Tuesday, November 30, 2010

Di Tubuhmu Aku Menjadi Seekor Binatang

DI tubuhmu, angin menjadi selembar selendang
menyampir di pinggang, dan kau menutup dada,
melangkah bimbang di titian panjang. Di sana,
di ujung seberang, ada redup cahaya, mungkin
itu sebuah pintu, rumahmu yang menunggumu

Kenapa ada selalu elang? Elang itu menetas
dari telur petir, ia selalu terbang, karena
hatimu tak bercabang, dan kakinya buntung

Laut menahan semua gelombang, kapal layar itu
berlayar tanpa awak, membentangkan duga-dugaan

Awan, kepingan-kepingan parang, saling mengasah,
dan nanti bersama gelap malam menimpasi karang!

Di tubuhmu, aku menjadi seekor binatang, letih,
liar, dan lapar, sembunyi dari para sekelompok
pemburu yang sama saja: letih, liar dan lapar.  


[ Ruang Renung #256] Tulisan yang Menarik

ADA yang bertanya seperti ini: bagaimana cara agar tulisan menjadi menarik? Saya mau jawab begini: kenapa kau tertarik pada sebuah tulisan? Adakah tulisan yang menarik hatimu? Kenapa tulisan itu menarik bagimu? Bisakah kau membuat tulisan seperti itu?


Yang mula-mula tertarik dengan tulisan kita adalah kita sendiri. Kalau kita tidak punya selera, kalau kita sendiri tak tertarik pada tulisan kita, dijamin, tulisan kita tidak akan menarik juga buat orang lain. Tulisan bisa praktis (seperti petunjuk atau tips merawat laptop, atau resep soto banjar), bisa juga menjadi santapan rohani (kisah-kisah inspiratif, atau fiksi yang memuaskan imajinasi saya).

Saya suka pada tulisan yang ketika saya baca, saya tertolong oleh tulisan itu, saya tercerahkan, dan saya diperkaya olehnya.  Buatlah tulisan seperti itu, saya akan menjadi pembaca tulisanmu.



Adegan yang Disukai Seniman Surealisme

/1/
TANGANKU berdarah. Penah aku menyentuhmu
dengan tanganku? Meninggalkan bekas telapak,
darah di situ? Aku regang, kehilangan tubuhmu

/2/
Kamarku berdinding peta. Buta. Kota-kota tumbuh
di situ. Tak ada pintu dan jendela. Tak ada jalan.
Tiap alamat, hanya sesat. Aku tak percaya cahaya.


/3/
Adegan ini, pasti amat disukai para seniman
beraliran surealisme: aku tergantung, dengan
tali terikat pada jantung, bagai meragakan
sendiri, gerak lompat indah paling sempurna!

Tak mati. Nyawaku belum mau lihat aku mati.





 

Kennedy, Havel, dan Hoesnizar

Oleh Hasan Aspahani

DI depan para anggota perkumpulan alumni Harvard, di Cambridge, Massachusetts, 14 Juni 1956, seorang anggota senat Amerika Serikat berusia 39 tahun berkata, "jika lebih banyak politisi yang tahu puisi, dan lebih banyak penyair tahu politik, saya yakin dunia akan menjadi tempat hidup yang sedikit lebih baik."

Tujuh tahun kemudian orang yang sama, tetapi kala itu telah menjadi Presiden Amerika Serikat yang ke-35 berkata, "ketika kekuasaan membawa manusia mendekati arogansi, puisi mengingatkannya kepada keterbasannya. Ketika kekuasaan mendangkalkan wilayah kepedulian manusia, puisi mengingatkannya betapa kaya keberagaman eksistensi. Ketika kekuasaan menyimpang, puisi membersihkan. "


Dia, John F Kennedy, berpidato seperti itu ketika meresmikan Perpustakaan Robert Frost, di Amherst College, 26 Oktober 1963, sembilan bulan setelah kematian sang penyair. Kalimat itu lantas dikutip dalam berita The New York Times sehari kemudian. Penyair itulah yang membaca puisi tepat sehabis pidato pertama Kennedy, setelah sang presiden dilantik.

Saya menemukan lanjutan dari kalimat tadi, kalimat yang sangat sering dikutip ketika orang bicara tentang politik dan puisi: "Adalah nyaris sebuah kebetulan bahwa Robert Frost mengawinkan puisi dan kekuasaan, karena dia melihat puisi sebagai upaya menyelamatkan kekuasaan dari kekuasaan itu sendiri." Tak berselang sebulan setelah pidatonya itu, pada tanggal 22 November 1963, Kennedy ditembak. Dan mati.

*

Dimanakah sastra dan politik, sastrawan dan politisi menyatu? Tidak pada John F Kennedy,karena bagaimanapun Kennedy tetaplah seorang politisi yang mengagumi sastra, puisi dan bersahabat dengan Robert Frost, penyair yang ia kagumi itu.

Sastra dan politik menyatu dalam diri Václav Havel. Tokoh ini lahir 5 Oktober 1936. Pada mulanya dunia mengenal dia sebagai penulis, politikus, dan dramawan Cekoslovakia. Havel adalah seorang dramawan dan ia juga menulis buku-buku puisi dan esai. Sebagai dramawan ia terkenal ketika pada 1963 ia menerbitkan karya Zahradní Slavnost, dan segera disusul dengan Vyrozumění pada 1965, yang merupakan karyanya yang paling terkenal.

Tema utama  karya-karyanya adalah pengasingan sosial. Ia keras mengritik  sistem komunis yang totaliter. Dan itulah pangkal masalahnya. Ia dipaksa untuk bungkam dan tidak lagi berkarya. Itu juga pintu masuknya ke politik.

Tak puas berjuang dengan pena, Havel masuk ke ranah politik. "Visi saja tidak cukup, harus digandengan dengan keberanian mengambil risiko. Menghitung langkah saja tidak cukup, kita harus melangkah menaiki anak-anak tangga," katanya, seakan memberi garis bawah pada langkah politiknya.

Ia lalu mendirikan Charta 77, organisasi anti-komunisme di Cekoslowakia. Setelah Revolusi Beludru, yang menandai jatuhnya komunisme di Cekoslowakia pada 1989, ia menjadi pemimpin partai demokrasi Obcanske Forum.

Pada 1989 ia menjadi Presiden Cekoslowakia yang ke-10, dan berikutnya ketika negara itu berubah, pada 1993 Havel menjadi Presiden Ceko yang pertama – hingga 2003.

