal.

    PENYAIR itu, Aan, adalah dia yang membuat panggung dari puisinya lalu di panggung itu kalimat-kalimat menari, kata-kata riang berbunyi, bahkan kata yang tak paling pemalu pun tergoda untuk ikut - setidaknya mengetukkan kaki.

    PENYAIR itu, Aan, adalah dia yang tak pernah melepaskan badik dari tangan. Badik itu adalah puisi. Badik itu adalah tongkat sihir yang mengubah setiap apa yang ia tikam berubah menjadi puisi, badik itu adalah tongkat komando yang dipatuhi oleh apa pun yang ia tuding dengan perintah. Badik itu juga adalah etangkai mawar yang meluluhkan hati apa pun yang ia rayu cukup dengan sebuah sodoran lembut, bahkan juga meluluhkan hatinya sendiri. Badik itu pula yang ia tikamkan tepat ke pusat jantungnya sendiri. Lalu ia berkata, "beginilah aku memelihara tajamnya..."

    PUISIMU, Aan akhirnya di tangan pembaca yang gatal bermain, menjelma bagai plastisin. Ia bisa dibentuk jadi apa saja. Ia menawarkan permainan yang riang. Aku membayangkan sebuah bis pariwisata. Pemandu tur yang jenaka.

bis tiba-tiba berhenti,
tetapi ketika kau ingin turun tiba-tiba berjalan kembali
dan kau harus duduk lagi melanjutkan mengunyah bubblegum

siapa yang mengirim begitu banyak tiba-tiba pada
perjalanan ini, .....

    AKU suka tiba-tibamu, tiba-tiba saja. Kelak di buku-buku sajakmu berikutnya, kirimilah aku tiba-tiba sebanyak-banyaknya. Ya, tiba-tiba saja, aku semakin curiga, kau sedang bersiasat menyusun sekian banyak tiba-tiba. []

Sunday, March 12, 2006

Tiga Pertanyaan untuk Goenawan Mohamad

INI bukan puisi. Saya mengirimkannya ke Goenawan Mohamad lewat Farid Gaban. Saya tidak yakin saya tahu emailnya. Saya tidak yakin dia mau menjawabnya. Saya ini cuma apalah. Paling tidak saya sudah bertanya. Itu saja. Tak ada larangan untuk bertanya kepada siapa pun, kan? Juga kepada dia. Ini dia pertanyaannya:

1. Sekarang, tak pernahkah Anda menunjukkan kebahagiaan Anda? Saya lihat Anda terlalu sibuk dengan kecemasan. Tidak salah. Itu jalan yang bisa dipilih oleh siapa saja. Bangsa ini, bangsa yang sangat kau cintai ini - ada sahammu dalam perjalanan terbentukannya - memang sedang layak dicemaskan, tapi tak adakah alasan untuk bergembira? Salahkah kalau kita bergembira sekarang? Saya kira Tuan, ajakan untuk gembira dengan wajar sama manfaatnya seperti imbauan untuk cemas bersama-sama.

2. Menurut Anda siapa yang membaca puisi Indonesia saat ini? Menurut Anda sudahkah puisi Indonesia diapresiasi dengan pantas? Saya tidak yakin Anda tidak peduli dengan masalah ini. Saya kira saya tak perlu mengajari Anda untuk meyakinkan bahwa puisi bisa didayagunakan untuk menyembuhkan beberapa sakit ringan yang kini diidap bangsa ini.

3.Siapakah orang-orang yang menjadi penyair di Indonesia saat ini? Siapakah yang kelak menjadi penyair di Indonesia? Siapakah yang melanjutkan tradisi kepenyairan di Indonesia? Adakah tradisi kepenyairan itu? Seperti apa? Saya yakin Anda sangat peduli dengan perkara ini. Dan jika ada yang salah dengan keberlangsungan dan keberlanjutannya, mungkin ada yang segera bisa diperbaiki.[]

[Ruang Renung # 134] Komunikasi yang Ikhlas

PUISI adalah sebentuk komunikasi yang ikhlas. Dia tidak memaksa. Dia tidak menjejalkan pesan dari penyair kepada pembaca. Keberhasilan puisi ada pada seberapa ikhlaskah pesan itu diterima. Tantangan bagi penyair adalah bagaimana menyusun pesan yang ingin ia sampaikan agar diterima dengan ikhlas, seikhlas-ikhlasnya, dengan cara yang indah, seindah-indahnya. Indah, bisa dicapai dengan mendayagunakan sepenuhnya unsur-unsur puisi, sebagian, atau seluruhnya.

