Monday, March 31, 2003

Ada Bikini di Kamar Mandi







/1/



DI kamar mandi yang sungguh khidmat

kuintip telanjang sukmaku, dengan mata

puisi yang tersembunyi di balik cermin

yang ternyata memperdayaku selama ini.



LHO? Mana satu-satunya jeroan yang kemarin

masih aku sisakan?



/2/



AH, akhirnya kau datang juga, wahai tubuhku.

Kuucapkan saja selamat kembali, Saudara.

Pakailah kembali sukma telanjang ini, setelah

kau mengembara tak tentu arah, kesana kemari,

dari mimpi ke mimpi.



KAU pasti letih, Saudara. Dunia di luar sana

memang sungguh jalang bukan alang kepalang.

Banyak yang tega tak terduga-duga, bukan?



/3/



ADA sepotong tubuh tertinggal di balik bikini,

tergantung di kamar ganti, eh, kamar mandi.

Siapakah tadi yang ceroboh keluar masuk

di bikini ini, di kamar mandi ini, sampai lupa

mengenakan tubuhnya kembali?



/4/



KALAU tubuhmu danau telanjang, hanya

ditutupi selebar daun teratai dan sejumput

kiambang, siapa yang tak tergiur ingin berenang?



SST, ada mata jalang, burung elang, mengintip

di balik dahan pohon banuang. Lalu, dikabarkannya

kemolekan kau gelombang, kepada alang-alang,

kepada belalang, dari padang ke padang.



LALU mereka yang tak bisa terbang, terjun

saja ke dalam ketat peluk bayang-bayang.



April 2003

Sunday, March 30, 2003

On The Breaking News, 3



bolehkah kulaporkan kabar ini dengan air mata saja?



tapi akulah air mata itu, menetes dari tangis letih

anak-anak yang terusir dari peluk buai ibu-bapa.



bolehkah kulaporkan peristiwa ini dengan diam saja?



tapi akulah diam, satu-satunya daya yang tersisa

di bawah hunus senjata berpeluru darah berbisa



bolehkah kulaporkan fakta ini dengan rintih saja?



tapi akulah sakit luka yang menyimpan lirih rintih

suara yang ditindih iklan rokok dan jins buatan USA.



Mar 2003
On The Breaking News, 2



ada yang berlari, jejak-jejak tank lapis baja dan sepatu lars tentara

ada badai yang mengajakku menari di gurun-gurun berbatu letih ini

ada cadangan minyak di tubuhku (fosil darah sejarah diragi waktu)

ada petani tergesa memanen tomat yang berakar lebat di humusku

ada yang tak sempat dikubur, kering genang merah, pecahan peluru



tak ada yang bertanya padaku, bagaimana harus melaporkan semua

itu di depan mata hatimu, di siaran prime time, langsung di layar TV-mu.



Mar 2003





On The Breaking News, 1



Subuh tadi, telah kutembus jantung

seorang serdadu, tepat di detaknya!



Seperti masih sempat kudengar, jeritan

terakhir itu (Tuhan juga yang diseru..)



di depan TV, saat tayangan ini, adakah

yang menangisi cerita sia-sia ini?



(Baiklah, Pemirsa, kusebut saja

: namaku peluru. Kukutuk senapan otomatis,

tapi siapa yang menarik pelatuk picu?)



Mar2003





Friday, March 28, 2003

Keroncong Pemakaman



Pulang dari pemakamanmu, aku



membawa sekepal lempung

bekas galian liang kuburmu.

Biar beginilah kukenang kesedihanku.

Dulu kita suka menempa mainan

bersama. Gumpal liat lalu jadi apa saja:

hiu, raksasa, huruf X, tentara, biji mata,

kaki kiri, apa saja (kecuali bunga-bunga).



Pulang dari pemakamanmu, aku



melihat langit, ada banyak

sekali julur bentang benang

tanpa layang-layang.

Mungkin beginilah cara engkau

menegur kemuramanku.

Ada sisa kertas minyak, buluh

belum dipotong sama panjang,

lem kanji mengering, eh ada

yang putus (tak sempat mengerang).