*

Hoesnizar Hood, si penulis kumpulan kolom ini, dan ini adalah buku ketiganya, lebih pas disandingkan dengan Havel daripada Kennedy. Dalam diri Bang Nizar, begitu kami mengakrabinya, menyatu dua sosok itu: sastrawan dan politisi. Untungnya adalah pada mulanya dia adalah seorang sastrawan. Mata batinnya sebagai sastrawan jeli melihat kegelisahan masyarakatnya, masyarakat Melayu yang menggelisahkannya. Ini adalah sumber kegelisahan abadinya.

Seperti Havel, kegelisahan itu oleh Bang Nizar dibawa ke mana-mana, muncul di sajak-sajaknya, dia bawa ke Partai Demokrat di mana dia menjadi ketuanya, muncul di kolom "Temberang"-nya yang terbit tiap minggu di Batam Pos, dan saya tahu persis juga muncul dalam rapat-rapat DPRD Tanjungpinang di mana dia sekarang duduk di salah satu kursi wakil ketuanya.

Dan sosok seperti dia langka. Susah sekali menyatukan dua dunia yang galibnya hadir bak air dan minyak itu, bisa ditempakkan dalam satu cawan, tapi tetap saja jelas garis batasnya. Maka, bagi saya, kesastrawanan seorang Hoesnizar memberi nilai lebih pada sosoknya sebagai politikus. Kepolitikannya juga ibarat tumpukan sekam bagi api kegelisahannya sebagai sastrawan. Bang Nizar dengan cermat mengelola dua sisi itu.

"Temberang" sudah terbit dalam dua buku, sebelum buku ini. Buku pertama "Orang Melayu Hanya Pandai Bercerita" terbit dengan kontroversinya sendiri. Ia jadi pembicaraan yang luas dan saya yakin ia telah berhasil menggugah - jika kata mengubah terlalu jadi beban - banyak orang. Mahmud, sosok alterego itu, tiba-tiba jadi sangat akrab dalam alam pikir orang-orang Melayu di "Tanjung Pening", "Kepulauan Risau".

Lalu, buku kedua terbit "Mahmud Jadi Dua". Batam Pos sempat menghentikan kolom "Temberang" karena ingin berlaku adil: Hoesnizar waktu itu jadi politisi dan Batam Pos ingin netral. Setelah "jadi dua" sisi, Mahmud naik pentas lagi. "Mahmud harus jadi sosok yang beda. Dia main golf, naik mobil mewah ke mana-mana," kata saya kepada Bang Nizar, saran untuk menampilkan "keduaan" Mahmud.

Dan inilah buku ketiga "Temberang". Bagaimana saya melihat buku ini? "Bang, ini buku penegasan. Mahmud belum habis, dan tidak akan pernah habis. Mahmud boleh terus risau, tapi dia sudah harus bisa menegaskan sikap!" kata saya.

Maka, dipilihlah judul ini: Biar Mati Berdiri daripada Hidup Berlutut. Saya menyarankan judul ini, judul yang diambil dari salah satu episode "Temberang". Inilah kalimat yang paling pas menegaskan sikap Mahmud dan sikap penulisnya Hoesnizar Hood.

Sikap itu punya nilai, karena nanti siapapun yang mengucapkannya kalimat itu sah. Ia tidak lagi menjadi milik Hoesnizar, juga tidak lagi menjadi milik masyarakat Melayu. Kalimat itu kelak akan menjadi universal. Itulah kebahagiaan seorang sastrawan. Yaitu ketika nilai-nilai dalam karyanya mencapai universalitas. Saya ikut bahagia karena sesempatnya menjadi bagian dari proses pencapaian itu.

Dan saya kelak akan menjadi lebih bangga dan bahagia jiga kelak melihat sisi lain Mahmud eh Husnizar juga mencapai tahapan lain. Saya ingin melihat jejak langkah Hoesnizar sebagai politisi sampai pada puncaknya, saya melihat sudah ada jalan terang dan lapang ke sana.*** 

* Pengantar untuk buku "Biar Mati Berdiri daripada Hidup Berlutut"

Berbahagialah, Paman Fauntleroy!

Oleh Hasan Aspahani

SIAPAKAH Paman paling terkenal di dunia? Dia adalah Donald Fauntleroy! Kenal? Baiklah, nama bekennya Donal Duck alias Donal Bebek! 

Ia punya tiga keponakan kembar identik yaitu Huebert, Deuteronomy dan Louis. Nama yang rumit? Baiklah, panggilan untuk tiga keponakan itu adalah Huey, Dewey, dan Louie. Masih susah? Baiklah, di komik kita panggilannya lebih sederhana Kwak, Kwik dan Kwek. Donal punya tiga keponakan lagi sebenarnya, para sepupu si tiga kembar identik ini yaitu: April, May dan June!



Tiga keponakan yang nakalnya minta ampun, plus paman yang gampang marah, ini adalah kombinasi ajaib untuk sebuah kartun. Itu yang turut membantu Donal menjadi bintang di antara para tokoh kartun. Kemasyhuranya hanya kalah satu peringkat dari rekan satu studionya Miki Tikus.

Tiga keponakan bengal itu muncul pertama kali bersama Donal hanya untuk sementara. Bocah-bocah itu dititipkan satu hari saja sementara si ayah dirawat di rumah sakit akibat luka bakar kena ledakan mercon. Mercon itu diletakkan di kursi dan diledakkan oleh anak-anaknya sendiri. Donal tak bisa menolak - ini mungkin semacam kutukan jadi paman.

Donal juga seorang keponakan. Ia punya dua paman Ludwig von Drake dan Scrooge McDuck. Ia sering  kali dimanfaatkan oleh pamannya si kaya yang pelit: Scrooge McDuck alias Paman Gober itu. Donal tak bisa menolak - ini mungkin semacam kutukan jadi keponakan - meskipun setiap kali menerima pekerjaan dari si paman ia menggerutu dan tahu bakal dapat upah yang tak setimpal dan hanya menambah kekayaan si paman.

Hubungan paman-keponakan atau keponakan-paman, memang menarik diutak-atik. Saya tak bisa bayangkan kalau Disney menjadikan Kwak, Kwik, Kwek sebagai anak-anak kandung Donal. Mungkin akan lahir anak-anak pembaca Disney yang amat kurangajar pada orang tua dan tak lagi peduli atau takut jadi kualat. Sampai kapanpun, semodern apa pun tata kehidupan, hubungan ayah-anak tetaplah sakral dan bukan hal untuk dimain-mainkan meskipun hanya dalam dunia kartun dan animasi. Hubungan paman-keponakan lebih cair, lebih longgar, dan lebih aman untuk dijadikan lelucon.


