Sunday, February 15, 2004

[Ruang Renung # 67] Puisi yang Sekadar Makna

Squid on A Chessboard TIDAK ada yang memaksa kita untuk menyukai atau membenci sebuah lukisan abstrak. Taruh kata itu lukisan Pablo Picasso pada periode kubisme misalnya. Tak ada pula yang memaksa kita meminati atau sama sekali tak peduli pada lukisan naturalis. Bangkitnya rasa suka, seperti sebuah misteri. Ada jejak-jejak yang bisa bercerita hingga kita bisa sampai pada, "....saya pernah... dulu saya... maka saya sekarang....."



ADA memang yang menuliskan puisi dengan patuh pada perangkat-perangkat puitiknya. Ada yang hanya asyik bersulang irama saja dengan kata-kata dalam puisinya. Ada yang hanya asyik pada memberi beban makna pada puisi-puisnya. Mungkin dia sadar melakukan itu. Mungkin tidak. Mungkin itu pilihan dia, mungkin pula hanya itu yang dia mampu. Kita juga boleh memilih mana yang sedap kita baca.



SEDANG tentang puisi itu sendiri kita bisa berdebat panjang, apatah lagi tentang puisi apa yang masing-masing kita sukai. Tetapi satu hal, ketika menulis puisi, ketika kita memilih menjadi penulis puisi yang bersungguh kita harus menjadi seorang Picasso dan jalan seni rupa yang sudah dipilihnya.[hah]