Pulang dari pemakamanmu, aku



pulang ke rumah pantai, rumah yang

mengasuh anak-anak imaji kita,

ombak kembali ke laut, pasir

menggambar sendiri: bentuk-bentuk

yang amat kukenal, tapi kini

tak lagi sepenuhnya kumengerti.

Jejakku jekakmu, di sana kejar mengejar.





Mar 2003

Thursday, March 27, 2003

/Koktilusi/

Hasan Aspahani



sebotol mimpi - sekotak nyeri - tak ada pilihan - segenggam gigil - segalau igau - sebancuh sunyi dan jampi-jampi - fffuaah! - maka sebentang diam - panah terengah - gagal menikam jantung bulan - malam pecah - gelap tumpah ----------- (ada yang tak ingin kembali.......)



Mar 2003



Note: Sajak Heri "Ompie" Latief berikut mengilhami sajak di atas. Thanks Ompie.



/KOKTIL/

Heri Latief



dua botol bir, sebotol manson, sekotak lechi, segenggam es batu,

koktil malam ini? sunyi, jadi jampi-jampi. pilihan hidup semakin

ngeri. mabuk, diantara keramaian pasar malam. diam. memanah rembulan,

mencuri mimpi. kembali sepi.

Monday, March 24, 2003

Keranda di Kolong Rumah



Ayo, mari kita bunuh diri!



Jangan kau anggap serius ajakan ini,

kita toh sudah berkali-kali mati?

Saat itu kita belum siap dengan puisi

hanya sempat nulis janji saling ziarahi.



Mari kuajak lagi: Ayo, main mayat-mayatan!



Ada banyak keranda di kolong rumah,

tempat favorit untuk sembunyi dari penagih cicilan umur.

Di sana sering juga kita telanjur tertidur.

Sampai terjaga, tiba-tiba, dibangunkan hidup yang ngelindur.



Ayo, kita terus terang saja!



Mana yang lebih OK: hidup pura-pura atau mati sebenarnya?

"Ada pilihan ketiga," katamu, "yaitu pura-pura yang sebenarnya..."

Kita ngakak, dan sejenak benar-benar jadi lupa

ini kuburan umum, ada tanda disana: dilarang pura-pura tertawa.



Mar2003

Sunday, March 23, 2003

Pada Akhirnya Hanyalah Doa



negara - pesawat tanpa awak - teluk persia - tim inspeksi - tomahawk - agama - laut merah - baghdad - sky TV - raja hamurabi (1792 M) - kuwait - ultimatum - resolusi 1441 - pearl harbor - gurun - ekonomi - partai baath - headline - demo antiperang - euro - harga minyak - pidato - kurdi - israel - kofi annan - 120 km selatan karbala - tank T-72 - walker - arab - iraqi petroleum company - penjara - nasser - 500 anak tewas - kolonialisme - obat - gerbang tuhan - laut - khomeini - al jazeera - doa - doa - kamera - artileri - peta - laporan khusus - yordania - patriot - doa - petualang - peluru - logistik - langit - tirkit - pasir - ledakan - jerit doa - asap - radar - teroris - newsweek - halaman 1 - bendera - doa - siapa? - 125 knot - doa - 1.000 rudal - tapal batas - doa - mati - sirine - sepatu lars - masker - api - doa - helikopter sea king - hulu ledak - navigasi - jenderal - senjata kimia - doa - peta - langit - doa - doa - peta - langit - langit - doa - peta - doa - langit - doa - doa - doa - peta - peta - langit - doa - doa - doa - doa - do - a - ku....



Mar 2003

Saturday, March 22, 2003

Senjata yang Tak Lucu



Ada senapan menyeringai tak lucu,

cuh! meludahkan peluru ke wajahku.



Mar3003









Thursday, March 20, 2003

REPORTASE dari TELUK



1

suatu hari di antara arus eftrat dan tigris

sekawanan lebah mengumpulkan nektar darah

amis madu bangkai-bangkai sejarah serdadu



2

dendam yang merecup subur di ladang-ladang

hitam mesopotamia, siapa yang menuainya?

eh, ada kupu-kupu bersayap besi dan peluru



3

dengung capung, "aku sisa evolusi berabad-abad

kusinggahi sudah samarra, ur, niniveh, baghdad

ada yang terlupa pada piktograf dan babad-babad"



4

lalu datanglah melayat berjuta-juta lalat

taman babilonia terkubur unggun mayat

wahai kitab suci, bisakah ayatmu diralat?