*

SAYA sekarang punya lima keponakan, dan saya ingin menjadi paman hebat yang dibanggakan oleh para keponakan saya itu. Pada dasarnya saya menyukai anak-anak. Saya ingin menyayangi keponakan saya seperti anak saya sendiri. Tapi, bagaimanapun mereka bukan anak saya. Dan itulah enaknya jadi paman, bisa ikut merasa punya anak, tanpa terlalu cemas dengan masa depan dan masa kininya, karena sudah ada orangtuanya yang memikirkan itu, bukan?

Abang saya punya satu anak yang dengan sangat bangga dan akan terus saya kenang bahwa sayalah yang memberi nama keponakan saya itu. Adik saya punya satu anak, baru saja lahir, dan saya belum sempat menjenguknya: kecuali lewat foto yang dipajang oleh ibunya di jejaring sosial.

Saya berpeluang dapat keponakan lagi dari dari adik perempuan bungsu kami yang belum menikah. Adik istri saya punya tiga anak. Tiga keponakan ini akrab sekali dengan anak-anak saya. Hubungan persepupuan mendekatkan mereka: sosok kakek dan nenek - mereka memanggil "Atok" dan "nenek" - dengan sangat efektif menyatukan mereka!

Saya juga keponakan yang bahagia, karena punya banyak sekali paman yang menyayangi kami. Bapak saya anak nomor empat, darinya saya punya enam paman dan seorang bibi. Berkunjung ke rumah paman, bertemu dengan para sepupu adalah saat-saat yang menyenangkan saya: ada semacam rasa aman karena sadar bahwa ada pertalian darah yang mengikat kami.

Dari ibu saya hanya punya satu paman kandung. Paman saya ini meninggal akhir pekan lalu. Ia meninggalkan bibi yang amat sabar dan empat anak, para sepupu yang sedikit saya sesali - karena jarak usia, waktu dan tempat -  tak terlalu akrab dengan mereka.

Paman saya menikah tiga kali. Dari dua istri pertamanya dia tidak punya anak. Perceraiannya dengan istri keduanya sempat menjadi semacam prahara keluarga: rumit, ribut dan bertele-tele. Saya terlalu kecil saat itu untuk mengerti urusan orang dewasa semacam itu. Satu hal yang saya bisa mengerti cuma satu: Paman ingin punya anak. Untuk itu, syarat perceraian yang diajukan istri keduanya ia terima saja, ia harus berhenti dari pekerjaan yang nyaman di perusahaan minyak besar tempat ia bekerja. Kabarnya pekerjaan itu diperoleh berkat bantuan si istri keduanya.

Paman dan bibi - yang ia ceraikan itu - sangat menyayangi kami, para keponakannya. Tiap hari lebaran kami diberi baju baru dan uang jajan yang lumayan banyak. Ini luar biasa membahagiakan dan bikin iri anak-anak kampung lain. Kami sering diajak jalan-jalan naik Vespa, dan sesekali nonton bioskop. Ini pengalaman tak terlupakan. Tapi, itulah, bagi paman kami tetaplah keponakan dan bukan anak kandung.

Dengan perempuan ketiga yang ia peristri paman harus mulai dari nol lagi. Bibi berjualan kue, dan sayalah yang membantunya mengantarkan ke warung-warung tanpa upah, kecuali sepotong dua potong kue untuk sarapan. Ibuku harus mengalah. Tadinya ibuku juga bikin kue - saya juga yang mengantarnya ke warung - dan demi paman ia berhenti sementara. 

Paman lalu ikut membuka kampung baru. Ia bertanam kelapa dan gagal. Tapi kemudian lahan kebunnya ternyata bagus sekali diusahakan menjadi tambak ikan bandeng dan udang. Saya sempat sekali ikut memanen tambaknya. Dengan tambak itu, ia tak cemas lagi dengan masa depan anak-anaknya, dan paman punya anak banyak seakan hendak membalas dendam karena lama tak punya keturunan. 

Sebelum Paman meninggal, bibi menelepon saya, mengabarkan dia sudah lama sakit, minta maaf kalau ada salah, dan itu seperti menjawab firasat, kelopak atas mata kiri saya beberapa hari terus bergetar.

Petang itu, kata Bibi, Paman minta dimandikan, dibersihkan kupingnya, disisiri rambutnya lalu tidur tenang sekali. Dalam tidur itulah Paman mengehambuskan nafas terakhir. Saya kira dia bahagia karena dia meninggal di rumah salah seorang anaknya: anak ketiganya, anak perempuan yang sudah pula memberi paman seorang cucu.

*

Saya mengenang Paman saya almarhum dengan sedikit sifat-sifat mirip Donal. Mereka berdua sama-sama tempramental. Suka meledak-ledak. Ini kenangan buruk: saya tak bisa lupa, saat Paman bertengkar hebat dengan bibi isti keduanya, di saat-saat mereka ingin bercerai. Waktu itu, saya tak bisa mengerti apa-apa.

Paman memang suka bicara dengan nada tinggi, meskipun sebenarnya dia tak sedang marah. Ia suka tertawa terbahak-bahak, ah, ini juga betapa miripnya dengan Donal, bukan?
 Donal yang tempramental itu sesungguhnya adalah orang yang bahagia. Ia tak terlalu peduli pada kerumitan hidup dan tak punya masalah apapun dengan siapapun di dunia. Ia selalu muncul dengan senyum lebar, sampai ada masalah menimpa dan merusak hari-harinya. Donal tahu tempramen yang buruk itu tak baik. Dalam beberapa cerita, Donal pernah berusaha mengendalikan emosi, dia berhasil, tapi tersebab satu dan banyak hal emosinya kembali tak terkendali. Bagaimana pun Donal tak pernah menyakiti orang lain, dan dia gampang minta maaf.

Saya tak tahu apakah ayah Donal, Quackmore Duck dan ibunya Hortense McDuck pernah meminta Donal untuk lekas menikah, dan memberinya cucu. Sampai hari ini, sejak kemunculannya pertama kali, secara resmi 9 Juni 1934, Donal belum menikah. Tapi, bagaimanapun, saya kira Paman Fauntleroy kita ini adalah bebek yang berbagahagia. Paling tidak, dia sudah menghibur dan membahagiakan kita.[]

Monday, November 29, 2010

Malam Malaria

BAPAKKU, aku harus pergi, dengan darah di tanganku,
dan coreng di wajahmu. Maaf, karena marah, kubantai
anak lembu yang memakan dan merusak tanaman labumu

Parang pertama yang kau berikan padaku, penebas gulma
di kebun kita itu, kutinggalkan di kepala lembu itu,
aku tak bisa dusta, Bapak, akulah pembunuh hewan itu

Udara buruk sekali, peluh di dahi bulan, malam kena demam,
dan aku harus pergi, Pak. Tak pernah ada saat yang tepat, kan? 

