Saturday, November 29, 2003

Tentang Seorang Tukang Catat Meteran Listrik

BEGITULAH, hidupnya seperti sudah diukur dan dia tinggal mengepaskannya. Setiap bulan dia berkeliling dari rumah ke rumah, hanya untuk menengok dan lalu mencatat angka-angka pada meteran listrik. Hanya untuk itu? Ah, dia tak pernah bertanya dengan pertanyaan itu, pertanyaan yang hanya akan memojokkan dirinya sendiri.



DIA sangat menikmati pekerjaannya. Setidaknya begitulah perkiraan orang-orang di rumah yang dia kunjungi sekali sebulan itu. Karena kerap kali mereka mendengar Bapak Pencatat Meteran listrik itu bersiul-siul sambil membuka kotak meteran, memastikan berapa angka yang tertera di situ dan mencatatnya. Siulnya pun tak banyak variasi. Paling-paling lagu Engkau Laksana Bulan dari P Ramlee [yang kadang dia nyanyikan syairnya]:.. Oh, Tuhanku, mengapakah kau tinggalkan dirikuuuuu.... Atau lagu D'Loyd: Ibarat Air di Daun Keladi.



DIA cocokkan nomor-nomor rumah, nomor kontrak pelanggan [keduanya musti sama tak pernah berubah] dan angka pemakaian listrik [yang selalu bertambah tiap kali dia berkunjung datang]. Begitulah, seperti semuanya sudah ditakar baginya.



TAK banyak yang mengenal namanya. Kecuali nama yang sudah disebutkan di bait kedua tadi. Ya, orang menyebutnya: Bapak Pencatat Meteran. Jarang sekali ada yang mengajaknya bercakap-cakap. Karena memang tak ada perlunya. Lagipula di kota itu, khususnya di kompleks-kompleks perumahan yang menjadi wilayah kekuasaannya sebagai pencatat meteran, jarang ada pemilik rumah yang ada di rumah saat dia datang mencatat.



PALING-PALING dia disambut gonggongan anjing penjaga [biasanya anjing baru yang sok galak], atau godaan pembantu rumah tangga yang menyalurkan bakat genitnya. "Maaaas, sekali-sekali catat yang lain, dong. Nomor BH kita misalnya, atau nomor apaaa gitu..." He he he. Dia paling hanya nyengir-nyengir unta. Dan terus berlalu setelah selesai mencatat angka pemakaian listrik di rumah itu.



BEGITULAH, sepertinya semua sudah diskenariokan untuk diperankannya. Dia betah menjalani takdir itu. Habis mau apa lagi, ya, Pak? Lagi pula, katanya, untuk sekedar berbetah-betah, apa sih susahnya? Lagi pula, ini pekerjaan nyaris tak ada risikonya. Paling-paling sesekali dimarahi oleh pemilik rumah yang kaget tagihan listriknya melonjak. "Bapak salah catat, ya? Sengaja ditambah-tambahi, ya?!" He he. Itu pertanyaan sia-sia. Apa untungnya saya melebih-lebihkan? Apa bisa korupsi dari angka meteran listrik? He he.



LALU, pada akhirnya. Pada suatu malam menjelang dia bertugas mencatat meteran listrik keesokan paginya, Bapak Pencatat Meteran itu bermimpi. Dia jarang bermimpi sesungguhnya. Karena itu dia merasa sangat terganggu. Apa lagi, mimpinya itu sangat lucu: Dia berubah jadi rumah, dengan nomor yang sangat dia kenal tertera pada pintu. Lalu datanglah seorang pencatat meteran yang berseragam lucu seperti yang biasa dipakainya. Dan petugas itu menyapanya ramah sekali, " Permisi Pak eh Rumah, saya mau mencatat angka di meteran Anda. Ini bukan meteran listrik bukan?"



DIA tidak tahu apa takwil mimpinya itu. Mimpi yang kelak selalu datang berulang setiap kali dia

mampi di rumah-rumah yang entah sudah berapa kali disinggahinya. Dan pada suatu pagi dia terbangun, tanpa membawa mimpi semalam, dan dia ingiiiiin sekali pamitan kepada setiap meteran dan kepada setiap anjing dan kepada setiap pembantu yang selalu dijumpainya di rumah yang setiap bulan selalu dikunjunginya.



Nov 2003