5

maka dikabarkan lewat dongeng semut-semut

penaklukan yang luput di padang-padang rumput

meninggalkan remah racun dan mesiu tak tersulut



6

dalam bahasa serangga, mari kita simpulkan

dalam rumah manusia bernama peradaban

perang adalah rayap yang riuh meruntuhkan



Mar 2003

Tuesday, March 18, 2003

Setelah Sebuah Sanggama

1

Pada genangan peluh dan sperma,
kita mengaca sia-sia. Tak ada
wajah kita di sana: cuma doa berdusta.
Dan dosa.

2

Seusai sebuah sanggama,
kau masih juga suka iseng bertanya:
tentang cinta.
Aku tak pernah
menjawabnya, cuma bercerita,
(dongeng iblis dan ular sanca).
Dan kau tak percaya.
Aku juga.

3

Kita regangkan pelukan, juga tatapan
membagi dua lagi: tubuhmu dan tubuhku,
mengenakan lagi wajahmu dan wajahku.

Lalu kita bermimpi dua versi,
kau mengigaukan sprei yang harus dicuci,
aku? menuntaskan mandi puisi tak jadi.

4

Jangan berterima kasih, katamu,
sebab kau juga menikmatinya.
Kataku, "namamu siapa?"

Jangan juga minta maaf, katamu,
karena kau dan aku sama salahnya.
Kataku, "kita di mana?"

"Bisikkan saja cinta, bisikkan saja,"
meski kau tahu itu tak lebih dari dusta.
Aku cuma diam, diam yang juga berdusta.

5

Selalu ada yang makin erat terjerat,
ketika luncas jua engkau kulepas.

"Tuangkan, tuangkan semua," tubuh
yang dahaga lagi mengerang meminta.

6

Di luar, sepi menyentuh jendela kamar
Di hati, mengusap tajam ujung nyeri

Mar 2003


/setelah sebuah singgasana/
Yono "Jibsail" Wardito

pada kenangan buluh dan purnama
kita membaca sisasisa. tak ada doa kita disana: cuma wajah berdusta.
dan Noda.

Note: Reply ini disalin dari milis penyair (20/3), dengan catatan dari penyair, "yang lainnya gak kulanjutin, soalnya ada kata 'cinta' nya. Hehe!"

Monday, March 17, 2003

Kata yang Ingin

Sendirian Saja

dalam Puisi Ini






biar...





Mar 2003
Bahasa Paha Ludah Buaya



baiklah kita bicara dengan bahasa paha

ada bekas parut di sana, sisa luka ketika

belajar naik sepeda, di lidahku juga

ada kunat yang sama, kau tak mendengar

kuucap sakitnya, kita sudah bisa bersepeda,

tapi sampai sekarang kita tak juga

bisa bicara sebenar-benarnya, kecuali

dengan bahasa paha.









baiklah kita bicara lagi dengan bahasa paha

ada seksologi ngangkang dalam tas sekolah,

mari kita belajar menangkap buaya, kita

murid abadi yang tak bisa lulus ujian, ketika

meneken ijazah kita malah sudah pandai melata

dan jadi pencinta carnivora, mengenal segar daging

yang hidup di lidah kita, juga bau pangkal paha



baiklah kita bicara dengan bahasa paha saja

nilai-nilai pelajaran kita sudah didongkrak,

kita pandai membuka paha dan kita boleh bangga:

mari kita tes kehamilan saja, mari buka paha

siapa saja, ada urine dan sperma mengalir jauh

sampai ke paha siapa saja, ada buaya yang netes

air ludahnya: kita!