 Aku lelaki sudah bermimpi lelaki, dan mulai bisa berdosa.

Di kota, yang selalu kau dongengkan di tidur masa
kanakku, mungkin masih ada rombongan sandiwara itu,
berputar dalam lingkaran kian lebar, makin ke tepi

Aku mungkin bisa bermain sebagai Skaramus atau Zorro
karena di balik topeng itu aku bisa kenal siapa aku

Aku pernah cerita tentang guru Kesenian memuja bakatku,
waktu kau tanda tangani rapotku, Bapak, "Kau bisa jadi
pelakon yang hebat, Nak!" Aku dapat nilai sembilan,
untuk pelajaran itu, setelah memainkan monolog yang
kutulis sendiri naskahnya. Kau ingat 'kan, Bapak?

Monolog tentang hantu yang menakut-nakuti anak-anak
kampung, sembunyi di banir atau di rongga pohon kayu!

*

Bapakku, aku sudah pandai membaca dan tahu mengangka,
tak lagi kurang menghitung buah semangka, di kebunmu,

Aku akan menulis surat, Bapak. Mungkin tentang tepuk
tangan, terang lampu, dan dialog yang harus kuhapalkan,
di panggung pura-pura ini. Ah, tak usah kau balas, Pak.
Surat-suratku itu, kelak kau simpan saja, bersama akta
kelahiranku, bersama raporku, foto-foto bayiku, atau
kau bakar saja semua, jika kau anggap telah sia-sia
kau membuahi ibu, dan sia-sia ibu melahirkan aku

*

Mungkin akan miskin dan sendiri, tapi aku merdeka, Pak.

Mungkin nanti aku akan bisa jadi sutradara, menulis
lakon, dan berlakon di panggung besarku sendiri, Pak.

Mungkin kau akan melihat fotoku di balik topeng, di
halaman 1 suratkabar disertai tulisan penuh pujian, Pak.

Mungkin aku bisa punya rombongan sandiwaraku sendiri.

Mungkin aku bisa punya teater mewahku sendiri, dengan
jadwal padat pementasan sepanjang tahun, Pak. Datanglah,
sebagai penonton yang bertepuk tangan paling lama, duduk
di kursi paling hadapan, dan ajaklah ibu bersamamu, Pak.

Atau aku akan jadi hantu, menakut-nakuti sendiri hidupku.

*

Aku harus pergi, Bapakku. Kalau adik-adik bertanya,
katakan aku pasti pulang dengan seratus lembu. Aku
akan ganti anak lembu tetangga kita yang kubunuh itu.

Dan untuk kita, Bapakku, untukmu, ibu dan adik-adikku,
ada lembu-lembu bersayap, dan kita terbang bersama,
tamasya, ke pantai berhutan pinus itu, ke museum
dongengan, ke bukit di mana cengkeh berbunga lebat,
ke Jeddah, ke Madinah, ke Makkatul Mukarramah.  

Ya, aku harus pergi, Pak, Bukan karena takut itu, tapi
hanya dengan jalan ini aku bisa membunuh kepengecutanku.

Sunday, November 21, 2010

Jangan Menangis, katamu, Karena Itu Aku Menangis!

KITA seperti sepasang anggota terakhir
kelompok musik rock yang sebenarnya sudah bubar lama.

Sia-sia bertahan, lagi mendengarkan,
lagu-lagu kita, yang kini terasa sangat menyakitkan

Seperti membuat luka baru di kelopak bunga luka lama
yang belum layu!

Lihat, segar sekali darah dan merah itu:
          darah dan merah khianat,
                   darah dan merah dusta,
                             darah dan merah dosa!

Kita mungkin harus sempurnakan kebersamaan ini dengan
saling melukai dan mati, mengenang keinginan lucu itu:

Berpose di sampul majalah Rolling Stone?
           Album kita ditandai lima bintang 5 di rubrik Review?
                   Dan kita saling berdusta di halaman Interview?

Mereka lari dan mencuri lagu-lagu kita ribuan kali!
Kita terpenjara dan tak lagi bisa gubah nada-nada baru

Sepi menguasai, tata suara mati: mempertegas garis sunyi.

Kita menjadi sepasang penyair malang, menjadi penakut,
simpan ribuan bait banci di laci, benci gagal sembunyi!



Thursday, November 18, 2010

Pamplet II

Tulis dengan ringkas, maka mereka akan membacanya; tulis dengan jelas mereka akan menghargainya; gambarkan dengan baik maka mereka akan mengingatnya; tapi di atas semua itu tulis dengan AKURAT maka mereka akan terbimbing oleh cahayanya.


Joseph Pulitzer (1847-1911)
Perintis Hadiah Jurnalistik Pulitzer  


 

Pamplet I


...

hukum adil atas rakyat
tanda raja beroleh inayat

kasihkan orang yang berilmu
tanda rahmat atas dirimu

hormat akan orang yang pandai
tanda mengenal kasa dan cindai

...
 
Raja Ali Haji
Gurindam Duabelas
Fasal 12

[oase] Waktu yang Leluasa

KAYA itu punya uang yang banyak. Sejahtera itu artinya punya waktu yang amat leluasa. Punya waktu leluasa, itu artinya kita punya kesempatan untuk menikmati uang kita, bukan? Sesedikit atau sebanyak apapun uang kita itu.

Maka, seperti bait sajak Tagore, biarkan hidupmu menari kecil di tepi Waktu, seperti embun di ujung daun!

Menarilah, merayakan dan mensyukuri hidup! Dengan begitu walaupun kau tak bisa menguasai waktu itu, paling tidak kau menikmatinya. Seperti embun yang pasti akan jatuh, atau menguap: pergi dari ujung daun itu.[]

 

Wednesday, November 17, 2010

Di Panggung Kenduri Seni Melayu




[Kolom] Di Puncak Itu, Tardji!

UNTUKNYA, pada tahun 1976, sahabatnya Abdul Hadi W.M. menulis sebuah sajak empat bait, masing-masing bait berisi tiga baris. Saya kutipkan  dua bait terakhirnya:  Kita adalah jantung, sungai yang dibentuk tebing curam, Kita tahu laut tak lebih dalam. Kita tahu. Tapi datang. Di ombak kita mendebur tak bosan membongkar karang.

 Di sajak itu ada  pernyataan akan kesadaran diri yang tinggi. Ada isyarat bahwa mereka telah berbuat, beranjak dari suatu tempat dan mencapai sesuatu. Ada pemberitahuan bahwa mereka dengan sadar menempuh jalan yang tak sedap untuk mencapai hakikat.

