Saturday, November 29, 2003

Perdebatan antara X dan Y

X : Kenapa kita tidak menetap saja di sini, tak musti

    disiksa oleh jarak-jarak yang kita bikin sendiri, tak

    harus merancang perjalanan, memburu tiket dan

    berebut tempat duduk di kendaraan yang selalu

    pura-pura ramah? Kenapa kita tidak menyimpulkan

    saja bahwa di sekarang kita ini, adalah rumah yang

    tak harus kita tinggalkan lagi?



Y: Kenapa kita tidak berumah saja pada sepatu kita yang tak

    pernah ingin berhenti? Melepas tamu dan dilepas sebagai

    tamu juga di setiap terminal, stasiun dan bandar-bandar

    yang kita temui dalam perjalanan kita? Kenapa kita tidak

    merindukan saja setiap kejutan, menemukan kita yang lain

    yang menceritakan perjalanan sendiri yang tak pernah

    ada dalam rute petualangan kita?



X: Kenapa tidak kita akui saja bahwa kita sudah lelah,

    usia dalam ransel yang tak sempat kita hitung lagi,

    entah di mana tercecernya? Entah sudah kita tukar

    dengan apa, entah kita sia-siakan dengan siapa...



Y: Kita memang lelah. Tapi ini bukan soal menang atau kalah.

    Ini soal melangkah, hidup yang harus diberi jawaban, juga

    hidup yang terus menerus mengajukan pertanyaan. Dan usia?

    Apa lagi yang ingin kita tanyakan perihal hitung-hitungan yang

    kelak pasti akan selesai juga urusannya?



X: Kenapa kita tidak kita akui saja bahwa kita sudah terlalu tua,

    untuk menyebut kalimat: "Lihat, aku masih terlalu kuat, telah

    kutaklukkan dia Waktu sang Goliath, telah kubuktikan siapa

    yang akhirnya menang, siapa selamat, siapa sekarat!"



Y: Kita memang telah tua. Tapi ini bukan menutup kemungkinan

    kita untuk menabur biji-biji asam di tepi setiap jalan yang

    memberikan diri bagi lalunya kita, setiap jalan yang menyapa:

    "Selamat Datang, Saudara, Selamat Jalan, Saudara. Supaya

    abadi, jejak sepatumu akan kami titipkan saja pada hujan yang

    kelak akan lewat. Dia atau Engkau yang nanti menunggu

    di muara? Ah, terserahlah saja. Yang penting hati-hati, ya."



X: Nah, lihat! Kenapa kita tidak berhenti membuat orang lain

    mencemaskan kita?



Y: Lalu kapan kita bisa berhenti mencemaskan diri sendiri?



Nov 2003