Wednesday, February 11, 2004

[Ruang Renung # 61] Berpuisi? Berteori?

    ADA banyak cara untuk jatuh cinta. Juga kepada puisi. Bisa jadi kita jatuh cinta sejak pertama kali berpandangan mata dengannya. Bisa jadi kita jadi cinta setelah kita sering bertemu, meskipun pada awalnya tidak terdesir di hati rasa apapun. Setelah kita bercinta pun, bisa saja kita tiba-tiba kehilangan gairah dan mungkin sesekali menyakiti hatinya.



The Crush -Legendary Themes    DALAM perkasihan itu di manakah peran teori sastra? Puisi, si kekasih itu, memang harus kita kenali anatomi fisik dan kelaku perangainya. Ketika kita berdekatan, kekasih yang jujur dan ikhlas mencintai dan dicintai akan bercerita banyak kepada kita siapa dia sebenarnya. Dia tak akan takut kita akan meninggalkan dia setelah membuka setelanjang-telanjangnya siapa dia sesungguhnya. Kita pun, sebagai kekasih yang tulus dan mencintai puisi tanpa niat mengelabui dia, pasti akan lebih bertambah lagi mencintai ketika kita lebih banyak tahu tentang dia, puisi, sang kekasih itu.



   ADA memang, orang di luar sana yang memakai teori itu sebagai pisau. Membedah membelah mencacah tubuh puisi untuk mencari hakikat puisi itu yang sebenarnya. Itupun tidak salah. Puisi toh tidak akan mati. Dia ikhlas diperlakukan seperti itu, karena dia yakin itu juga dilakukan dengan dan atas nama cinta. Sesekali, kita pun perlu berada di luar puisi belajar mengasah pisau, atau malah menemukan alasan untuk lebih mencintai setelah menggenggam pisau yang paling tajam di tangan kita.[hah]