Mar 2003

Saturday, March 15, 2003

Konversasi dengan Bayang-bayang, 2



ketika ada dia yang pamit diri,

yakinkah dia sungguh hendak pergi?



ketika senja pamit, yakinkah ia tak

lagi tenggelam bersama matahari?



aku tak tahu, sebab pagi terlalu lama,

dan siang seperti enggan lagi berkelana



episode rintik adalah tangis matahari,

adalah sinandung rindu rembulan ini



karena itu kubiarkan payung kuncup,

sebab tangis matahari, dan rindu rembulan

telah lama kunanti dalam ini perjalanan.



Mar 2003











Thursday, March 13, 2003

Konversasi dengan Bayang-bayang, 1





apa yang mengeras di kepalamu, saudara? belulang

apa yang mengalir dari beku pikirmu, saudara? imaji

apa yang membeku dari deras jantungmu, saudara? tualang

apa yang melaju dari pendam diammu, saudara? emosi



gelegak

terkubur

mengabur

mengabu

mengabut

melumuti

waktu



baiklah, aku tak akan bertanya pada siapa-siapa lagi:

simpankanlah semua jawab, diamkanlah semua sebab





Mar 2003
/Pernikahan Badai/

Hasan Aspahani



sudah kunikahi ombak dan sampan, lalu

kulayari nganga kawah luka nuju dalamnya

hingga kelak kami terkubur di damai badai



telah lama kulipat layar karena sejak

aku mampu mendayung pedih sakit perih

tak pernah kuharapkan mata arah angin



Mar 2003







/perkawinan/

Medi Loekito





jika lembut ombak

mengguncang sampanmu

menepilah

cari dan sembuhkan lukanya



jika angin badai

membelai sampanmu

berlayarlah

hadapi dan taklukkan hembusnya





* Note: Dikutip dari milis penyair 12 Maret 2003.

Wednesday, March 12, 2003

Sebuah Kartu yang Mengucapkan Selamat Ulang Tahun



sebuah kartu datang padaku, teronggok begitu saja

di hadapanku pada hari yang bersamaan tanggal dan

bulannya dengan tanggal dan bulan lahirku...(tentunya

harinya berbeda, eh, tak tahu juga ya, soalnya aku

bahkan lupa hari lahirku kamis atau selasa)


sebuah kartu datang padaku, dan aku menebak-nerka

kartu ini dari siapa ya? sebabnya, aku tak pernah merayakan

apa-apa, apalagi mengundang orang hanya untuk nyanyi-nyanyi

sambil tepuk-tepuk: happy birthday to you, lalu orang-orang itu

menyaksikan aku meniup lilin, dan memotong kue tar..(nah, jadi

kartu ini dari siapa ya?)




tak banyak teman yang tahu tanggal lahirku (atau bahkan tak

ada sama sekali yang tahu, tepatnya lagi tak ada yang peduli

karena toh aku juga tak hirau dan tak mengistimwewakannya)




sebuah kartu datang padaku, baiklah, kuanggap saja ini datang

atas nama dirinya sendiri. sesekali boleh kan begitu. kasihan juga

jadi kartu itu, karena harus selalu jadi alat mengantarkan ucapan.

mungkin dia memang ditakdirkan begitu barangkali? dicetak untuk

diperalat seperti itu?



sebuah kartu datang padaku, dan aku tak ingin menebak dia

dikirim oleh Tuhan. iseng amat sih Tuhan mengirim kartu segala.

memangnya aku ini siapa? kalau memang aku hendak diberi

peringatan tentang umur, kenapa harus ikut-ikutan memperalat kartu?

Tuhan, Tuhan, sampeyan kok ada-ada saja. aku sebenarnya

sudah merasa tua pada usia 7 atau bahkan 5 tahun dulu. dan

kini di usia yang lebih dari 2 digit kepala 3, aku bahkan tak

membedakan tua atau muda. (aku tak mau memperalat dan

diperalat usia. tahu maksudnya?)




atau jangan-jangan memang Tuhan, ya? (ketika terlintas pikiran

ini lagi, aku langung merobek-robek kartu itu).
aku takut jangan-

jangan nanti ihwal kartu ini bocor ke teman-teman pers, atau beredar

di milis-milis. tahulah, zaman ini apa saja bisa dihembus-gelembungkan.

nanti aku disebut-sebut sebagai Nabi, yang dapat wahyu dari Tuhan lewat

sebuah Kartu. nah,



bisa runyam kan?