Begitulah. Mereka: jantung sungai yang lebih dalam dari laut karena mereka dibentuk oleh tebing curam! Bayangkan itu! Tapi, mereka pergi juga, mengarungi laut itu, menempuh risiko bahaya dan ancaman. Menyatu dengan deburnya, menjadi ombak, untuk membongkar karang. Tanpa rasa bosan!    

Kelak Abdul Hadi WM yang sudah melengkapi perjalanan hidupnya dengan gelar Prof dan DR di depan namanya, menyimpulkan dengan bahasa lain, apa yang dulu ia sajakkan. Tidak ada penyair Indonesia lain, kata Abdul Hadi, seperti Sutardji yang begitu total melakukan perlawanan metafisik terhadap kondisi kemanusiaan bentukan peradaban materialistik dan positivistik.
Lewat sajak yang dipersembahkan padanya, juga lewat tafsir atas sajak dan kepenyairannya, kita bisa memahami dia: Sutardji Calzoum Bachri.

Beberapa waktu lalu saya bertemu lagi dengannya. Saya dan sahabat saya Hendri Anak Rahman, menjemput Bang Tardji di Bandara Hang Nadim. Sosok lelaki kelahiran Rengat, 24 Juni 1941 itu tak berubah. Hanya usia yang membungkukkan tubuhnya yang tak terlalu besar itu.

Ia selalu tampak amat nyaman dengan jaket kain, kaos berkerah, celana kargo, sepatu sandal, kaos kaki dan topi yang tersampir sekenanya di kepalanya, tak terlalu berniat menutupi rambutnya yang masih ia biarkan panjang dan karena itu ia harus ia rapikan dengan menguncirnya!

“Ini anak saya, Mila,” katanya, memperkenalkan gadis yang datang bersamanya. Mila Seraiwangi, anaknya satu-satunya, anak yang sudah menyelesaikan kuliah di jurusan akuntansi.  “Dia tak berminat pada sastra,” kata Bang Tardji penuh permakluman seorang ayah, sama sekali tak ada kesan ia menyayangkan pilihan anaknya itu.

Sastra Indonesia, dan bahkan bangsa Indonesia sesungguhnya sangat beruntung memiliki seorang Sutardji Calzoum Bachri.  Dan saya, merasa sangat terberkati karena beberapa kali bisa bertemu langsung dengannya, melihat dia tampil di panggung resitasi puisi, dan kelak kami bergantian tampil di panggung yang sama.

Jika ada yang merisaukan bahwa puisi Indonesia tidak pernah membina pondasinya dengan kuat, maka saya selalu bilang: bacalah buku “Isyarat”, kumpulan esai Sutardji Calzoum Bachri.  Buku ini  --  ah, maafkan saya yang pasti terdengar berlebihan – bolehlah dianggap sebagai “kitab suci” bagi puisi Indonesia.  Di buku terbitan IndoensiaTera ini, Sutardji mengumpulkan semua tulisan nonpuisinya, dimulai dengan  kredonya yang masih saja memancarkan sinar terang-benderang itu.

Sutardji tak pernah jauh dari dunia tulis-menulis. Ia pernah menjadi redaktur di sejumlah surat kabar dan majalah.  Ia mengasuh rubrik puisi, dan di sana ia menulis banyak sekali hal-ihwal kepenyairan dan perpuisian. Bagi saya, buku setebal 506 halaman ini telah menjawab sebagian besar pertanyaan besar, pertanyaan dasar, dan pertanyaan nakal saya tentang puisi.

Saya berdoa agar Bang Tardji terus diberi usia panjang dan stamina kuat untuk membaca sajak di panggung. Jika kelak ia menyusul sang mata kanan (Chairil Anwar – ingat pernyataan terkenal Dami N Toda tentang analogi mata kiri dan mata kanan), maka apa yang diwariskan oleh Sutardji di buku berhias foto saat ia mendedahkan dada di depan podium, dan di atas podium itu ada gelas dan sebotol bir - adalah emas 24 karat.

Dan Bang Tardji punya warisan lain yang belum terurus. Ia adalah pembaca puisi paling hebat di negeri ini. Maaf, saya sungguh yakin belum ada penandingnya untuk urusan ini. Pernah suatu hari di pangkal tahun 2000, ada pementasan sajak di Jakarta. Sutardji tampil bersama Rendra dan Taufik Ismail.  Tardji juaranya, tentu saja. Ia memulai tampil dengan atraktif: turun dari atas panggung dengan ayunan tali, menyanyikan blues! Koran sebesar Kompas pun memajang adegan itu di halaman utama!

“Rendra itu kan tak mau kalah. Makanya kalau tampil dengan saya dia selalu cemas. Malam itu dia kalah telak!” kata Sutardji terkekeh-kekeh mengenang pementasan di awal milenium itu.


Itulah warisannya yang harus segera dikumpulkan, yaitu foto-foto dan rekaman saat ia tampil membaca puisi. Ia menyebut ada beberapa nama fotografer senior yang memegang hak cipta atas foto-fotonya. “Di Kompas pasti ada arsipnya,” kata Tardji, “tapi siapa yang mau mengurus itu kalau foto-foto itu mau dibukukan dan diterbitkan?”

Saya punya kerisauan lain. “Abang juga harus menulis buku tentang bagaimana membaca puisi. Saya yakin tak ada orang yang pantas menulis itu kecuali Abanglah…” kata saya. Ia bilang bahwa sedang mulai menuliskan buku yang saya maksud. “Saya kembangkan dari esai yang ada di buku ‘Isyarat’ itu,” katanya. Ia sepertinya mencemaskan sesuatu.

“Di Indonesia ini tak ada yang serius mengurus puisi,” katanya.  Ia lalu bicara dalam tempo cepat, dengan suara khasnya itu:  tentang bagaimana seharusnya puisi diajarkan selekas-lekasnya pada anak-anak; Ia bercerita tentang bagaimana bukan hanya penyair yang harus dilahirkan tapi juga melahirkan para pembaca yang kritis; Ia memaparkan bagaimana seharusnya sastra diajarkan, pentingnya memetakan perjalanan sejarah sastra, pencapaiannya dan tokoh-tokohnya;  Ia mencela perilaku sastrawan yang menempuh jalan tak wajar untuk dapat nama, padahal tak ada cara lain untuk berhasil dalam sastra kecuali mengandalkan karya. Itu mungkin yang dipersembahkan oleh Abdul Hadi WM dalam sajak yang saya kutip di atas: datang ke laut, menyatu dengan ombak, dan tak bosan membongkar karang!