Manakah yang lebih enak kita terima: pesan dalam sebuah khotbah ataukah nasihat seorang teman dekat? Puisi saya kira lebih dekat pada kata-kata penyemangat dan pesan pengingat dari seorang sahabat. Tetapi khotbah juga bisa puitis. Ia bisa menyentuh. Pada kasus ini, si puisi menyelematkan si khotbah. []

Ke Medan dan Banyak Kemudian

      INI cuma sekejap kerjap, sesinggah langkah,
ia begitu terpesona dengan banyak kemudian.

      TAKDIR adalah tabir. Yang menyibak sendirian.
Telah ada panitia resmi, ada yang menguruskan,
seminar kehidupan, biro perjalanan, seperti
bagasi yang ia tunggu di ruang kedatangan.
Lalu lewat huruf yang berlari di layar televisi
ia dengar kabar bandara itu terbakar. Di kamar
hotel ia menyimpulkan: Ah, tengoklah, betapa
aku telah diselamatkan oleh sebuah kemudian.

      INI cuma sebentar antar, cuma sekerlip kerdip,
ia begitu percaya dengan banyak kemudian.

      NASIB adalah nasab. Yang menjumlah sendirian.
Ada yang sudah seperti itu saja: operasi aritmatika.
Kalkulator dengan tombol-tombol tak bernomor.
Ia hanya melihat angka-angka di layar monitor.
"Kami sudah kirim semuanya ke rekening Anda,
beritahu saja kalau sudah Anda manfaatkan,"
kata sebuah pesan. Dia balas saja sesegeranya
lewat surat elektronika: Wah, lihatlah, betapa
aku kini begitu percaya pada banyak kemudian.

      INI cuma sesakit secubit, setusuk ke rusuk,
ia begitu tersiksa dengan banyak kemudian.

      LANGKAH adalah tanda pangkah. Di formulir
petualangan. Pijak yang jadi jejak. "Adakah tabah
pada tubuh yang sisa darah? Atau telah menanah?"
Ia dengar gema, jazz mengapungi Selat Malaka,
deretan toko-toko menawarkan bika, aroma yang
menunjuk lorong pulang, artinya ke lolong panjang,
Sebab istana tak lagi menyimpan rempah. Ia tak
singgah, ia tak singgah. Hanya ingin ada sempat
menyimpulkan: Duh, bantulah, betapa aku kini,
kaki menjerat kaki, hati menambat hati, tersiksa
oleh yang tak tertebak kemudian.

Monday, March 6, 2006

SEBAB puisi, "serpihan" dari hidup ini, barangkali akan ada harganya dengan lebih menyadarkan kita, bahwa kita bukanlah cuma sebuah jendela yang menangkap satu lanskap di luar sana.

* Goenawan Mohamad, Puisi yang Berpijak di Bumi Sendiri (27 April 1960) dalam buku Kesusasteraan dan Kekuasaan, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1993.

PUISI dimulai dengan semangat dan kerinduan, dan berakhir dengan kerendahan hati. Mereka yang mencipta dengan sungguh-sungguh tahu bahwa kesenian merupakan merupakan usaha yang tak putus-putusnya. Jika seni merupakan proses dialektik -- manusia di satu pihak dan realitas di pihak lain -- dialektik itu tak kunjung habis. Hasil seni tak pernah sempurna, meskipun ia selalu ingin demikian.

* Goenawan Mohamad, Manakah yang Lebih Indah (29 Nopember 1963) dalam buku Kesusasteraan dan Kekuasaan, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1993.

