Wednesday, February 4, 2004

Sajak Ini Kuberi Judul: Buku






Book Nude, oleh Howard Kanovitc, 1979, 33 x 24, litograp pada kertas.





/1/



Pada hari ulang tahunku, ada yang memberi kado

: sebuah buku. Aku terkejut karena ternyata

ada engkau dalam kado itu.



"Selamat ulang tahun, ya," katamu.



Sejak saat itu, kau dan aku,

menjadi kekasih abadi.



Sehidup.

Semati.



/2/



Engkau, Sayangku, adalah buku,

aku membaca matamu tak jemu.



Sampai kau bilang, "Sudah ya,

aku mau memejam dulu..."



"Ya," jawabku - sambil diam-diam

berharap kau mengajakku tidur

bersamamu. Dan membayangkan

halaman paling rahasia dari dirimu.



Halaman yang hanya bertulisan

sebuah kata, yang kau sendiri,

belum pernah membacanya.



"Mungkin saja, itu hanya teka-teki.

Yang sudah kau tahu jawabnya. Kau,

silakan menebak apa pertanyaannya..."

katamu pada suatu hari.





/3/



Di Toko Buku.



Aku sering tersesat ke masa lalu,

menjadi bocah nakal lagi,

berlarian tanpa sepatu,

berguling-gulingan di lumpur,

memanjat pohon kedondong.



Tak ada yang bisa menghentikan:

kecuali Waktu. Kecuali waktu.



"Ah, siapa bilang begitu," kata Waktu.

Tapi, aku tak mendengarnya. Tentu.



Karena di Toko Buku, aku terlalu sibuk

mencari-cari matamu. Yang hendak

kubaca lagi dengan setumpuk rindu...

tapi, akhirnya, lagi-lagi hanya tersesat

ke masa lalu.



"Rasain, lu," kata Waktu. Dan aku

lagi-lagi tak mendengarnya. Tentu.



/4/



Di ranjangku yang paling syahdu,

bertebaran buku-buku di sisiku.

"Salah satunya adalah kamu, Sayangku..."

kataku sambil menatapi sampul-sampul

itu satu per satu.



Yang paling mengganggu adalah engkau yang

bisa-bisanya menuliskan: Hei, DukaMu Abadi!



Yang paling seram itu adalah engkau yang

berseru nyaring: Hei, Orang-orang Terasing!



Yang paling riang adalah engkau juga yang

enteng bilang: Mengarang itu Gampang, Kok!



Tapi, setelah bertahun-tahun meniduri buku,

aku belum juga bisa menebak teka-tekimu.



/5/



Waktu kecil, kalau ada yang bertanya, "Engkau

mau jadi apa?" Aku menjawab, "Mau jadi buku.."



Dan tak pernah ada yang bisa mengerti.



"Wah, bagus. Menjadi penulis buku itu hebat..."



Sesudah tua begini, masih juga ada yang bertanya,

"Apa keinginan Anda yang belum tercapai?" Aku

menjawab, "Menjadi sebuah buku..."



Keinginan yang juga tak bisa mereka pahami.



"Ya, ya... banyak orang yang di masa tuanya ingin

menuliskan buku. Anda juga masih punya waktu..."



/6/



Tetapi tidak ada yang bertanya:

kau hendak dimakamkan di mana?



Diam-diam aku sedang mempersiapkan

sebuah kematian yang paling sempurna:

dikuburkan di dalam buku. Engkau tahu?

Buku akan hidup abadi. Tak mati-mati!



Barangkali saja, kelak dalam perjalananku

dari halaman-halamanmu, duhai Bukuku,

duhai Kuburku, duhai Kekasih Abadiku,

bisa kutemukan pertanyaan teka-tekimu,

bisa kudengar apa saja yang dikata Waktu.



Feb 2004