“Saya tak pernah mengemis pengakuan. Jassin kagum pada sajak saya, Goenawan suka sajak-sajak saya, tapi mereka saya olok-olok juga, kalau mereka tak suka pada saya, biar saja, mereka tak bisa tak suka pada karya saya,” kata Tardji tertawa, mengenang kelakuannya yang suka mencemooh. “Ini mungkin tak bagus untuk silaturahmi atau pertemanan, tak baik meniru kelakuan saya yang seperti itu,” katanya, dan ia  tertawa lagi.

“Kau kan mendapat pengakuan sebagai penyair karena sajak-sajak kau,” katanya padaku.

Ia bicara tentang pentingnya lembaga kritik, dan ia meyakinkan bahwa lembaga pemberi legitimasi itu perlu untuk kehidupan sastra yang sehat.

“Banyak yang takut pada kritik. Banyak yang bilang kita tak perlu kritikus. Akibatnya apa? Tanpa lembaga kritikyang berwibawa yang ada hanya chaos, itu yang terjadi sekarang ini,” katanya malam itu.

Di beberapa meja yang dijejer jadi satu baris, kami tinggal berempat. Saya, Sutardji, Hendri dan Pardi.  Pengamen yang tadi menyanyikan beberapa lagu sudah pulang. Samson sudah pulang, suaranya serak, dan benar saja besoknya dia disergap sakit. Lawen dan Teja sudah kembali ke hotel. Malam itu, baru saja kami tampil bergantian membaca sajak di Kenduri Seni Melayu (KSM).

Malam. Batam. Mungkin keduanya teramat berkesan di hati Sutardji. Ia ada menulis sajak tentang kedua hal itu, sebuah sajak panjang.

Di malam pembukaan KSM, Sutardji masih saja tampil memikat. Dengan harp blues  yang mahir ia kuasai, dan tariannya yang tengil di atas panggung, sajak “Tanah Air Mata” tersampaikan dengan amat menarik. Saya teringat sajak lain yang tak ia bacakan: para penyair, jangan biarkan dirimu berlama-lama di lembahlembah. Engkau, Tardji, ada tinggi, jauh di puncak itu![]  

Sunday, November 14, 2010

Manusia Pasien

KAMI manusia pasien. Mengapar di ruang perawatan, kelas sangat miskin.

Mulut hanya masin, karena kami mengunyah garam pasir, agar darah tetap
berdesir mengalir, berhulu muara jantung, menghilir ke syaraf yang ujung.

Jantung kami, sudah berkali-kali tiba-tiba berhenti, terhimpit marah sendiri,
kami mendadak mati, dan dipaksa hidup lagi: tetap ada di rumahsakit ini.

*

Kalian suka mengirim datang ke sini, wanita bermahkota di luar kepala,
dadanya membawa pisau-pisau, nanti pisau itu menikami tubuh kami,
menugalkan luka-lubang-tanam tempat tumbuh subur marah yang lain.

*

Tubuhku cincangan timun, dirajang marah kami sendiri, direndam dalam
cairan cuka, air mahamasam: air dari luka-luka di tubuh kami itu sendiri.

Kami tidak sakit. Kami disakitkan. Kalian suka melihat kami menderita?

Kantata Kota

KAMI tak lagi memesan kopi, bukan karena kantata Bach

Kota tak bisa diminta sunyi karena jiwa terus mengoceh,
seperti sendiri stadion kosong, dengan sunging vuvuzela

Hidup menyaru opera komedi, dan seperti itulah sudah
Kami sama bertanya, "Kenapa harus rumuskan segalanya?"

*

Di meja itu - dengan bayang reklame lama Marylin Monroe,
mengiklankan talkum gatal kulit -  kau sodorkan perangkat
berlayar sentuhan - "Bacalah! Bacalah atas nama temanmu!"

Aku seperti membaca kisahku: rakyat yang gagal jadi rakyat

Sambil mencoba menyesuaikan lagi: lidah dan goreng ubi -
aku membayangkan: seorang mirip engkau, berlakon di situ

Thursday, November 11, 2010

Hanya Ada di Indonesia

SEBUAH bank swasta bangkrut lalu ditalangi negara,
membanjirlah uang itu entah kemana berhentinya

Dan kami tak tahu kemana lagi mencari uang kami

*

Sebuah kepulauan yang dikurung kepung gelombang
berkali-kali digoyang gempa dan dilindas tsunami,

Dan kami tak mau kalah, pasrah pada bencana ini...

*

Sebuah gunung yang mengandung api di namanya
meletuskan tenaga 600 bom atom di Hiroshima

Dan kami tak pernah menyerah pada apa-apa...

Sebuah gunung yang menampung lava di perutnya
tak berhenti muntah api lebih 120 jam lamanya,

Dan kami tak akan berhenti mempertahankan diri...

Sebuah gunung yang dijaga lelaki tua, lelaki
yang ditunjuk atas titah seorang sultan, dan
dia mati dalam asap panas gunung yang ia jaga

Dan padanya kami belajar ikhlas pada tugas...

*

Sebuah penjara, yang petugasnya miskin dan murah
dibeli, agar meloloskan perampok pajak negara

Dan kami tak tahu harus marah kepada siapa...

Sebuah penjara, yang pintunya sengaja tak dikunci
melenggang maling uang negeri nonton tenis di Bali

Dan kami tak tahu harus percaya kepada siapa...

*

Seorang presiden tamu negara, ia yang dulu pernah
sebentar saja bersekolah di sini, mengenang enaknya
bakso dan sate, emping dan nasi goreng, tapi dia
justru lebih membanggakan kami dibanding presiden yang
kami pilih sendiri, yang sibuk dengan diri sendiri

Dan kami tak tahu harus malu kepada siapa...
 

[ Ruang Renung #255 ] Tak Apa, Ragukanlah!

CHAIRIL meragukan sajak-sajaknya. Ia pernah sampaikan keraguan itu pada sahabatnya Jassin. Ia kirim kartu pos dan sejumlah sajak yang dia bilang perlu melewati beberapa tahap percobaan lagi untuk bisa disebut sajak.

Goenawan Mohamad  juga pernah mengirim surat kepada Jassin dan mengeluhkan hal yang sama: meragukan sajak-sajak mereka sendiri. 

"Saya bisa mengerti mengapa Saudara tidak puas lagi dengan sajak-sajak dan esei-esei Saudara, yang bagi Saudara sendiri secara subyektif tidak menyenangkan lagi," kata Jassin, dalam surat balasannya untuk Goenawan. 


