Saturday, December 13, 2003

Potret Penyair Sebagai Ayam Betina






1.



Di dekapan sayap dan dada, dinyalakannya lampu menghangatkan kristal-kristal yang satu demi satu ditelurkannya dengan cinta. Ada kata yang belajar hidup di dalamnya, yang kelak memecah cangkang cahaya, menjemput takdir: disulap menjadi puisi-puisi kecilnya.



2.



Selesai sudah tugasnya mengeram. Makhluk-makhluk lembut yang hendak disebutnya puisi itu berebut punggung melatih cakar dan kepak, berebut paruh mematuki suara-suara. "Hati-hati, anak-anak. Di semak ada biawak, di awang ada elang."



Des 2003