Tuesday, February 3, 2004

Alasan yang Bagus untuk Sebuah Kematian

Cerita oleh Hasan Aspahani



House of Eise



    CERITA ini harus berakhir dengan kematian si tokoh. Ya, begitu. Kematian, pada saat yang paling tidak tepat, selalu menggumpalkan rasa sesak menjadi seperti sekepal batu, tragedi namanya. Yaitu kematian yang tidak siap diterima oleh orang lain. Misalnya kematian tokoh dalam sebuah cerita yang tidak siap Anda terima, sebagai pembaca.



***



    DRUSBA mengeklik ikon shorcut to program notepad. Dia memang sejak semula menyenangi software pengolah kata ini. Microsoft Word? Bahkan pernah mau dihapusnya saja. Lumayan menambah memori di hard disc. Tapi, entah perasaan dari mana, laptop tanpa pengolah kata itu - meski tak pernah dipakainya juga - seperti kurang lengkap. Adapun Notepad yang juga pelengkap program berbasis sistem berlogo jendela melambai-lambai itu menurutnya sangat ringkas. Sederhana. Dan bisa membuka beberapa arsip ketik, saling menindih, tanpa saling menutup seluruh monitor. Lewat explorer, dia lalu membuka arsip cerpen143.txt. Kalau tidak lupa men-saving semalam, tiga paragraf itu tentu masih ada, dengan paragraf akhir putus pada kalimat keempat.

    Masih ada seminggu sebelum masa penerimaan naskah lomba cerpen itu ditutup. Dia sudah menemukan ide cerita untuk ditulis dan disertakan di lomba itu. Yaitu, tentang seorang pengarang yang ingin ikut lomba cerpen. Tetapi dia belum menemukan kisah untuk mengakhiri ceritannya itu. Dia tentu saja ingin menutup cerpen itu dengan istimewa.



    DRUSBA membaca lagi tiga paragraf yang sudah ditulisnya.



    Paragraf 1:

   DIA adalah pengarang yang bersemangat. Dia sedang subur ide. Dia juga rajin mengirimkan cerita karyanya ke media. Enaknya sekarang, mengirim naskah bisa lewat email. Tidak perlu prangko, kertas dan tidak perlu ke kantor pos. Cukup ke warnet sebentar bawa disket. Buka email sendiri, langsung kirim. Meski tidak sering, beberapa cerita pendeknya ada terbit di surat kabar mingguan, atau tabloid wanita.



    MERENUNG sejenak di akhir paragraf itu. Drusba merasa masih ada yang harus diperbaiki. Tapi apa? Dia membaca lekas sekali lagi. Tiba-tiba laptopnya berbunui. Dua kali. Tanda peringatan baterai minta segera diberi tenaga lagi. Baru dia ingat, dia belum mencolokkan kabel charger. Dia melakukan hal yang belum dilakukannya itu. Lalu dia meneruskan membaca.



    Paragraf 2:

    Sejak membaca pengumuman di mailing list PENYAIR, dia sudah memutuskan untuk ikut lomba penulisan cerita pendek itu. Dia sedang banyak ide sekarang. Lagi pula dari beberapa lomba yang dia ikuti, dia menyimpulkan kebanyakan panitia yang tidak punya kriteria yang jelas seperti apa karya yang harus menang.

    Tergantung jurinya. Beberapa kali dia pernah ikut lomba. Tidak menang, tapi, begitu membaca karya yang menang, dia merasa tak perlu berkecil hati. Dia suka merasa ceritanya yang dia ikutkan di lomba itu, yang kemudian tidak menang, sebenarnya tidak kalah mutunya.

    Kenapa kalah? "Ah, mungkin selera jurinya saja yang tidak cocok. Kalau curinya orang lain selain juri itu mungkin saja pemenangnya akan lain pula. Mungkin saja cerita dia yang akan menang," ujarnya.

    Karena itu dia tidak pernah surut semangat membuat cerita baru untuk lomba yang lain dan yang lainnya lagi, seperti lomba yang saat ini sedang dipersiapkannya sebuah cerita untuk mengikuti lomba itu.

    Apalagi, ehem ehem, lomba kali ini hadiahnya agak besar. Meskipun tidak sebesar beberapa lomba di negara Amerika misalnya. Di sana, setahu dia, ada lomba tahunan untuk penulis atau penyair baru, artinya yang belum pernah menerbitkan buku, hadiahnya selain duit tunai untuk si pemenang, juga dana untuk menerbitkan karyanya yang menang itu. Juga kesempatan untuk tinggal selama beberapa bulan di sebuah tempat mewah dan di sana si pemenang tak harus memikirkan apa-apa lagi, kecuali menghasilkan karya.

    Tapi, hadiahnya kali ini lumayan juga. Karenanya, dia mendapatkan tambahan semangat untuk ikut lomba itu.



    DRUSBA paling suka paragaf kedua ini. Dia memasukkan pandangannya ke dalam cerita. Dan dia merasa masuknya itu pas. Istilahnya tidak terasa dipaksakanlah, begitu. Dia terus membaca.



    Paragraf 3:

    Tetapi inilah masalahnya. Dia tak tahu harus bagaimana mengakhiri cerita pendeknya ini. Dengan kematian? Ah terlalu gampang....



    YA, pikir Drusba. Gampang amat kalau diakhiri dengan kematian tokoh ceritanya. Dia mencoba mengetikkan sesuatu. Tapi urung. Lalu lama merenung. Alhasil, sama seperti tokoh dalam cerpennya, dia juga tidak tahu harus melanjutkan ceritanya itu kemana, seperti apa, sampai menemukan penutup cerita yang menarik. Mungkin bolehlah dengan kematian. Ya, boleh saja begitu. Tapi apa alasannya?

    Drusba terus merenungi pertanyaan-pertanyaannya itu.

    Terus merenungi pertanyaan-pertanyaannya itu.

    Merenungi pertanyaaan-pertanyaannya itu.

   Pertanyaan-pertanyaannya itu.

    .......



***



    SAMA seperti Drusba dan sama seperti tokoh pengarang yang ditulisnya, aku pun nyaris tidak tahu bagaimana menutup cerita ini. Tentu saja dengan penutup yang asyik. Yang berkesan dalam. Yang bergaung lama di benak Anda yang membaca.

   Nyaris. Ya nyaris. Karena sejak awal cerita, saya kan sudah bilang, cerita ini harus diakhiri dengan kematian. Dan saya punya alasan yang bagus untuk kematian itu. Drusba akhirnya bunuh diri karena sampai akhir batas waktu pengiriman naskah lomba penulisan cerita itu dia belum juga menemukan cara menutup ceritanya. Karena itulah dia akhirnya bunuh diri.

   Nah, kalau bertemu Drusba, tolong jangan ceritakan bagaimana saya mengakhiri cerita ini. Nanti dia contek. Tolong, ya, jangan beritahu dia.



Batam, Feb 2004.



* Gambar dari The Illustrators