Dan saya kira Jassin tidak menghibur ketika dia bilang bahwa sajak-sajak dan esei-esei Goenawan bagi orang lain masih tetap ada artinya dan untuk itulah orang berterima kasih. "Itu hanya satu tanda bahwa Saudara amat cepat bertumbuh dan maju dalam pandangan dan pemikiran!" kata Jassin.[]





Tuesday, November 9, 2010

[Ruang Renung #254] Belum Memenuhi Syarat

Begini H.B. Jassin menulis dalam surat pengantar pengembalian sajak seorang penyair yang ia tolak untuk dimuat di majalah Sastra: ....belum ada yang memenuhi syarat.

Lalu dia uraikan: Kekurangan yang paling besar ialah penggunaan kiasan-kiasan yang tidak jalan, hingga sukar menangkap pikiran dan gambaran yang terkandung di dalamnya. 

Padahal, kata Jassin, maksud penyair menggunakan kiasan ialah supaya gambaran lebih hidup dan isi yang mau diungkapkan cepat bisa tertangkap. Tanpa memperhatikan ini dan tanpa pengertian ini, sajak Saudara akan senantiasa gagal.


Bukan hanya si penyair yang tertolak karyanya itu yang bisa ambil pelajaran dari surat penolakan itu. Kita pun sekarang bisa belajar dari situ. Kalau kita mau. []

[Ruang Renung #253] Huh, Tak Ada Ide

Tahun 1950, Rivai Apin menulis sajak yang padanya ada frasa "di pinggir senja", "di ujung senja". Frasa itu saya kira masih mudah ditemukan di sajak-sajak para penulis sekarang, 60a tahun kemudian. 


Terhadap sajak Rivai Apin, Jassin menulis: Sajak-sajak Saudara ini dalam bentuk dan isi tidak memberikan sesuatu yang baru dan menarik, dan lebih berat lagi: tidak ada ide! 


Hayo, kamu? Masih mau menulis seperti itu? Masih mau menerima tamparan keras seorang Jassin? Huuh, saya tak mau!

[Ruang Renung #252] Jelek, Kata Jassin

HERMAN Pratikto memaksa H.B. Jassin untuk membaca cerita pendeknya. Jassin menurut. Lalu Jassin kirim surat: Mengenai cerita pendek Saudara, "Rosita", yang saya paksa baca sampai habis atas permintaan Saudara, saya cuma punya satu perkataan: jelek.

Jadi, Saudara, memang ada karya yang buruk dan baik. Yang cemerlang dan yang bantut.  Jassin sebagai redaktur, juga sebagai kritikus, melakukan penilaian itu dan menjatuhkan vonis itu -  kalau kritik itu mau dianggap sebagai vonis.

"Itu yang tak ada sekarang dalam sastra kita. Kita tak punya otoritas kritik yang memberi legitimasi. Legitimasi itu perlu. Kalau tak ada ya yang terjadi chaos, yang ada hanya anarkis," kata Sutardji Calzoum Bachri.[]

 

[ Dongeng Kopi #005 ] Cinta yang Sempurna

KEKASIH yang sempurna? Atau Cinta yang tak bercela? Yang pertama terdengar mustahil kita temukan. Yang kedua kita yang mengupayakannya agar tercipta seperti itu di hati kita. Ah, "Kita banyak menyia-nyiakan waktu mencari kekasih yang sempurna, ketimbang menumbuhkan Cinta yang sempurna!" kata Tom Robbins. Pasti itu tertulis di salah satu novel atau buku esainya.
  
Yang pertama? Kita mencarinya. Kita berharap itu datang pada kita. Kita menduga itu ada pada orang lain, di luar diri kita. Kita mungkin akan kecewa. Yang kedua? Kita yang mengaturnya dalam diri kita. Kita yang memilih tempat tumbuhnya, kita yang menyiang gulmanya, kita yang mengatur serindang apa tumbuhnya, kita yang mengizinkan separah apa durinya melukai kita.


Sepedih itukah? Ah, tidak juga. Aku dan kopiku, kami adalah sepasang kekasih yang sempurna dan kami punya Cinta yang juga sempurna. Kami tak saling melukai, kami tak saling mencemburui! Ah....

Sunday, November 7, 2010

[ Dongeng Kopi #004 ] Hati, Otak, Cinta, dan Kopi

PENULIS (ia menulis puisi dan juga prosa) Pierre-Jules Renard alias Jules Renard (1864-1910) - punya perumpamaan yang unik untuk Cinta.

“Cinta," katanya dalam satu kalimatnya yang termasyhur, "seperti jam pasir. Ketika hati semakin penuh terisi, otak pun semakin kosong!"

Hati dan otak, seperti dua sisi tabung yang dihubungkan oleh celah kecil. Pasir yang menakar waktu itu, seperti Cinta, tak akan mengisi penuh sekaligus kedua sisi tabung itu. Begitukah, Tuan Renard?

Saya bayangkan kalimat itu tercetus saat ia mulai rajin ikut menghabiskan waktu di kafe-kafe di Paris dan di situ sejumlah penulis membicarakan perihal sastra, dan mereka menulis untuk surat kabar Parisian. Tentu saja saat itu mereka sambil menghirup kopi!

Kopiku, hmm, maksud saya cintaku pada kopiku, tidak seperti itu rasanya. Semakin hatiku terisi oleh Cinta padanya, rasanya semakin aku menemukan alasan rasional di otakku untuk Cintaku pada kopiku itu. Maaf, Tuan Renard. Rumusanmu tentang Cinta itu, mungkin berlaku untuk Cinta kepada hal lain saja, ya. []

 

[ Dongeng Kopi # 003 ] Cinta Datang Bila Kau Singkirkan Penghalangnya

TUGAS kita, kata Jalaluddin Rumi - bukanlah mencari-cari Cinta, tapi mencari dan menemukan seluruh penghalang yang kita bangun di dalam diri yang menghalangi-halangi datangnya Cinta itu. Lalu, tentu saja, kita rubuhkan ia.

Rumi, penyair Persia itu, ia bahkan telah meruntuhkan batas antara kepada cinta makhluk dan khalik. Ia bahkan telah menyatukan antara Cinta yang banal dan sakral. Haruskah Cinta itu berarti saling memiliki? Bukankah Tuhan, akan terus memiliki kita dengan atau tanpa kita mencintai-Nya?

Ah, Rumi! Dia juga yang pernah berkata bahwa Cinta tak tertulis di kertas, karena tulisan di kertas bisa dihapus.Cinta juga tak terukir di batu, karena batu bisa hancur. Cinta terpahat di hati dan di sana ia kekal selamanya.