DI Indonesia, di mana pedusunan terbentang seperti laut dan kota-kota hanya pulau yang terserak-serak -- titik-titik merah yang ganjil pada peta -- penyair justru tidak datang ke desa-desa dan desa-desa tidak datang kepada para penyair. Kepenyairan hanyalah posisi yang tak jelas dari orang-orang kota.

* Goenawan Mohamad, Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang dalam buku Kesusasteraan dan Kekuasaan, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1993.

Nocturno

Sajak Tomas Transtromer

Aku menangisimu malam itu, rumah
sesak hingar suara jalanan, kami terbangun
dan limbung. Rumah, cahaya, berkakuan,
pakaian perempuan di lantai, inilah pulau
kehidupan kita. Lelaki membelalaki aku

pada cuaca yang gagal, menghabiskan
uang sebatas uang untuk ikan dan unggas.
Jalan jatuh ke nestapa lebih ringkas daripada
jalan menjauhinya. Desa itu pasang mata
pada misteri terlarang, misteri tak termasuki.

Di luar taman ada gerbang menyembunyi
buah melon dalam baju belang. Langkah
kita riuh mendekat tuju ke musim dingin.
Ada teater kebisingan dan kecupan. Cinta itu
tak pernah masuk akal! Tahu, burung tahu.

Aku menunggu musim panas, aku ingin
bikin gereja dan ruang sekolah tanpa jam,
jendela membuka ke angin. Di musim semi
tak ada mimpi tentang samudera, kita sudah
lupa untuk memulai dengan kemaafan.


Nocturne

I cry to you in the night, the house
full of street sounds, we're awake
and drunk. House, light, stillness,
women's clothes on the floor, this is
our island life. Men stare at me

in the fruitless weather, spend
their hard money on fish and fowl.
The way into pain is quicker than
the way out of it. The village keeps
track of forbidden mysteries.

Outside in the garden a gate hides
melons in striped clothing. We
tread loudly toward the winter.
There is theatrical noise and kissing.
Love isn't reasonable! The birds know.

I wait for summer, I want to build
churches and schools without clocks,
with windows open to wind. In spring
there is no dreaming about the sea,
we have forgotten to begin with forgiveness.
ENGKAU tak bisa bersandar pada matamu ketika imajinasimu tak lagi fokus.

* Mark Twain, pengarang Amerika.
SEORANG penyair Indonesia pada hakikatnya telah berjalan jauh sekali dari sekitarnya, ketika ia sampai pada posisi yang sadar, bahwa ia adalah seorang penyair.

* Goenawan Mohamad dalam Potret Seorang Penyair Muda sebagai Si Malin Kundang, dalam buku Kesusasteraan dan Kekuasaan, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1993.

Saturday, March 4, 2006

Tak Tahu Sebab, Apa Sebab,
Kita pun Lupa Berbagi Jawab



INI perahu pun terus berlayar. Kita jauh terlempar.
Pada pulau tak lagi berkabar. Kita jatuh terdampar.

Jejak dikejar ombak, lalu kaki lekanglah langkah.
Pantai ditolak lambai, maka hati palinglah arah.

Batang-batang kelapa rebah, menjemput tangan laut.
Tiang-tiang dermaga patah, kita rubuh, disentuh maut!

Manakah kapal? Mana kapal bersandar menjemput?
Hanya ada rusuk kayu, sauh patah, di lumpur surut.

TANPA laut, kita hanya duduk di warung lapuk, para
nahkoda mabuk, pada kemudi tak sampai lagi peluk,
menenggak kerak arak, membiarkan bulan bengkak,
lalu lukanya pecah, hujan nanah, kota dikutuk sumpah.

Ah, kita sudah lama piatu ditinggal Bapa Pembuat Perahu,
yang khatam mengajarkan arah angin: 360 mata penjuru!


TANPA kapal, kita hanya bertaruh, mengadu kayuh,
kelasi-kelasi lumpuh, yang tak ketat lagi memeluk badai,
tali tali cuma meliliti leher, tergantung di tiang: layar patah.

Ah, kita sudah lama yatim, ditinggal Ibu Penggambar Peta,
kini, tak tahu sebab, apa sebab, kita pun lupa berbagi jawab.

Friday, March 3, 2006

Penyair Hebat Dapat Hadiah Rp900 Juta!