Mar 2003

Monday, March 10, 2003

Krayon 36 Warna



ssst, lihat, anakku, ada yang dirahasiakan

oleh krayon pastel itu, 36 warna warni itu



mawar dipeluk merah, tweety pada kuning sembunyi

kodok nyelam tenggelam dalam hijau, dan bunglon itu

menyelinap kesana kemari, ke jingga ke magenta



nah, anakku, sekarang lekas ambil buku gambar kita

agar tampak wajah-wajah jenaka: mereka harus dirayu



Mar2003



Kepada Hasan: Catatan 9 Maret



sudah kan? nama siapa lagi yang hendak kau sebut

ke derajat mana menujukan hasrat yang tak surut



kaki toh akhirnya kembali ke setelapak jalan sendiri

peta yang tak sempat digambar hujan di hutan (hati)



akhirnya, kau hanya ingin sebuah pagi buka tingkap

hidup yang amat biasa: ada matahari menyapa karib



Mar 2003



Saturday, March 8, 2003

Puisi Sia-sia, Airmata Sia-sia



: petisi menentang perang, make poems not war



aku melihat bicaramu di televisi (tak kutemu, mesti letih

mencari alasan untuk bersetuju dengan hujjahmu)
aku menyimak

persiapan laskarmu (tapi tak dapat meyakinkan aku siapa

sebenarnya musuh yang pantas dimusnahkan)
aku melihat

dendam menghitam di wajahmu (kenapa kami harus mencoreng

juga arang di wajah puisi? terbakar pawaka yang kau sulutkan)




aku mencatat adegan mereka memeluk anak isterinya (senjata

yang kau hunus entah berpamitan pada siapa?),
aku mendengar

deru kapal peluru mengarung laut ke peluk teluk mauk (tuan, bahan

bakarnya ditambang dari negeri yang hendak kau hancurkan itu kan?)


aku melihat tanggal ancaman yang kau lingkar dengan jumawa

(patera luruh dari pohon almanak tua sejarah manusia)



aku membaca lagi puisi ini (lalu terasa sangat sia-sia menuliskannya)

aku mencari kata yang hendak kubisikkan ke hatimu (hanya lirih, pawana

yang ringkih berhembus tanpa sebisikpun kata, hanya sedih, basah mata

yang menitik kukira darah ternyata cuma air mata yang sebenarnya

kupersiapkan luruh kelak saat datang duka maha duka, lalu tiba-tiba aku

merasa sia-sia meneteskannya)




Mar 2003

Friday, March 7, 2003

Dansa Pena Tari Jemari



ketika kata luka sedalam dada puisi

darah tertadah dalam bait-bait tabah



ketika kata gundahi sehari hati puisi

keluh tersusun dalam bait-bait santun



ketika kata dituding di wajah puisi

maki terpejam dalam bait-bait redam



ketika kata berlari ngejar puisi

bertemu di dansa pena tari jemari



Mar2003



Note: Puisi Ben Abel berikut ini mengilhami puisi di atas.



Membayang Jemari Pena

Ben Abel



benarkah, kata benar seperti tertatah

bukankah ia hanyalah gelepar gelisah



lumatkah semua gelisah oleh kata

yang menari dari belah jemari

tertoreh seperti ini



dan kata menanti seribukali menuding kini

bukankah ia hanyalah luka yang kau bawa berlari





Pesan Dalam Botol Retak



(bekas tulisan tak terbaca)....bukan penyair,

hanya surat dalam botol ini satu-satunya yang

pernah kutulis, mohon jangan kau sebut ini

puisi (kata ini dicoret-coret tapi masih terbaca)

...sebab hembus angin adalah ...(tidak jelas, seperti

bekas tinta luntur oleh air asin).
..hempas ombak

adalah...(lubang pada kertas surat)... pasir pantai

adalah ...(ada bekas lumpur)...tak perlu kata untuk...

