Thursday, February 26, 2004

[Ruang Renung # 68] Kita dan Kata

     UNTUK sebuah puisi kita sebenarnya tak pernah kehabisan kata. Kata tidak pernah kemana-mana, ia tetap ada. Ia menunggu kita datang padanya, memanggilnya, memakainya untuk puisi kita. Atau kalau beruntung ia yang datang mendekati kita, atau langsung masuk ke dalam puisi kita. Kita yang harus mengakrabkan diri dengan kata sebanyak-banyaknya. Kita yang harus mengulurkan tangan, menawarkan persahabatan dengan kata-kata seakrab-akrabnya.



     KATA juga adalah tanah liat. Yang tak pernah merasa hina kalau hanya dianggap sebagai lumpur yang mengotori kita ketika hujan, Ia juga tak merasa berdosa ketika hanya jadi debu menyesakkan nafas kita ketika kemarau. Dia juga tak merasa dimuliakan ketika kita menempanya jadi keramik yang cantik, jadi puisi yang menyentuh hati.



     JADI, kalau kita tiba-tiba merasa kehabisan kata, merasa dijauhi oleh kata, merasa dimusuhi oleh kata, pertanyaannya pangkalnya yang harus dijawab: Seakrab apa selama ini kita menggauli mereka? Tetapi, jangan pula dilupakan, bahwa dalam perkerabatan yang paling karib sekali pun ada sesekali waktu perlu merenggangkan jarak. Atau melupakan urusan utama yang menyebabkan perkerabatan itu ada. Dalam hal kita dan kata, sesekali kita perlu juga saling menyapa tidak untuk urusan puisi. Bukankah banyak hal lain yang bisa kita perbuat? Hal lain yang juga sama menggembirakan kita? Hal lain yang kelak bisa membuat kita dan kata menemukan kegembiraan yang lain ketika bersama-sama kembali menata ruang: rumah bagi puisi-puisi.[hah]