The Wallace Stevens Award diberikan sejak tahun 1994 kepada penyair yang dinilai sudah mencapai tingkat estetika tinggi. Hadiahnya US$100.000. Atau senilai Rp900 juta (pada kurs Rp9000 per dollar AS). Wow!


INDONESIA memerlukan lembaga semacam Academy of American Poet. Lembaga apakah ini? Inilah sorganisasi nirlaba dengan misi mendukung penyair-penyair Amerika pada semua tingkatan karir kepenyairannya dan membantu mendorong apresiasi puisi mutakhir.

Akademi ini dibentuk tahun 1934 di New York City dan resmi dibentuk sebagai organasisasi nonprofit pada tahun 1936. Marie Bullock, ketika masih berusia 23, mendirikan lembaga ini dan kemudian ikhlas menjadi ketuanya selama 50 tahun kemudian. Selama lima puluh tahun pertama itu Bullock menjalankan roda organisasi Akademi dari apartemennya, dengan pusat perhatian pada program utama memberi penghargaan-penghargaan kepada para penyair.

Ketika Bullock kembali ke Amerika setelah selesai belajar di Sorbonne, Paris, dia cemas melihat betapa puisi tidak dipedulikan di Amerika. Dia memahami keterbataskan dukungan keuangan bagi penyair-penyair Amerika dan tahu sendirilah bahwa kehidupan menyair di Amerika saat itu juga tidak menjanjikan kehidupan yang makmur - persis seperti di Indonesia saat ini. Maka dia pun memutuskan untuk ambil aksi. Dengan bantuan sejumlah kawan penyairnya, Bullock pun mulai mengumpulkan dana menghidupkan puisi dan membantu kehidupan para penyairnya.

KINI untuk memenuhi janjinya "mendukung penyair-penyair Amerika pada semua tingkatan karir kepenyairannya", Akademi ini menyelenggarakan tujuh penghargaan sepanjang tahun, dari penghargaan untuk "buku puisi pertama" hingga "penghargaan pengabdian hidup kepada puisi". Juga hampir 200 Hadir untuk Pelajar di sekolah di seluruh Amerika.

The Wallace Stevens Award diberikan sejak tahun 1994 kepada penyair yang dinilai sudah mencapai tingkat estetika tinggi. Hadiahnya US$100.000. Atau senilai Rp900 juta (pada kurs Rp9000 per dollar AS). Wow!

Ada juga The James Laughlin Award yang diberikan untuk buku penyair yang menerbitkan buku keduanya. Bagi penyair yang belum pernah menerbitkan buku puisi ada The Walt Whitman Award. Hadiahnya uang kontan US$5,000, dan menjadi tamu sebulan penuh di Vermont Studio Center. Syaratnya, yaitu tadi, belum pernah menerbitkan buku puisi, naskah buku puisi pemenang diterbitkan oleh Louisiana State University Press dan didistribusi ke anggota Akademi.

Penerjemahan puisi pun diberi perhatian penting. Adalah Harold Morton Landon Translation Award. Hadiah senilai US$1.000 ini diberikan kepada penerbitan puisi terjemahan dari bahasa apapun ke bahasa Inggris. Digelar dua tahunan sejak 1976. Lalu pada tahun 1984 digelar saban tahun.

Dan untuk bagian lain dari misinya - "dan membantu mendorong apresiasi puisi mutakhir" lembaga ini menyelenggarakan sejumlah program seperti mengelola situs Poets.org, sejak tahun 1997 dan sekarang dikunjungi 400.000 pengunjung tiap bulan; juga menetapkan April sebagai Bulan Puisi Nasional, sejak 1996 dan kini inilah perayaan yang ditahbiskan sebagai perayaan puisi terbesar di dunia; kursus puisi online yang menyediakan kurikulum puisi dan perangkat pengajaran lainnya.

Lembaga ini juga mengarsipkan pembacaan puisi yang kini jumlahnya 500 rekaman sejak tahun 1960, serta tentu saja majalah puisi yang terbit dua tahun sekali: American Poets.

INDONESIA memerlukan lembaga semacam Academy of American Poet!