(lagi-lagi tak bisa dibaca)



jika kau membaca pesan ini, maka .... (di sini

kertasnya terkoyak lapuk)




Mar2003



Thursday, March 6, 2003

Kau Kunang Aku Bayang



engkaukah? cahaya yang tak lelah menjelajah

ribuan tahun ruang hampa lalu sampai di

mataku maka kusebut sebagai bintang dan

engkau membantahnya, "bukan!"



aku bukan apa-apa bukan juga sia-sia



engkaukah? cahaya yang hidup sekerlap di daun

daun bakau yang kerap tersesat ke dalam kelambu

tidurku menjelmakan ranjang masa kecil jadi

ruang angkasa yang kujelajahi dengan mimpi



ya, akulah kunang-kunang, dan kau? bayang-bayang!



Mar2003



Note: Reply berikut ini disalin dari milis penyair. Thanks, Nanang.



TAK LAGI KULIHAT KUNANG-KUNANG

Nanang Suryadi



tak lagi kulihat kunang-kunang terbang di malam hari berkedip-kedip

seperti dalam malam kanak-kanakku dulu tak lagi kulihat kunang-kunang

di kota yang penuh polusi ini



orang-orang bilang padaku waktu itu kunang-kunang menjelma dari kuku

orang-orang mati yang di kubur di makam di dekat ladang belakang

rumahku



kunang-kunang beterbangan dalam puisi hasan aspahani, mungkin sheila

suatu ketika bertanya: abah, apa itu kunang-kunang? tapi batam bukan

kampung halaman di pedalamanan



depok, 2003
SAJAK OMBAK, SAJAK PASIR, SAJAK ANGIN









Note: Ibnu di Pontianak terima kasih atas puisinya yang inspiratif. Untuk Nanang di Jakarta terima kasih juga atas permainan yang mengasyikkan ini. Untuk pasir, ombak dan angin serta Tuhan yang memberi daya imajinasi: TERIMA KASIH----HA



/Kepada Ombak Kepada Angin/

Hasan aspahani





kata pasir kepada ombak, cemburu bukannya aku tak hendak

bukankah engkau yang mengantar pesan dalam botol retak?

kita pun bersama menebak-nebak siapa yang datang kelak...





kata pasir kepada angin, iri hati bukannya aku tak ingin

bukankah engkau yang menghapus seluruh jejak jejak kemarin

lalu membiarkan aku tertawan di bawah matahari yang lain...







/Tapi Aku Cemburu/

Nanang Suryadi



tapi ia membangun rumah menulis namanya di tubuhku, kata pasir

tapi aku cemburu, kata ombak



ya ya aku juga benci dia, kata angin badai ikut menyela

lalu dirobohkannya rumah pasir dengan deru anginnya



di atas pasir dicoretkan kembali namamu

di atas pantai dibangun kembali istana pasir mimpimu



walau berulang ombak dan angin

bersekutu menghapus dan meruntuhkan



rindu dan cinta itu tetap untukmu







/Akulah Pasir/

Hasan Aspahani



akulah pasir, akulah bunga yang dipetik ombak

dari karang lalu kubentang pantai butir demi butir



akulah pantai, akulah dada yang dituju rindu ombak

yang datang dengan lelah marah lalu takluk peluk demi peluk







/Lekas Catat Namaku/

Nanang Suryadi



"lekas catat namaku, sebelum ombak menghapusnya, karena cemburu"



di pasir yang basah di fajar yang rekah kau tulis nama

sebelum ombak menghapusnya, karena cemburu







/Bunga Pasir/

Ibnu HS



jika kau kembali

entah suatu

ketika nanti

bawakan sekeranjang

bunga pasir

dari pantai tempat

dulu kita simpan

kesetiaan

di karang-karang



juga nama

-nama yang

barangkali

tak sempat dihapus

gelombang

karena selalu saja

ada yang tersisa

sebelum

menjadi sia

-sia

.



Wednesday, March 5, 2003

sunyi sendiri diri sendiri kosong sendiri



(re: Malam/MJ)



memang sejak kuhalau bayang-bayang

malam telah jadi rumah yang selalu

pulang ke hati membagi senyap sunyi



aku sungguh tak pernah betah di rumah ini

(gelap yang tak mau nyebut ihwal identitas)

memang dia cuma gerak sendiri rotasi bumi



semesta membekap semua suara bisu sempurna

mungkin di situ rumahku ke situ pulangku

sunyi sendiri diri sendiri kosong sendiri



Mar 2003

Tuesday, March 4, 2003







Siapa Kau Sebut Saat Ejakulasi?



(re: Deja vu Rumah Makan/TS Pinang)



mari sini, sayang, redamkan debar dadamu (gemuruh hendakku)

gelombang dalam mimpi angin (dalam igau sepasang berahi)



pulangkan saja ke gugur gunung (di sana pasti ada senyawa kimia)

masih ada gravitasi di kaki (juga di dada dan kelamin kita)



siapa kau sebut saat ejakulasi? (nama itu tak dipasarkan lagi)

kehamilan amat kita rindukan (di rahimmu juga di rahimku)



biarlah lahir anak-anak yang nakal yang bengal yang menolak

diberi nama puisi (mereka mengasah kata bersiasat membunuh kita)



kita menggigil kita mengigal (memuncakkan seluruh dansa sanggama)

melepas peluk sebelum cinta bahang (kita harus terus mendaki)



Mar2003





Monday, March 3, 2003

Bunuh Aku Tikam Jantungmu



(re: Obsesi Tengah Malam/Ibnu HS)



akulah puisi yang tak letih-letih

melahirkan dan membesarkan engkau



jika malam ini, hendak kau bunuh aku

cintaku padamu pun tak akan terbagi



tikamlah jantungmu, penyair, sebab

selama ini aku toh tak pernah beranjak



: dari situ!



Mar2003





Yang Menderas ke Hulu Jantungmu



(re: Pada Sajak/Arwan Maulana)



sakit mengalir ke muara

kataku, menderas sungai-sungai

puisi ke hulu jantungmu



jerit menggelora di ombak

kataku, meluas bentang jadi

samudera puisi menenggelamkanmu



sepi meninggi ke langit

kataku, mengimaji cakrawala

tak berbatas mengurungmu



luka melancip di pahat

kataku, menyihir batu-batu

jadi candi samadhi sakitmu



air mata merendam gigil

kataku, tak tuntas jua

mengajari hidup kau aku



Mar2003

Sunday, March 2, 2003

memekar bunga duniaku

pada kelopaknya damai cinta

kesumat, uh, jangan beri tempat



Mar2003








Dari Debu Tak Akan Ada Kabar



aku memang tak akan sampaikan kabar,

setua apapun debu di jendela kamar



angin menitipku di surai kuda yang ngembara

abadi di padang-padang tak bernama



aku rindu hujan dan mekar bunga rumput,

hujan yang kelak menguji jawab kusebut



Mar2003
Parfum Mengetuk Jantungmu



akulah pintu yang mengetuk jantungmu yang tak sempat menjerit setiap kali kau getarkan bibirmu setiap kali kau lipatkan lidahmu, tak pernah ada sampai suara, maka kubayangkan saja: kau menyebutku dalam rangkai doa-doa



akulah wangi parfum yang kau sekap di botol-botol yang senantiasa berharap menjadi butir terakhir yang menyentuh dadamu, aku nikmati seluruh rindu dan cemas itu: di sini bisa terus kuulur waktu, di tubuhmu kematian menunggu



Mar2003
Sajak Berkait: Lima Untai



masih tergema suara pantai aus

digerus ombak tak putus haus

dalam kenang tak lekang tak pupus

kelak kusebut ia cinta yang tulus



digerus ombak tak putus haus

ombak yang nyerah di akar bakau

kelak kusebut ia cinta yang tulus

yang kumuliakan hanya bagi engkau



ombak yang nyerah di akar bakau

zuriat udang-ikan beri riwayat panjang

yang kumuliakan hanya bagi engkau

nama yang kugambar di pasir di awang



zuriat udang-ikan beri riwayat panjang

di pucuk sunyi, suwung dengung uir-uir

nama yang kugambar di pasir di awang

semakin menegas ditimpa seribu arsir



di pucuk sunyi, suwung dengung uir-uir

ditingkahi sinar senang kunang-kunang

semakin menegas ditimpa seribu arsir

kian menyosok dipeluk bayang-bayang



Mar2003



















Belum Ada Puisi untuk Gambar Ini