O, kopi ini, pagi ini, aku merasakannya tidak lagi dengan lidahku saja. Aku menikmatinya dengan hatiku! Kau mau?

Saturday, November 6, 2010

Melankoli Merapi

SEBERAPAKAH kosong hati yang lama tak dihuni itu?

Tadi seperti ada seseorang yang sembunyi - dan
bertanya begitu - di kepalaku, dan aku tak tahu

Mungkin aku harus jadi pengungsi, meninggalkan
sebelas ekor ternak sapi, lalu nanti kalau aku
kembali, mereka pasti telah mati, berkubur abu

*

Seberapakah dingin sebelas derajat celcius itu?

Tadi itu, pagiku yang bertanya, dan aku tak tahu

Mungkin aku harus pergi jauh, singgah ke bandara
Di negeri di belahan bumi Selatan atau Utara

Lagi pula, aku sedang cemas pada awan panas
Enam ratus derajat yang muntah dari mulut kawah
Di gunung yang pada namanya ada kata api
Di tubuhnya ada kubah magma: mendidih-menyala!


*

Seberapakah setia seseorang pada tugas mencinta?

Aku sendiri yang bertanya pada diri sendiri, dan
aku seperti ketemu jawaban pada sebuah lagu Padi,
Pada denting gitar Piyu dan suara nyanyi Fadli

Aku mengulang-ulang mendengar lagu itu sebelas kali

Seperti tembang pengantar mati, sujud terakhir Lelaki
Penjaga Gunung, yang berkeras-hati tak mau mengungsi.

Wednesday, November 3, 2010

[Kolom] Aku & Balada Si Roy,Setelah 22 Tahun (1)

Kolom Kamisan
Oleh Hasan Aspahani
Pemimpin Redaksi BatamPos
 

Laki-laki  artinya mempunyai keberanian
Mempunyai martabat. Itu artinya percaya
pada kemanusiaan. Itu artinya mencintai
Tanpa mengizinkan cinta itu menjadi jangkar
Itu artinya berjuang  untuk menang

Alexandros Panagoulis

SI BOY terlalu berjarak dengan kami.  Ia terlalu kaya.  Kemana-mana mengendarai  mobil mewah.  Kami kala itu, bermimpi punya mobil pun tidak berani.   Lagi pula sosok fiktif yang mula-mula muncul dalam kisah serial di radio itu harus kami temui di bioskop.  Tiket bioskop buat kami adalah barang mewah.  Kata yang berhasil dipopulerkan oleh sosok ini adalah: tajir! Apa itu tajir? Kaya, tampan, digilai perempuan, plus - ini yang rada kontradiktif - rajin beribadah. Ingat, gantungan tasbih di kaca depan mobil mewahnya itu!

Kami jauh lebih akrab dengan Lupus, sosok khayalan yang dikarang oleh Hilman Hariwijaya. Lupus pas mewakili kehidupan kami – para pelajar SMA kala itu.  Dia tidak kaya, pergi ke sekolah harus berebut tempat di bis, dia bukan pelajar yang pintar, dia tidak pernah serius berpacaran,  dan dia menjalani hidup dengan ringan, riang, gembira, seakan tidak pernah serius, tapi kreatif. Lupus memperkenalkan dengan satu kata yang susah dilepaskan dari sosoknya : cuek! 

Lupus terbit dalam cerita serial di majalah Hai.  Saya kelas satu SMA saat itu dan sudah bekerja  sebagai kartunis lepas di surat kabar lokal. Honor saya cukup untuk mengongkosi gaya hidup yang menurut saya waktu itu  “paling wah”, yaitu membayar sendiri  ongkos langganan majalah Hai dan sesekali beli majalah Intisari.

Lalu, di Majalah Hai, muncullah sebuah cerita serial baru: Ballada Si Roy.  Kami langsung jatuh cinta sejak bacaan pertama dan mengidolakan tokoh ini.  Pengarangnya Gola Gong. Nama yang  gagah.  Ini jelas nama samaran. Sampai beberapa lama, sosok si pengarang bagi kami masih misterius.  Banyak rumor tentangnya, yang justru membuat si pengarang makin bikin penasaran.



Roy, lelaki kelas 2 SMA itu dideskripsikan begini:….. Dia memang keren. Badannya jangkung atletis. Tampan tapi tidak kolokan. Berbeda dari orang kebanyakan. Senyumnya memang memabukkan, bandel dan khas berandal.  Ya, itulah Roy.  Kalau ingin menyimpulkan dia dalam satu kata, dia itu: bandel!

Serial Ballada Si Roy dimulai dengan seri pertama dengan teknik  berkisah yang sangat efektif.  Ada pengenalan sekilas tentang topografi dan sejarah Kota Banten (yang sekarang jadi Provinsi sendiri). Ada penjelasan alasan kenapa Si Roy dan mamanya pindah ke kota itu. Dan tentu saja pengenalan siapa Si Roy dan kenapa dia tidak betah, dan kelak kerap meninggalkan mamanya sendirian demi memenuhi hasrat avonturirnya, siapa kawan-kawan dan siapa yang kelak jadi musuhnya.  Juga siapa saja cewek-cewek  yang naksir berat padanya dan kemudian telak patah hati dibuatnya!

Begitulah, bertahun-tahun Si Roy menjadi sosok yang hidup dalam mimpi-mimpi kami. Roy yang rajin mengantar hasil jahitan ibunya ke para pelanggan,  yang ke sekolah naik sepeda balap, dan diiringi anjing herder warisan almarhum papanya. Roy  yang hidupnya pedih.  Roy yang disingkirkan keluarga besar ayahnya. Makam ayahnya bahkan dibiarkan tidak bernisan dan ditumbuhi alang-alang.   Dalam sebuah pertemuan keluarga Roy kecil disemprot air ledeng oleh para sepupunya.  Roy  yang anjing herdernya tewas dibenamkan di laut oleh musuh-musuhnya dalam sebuah perkelahian di pantai.  Roy yang ditinggal mati sahabat-sahabatnya.  Tapi, dia adalah Roy kami yang berani.  Roy yang berpetualang – meninggalkan ibunya sendirian, ibu yang merestui petualangan anaknya meski dengan hati pedih terluka  - dari kota ke kota menyandang ransel birunya.

Ketika meninggalkan kota tempat SMA saya,  ke kota kuliah saya,  duduk di kursi penumpang Fokker -  pesawat berbaling-baling milik maskapai Bouraq kala itu -  saya membayangkan kisah-kisah petualangan Si Roy dan saya terberanikan karenanya.  Saya mengingat-ingat bait sajak Alexandros Panagoulis  - sajak itu saya kutip di awal kolom ini - yang ditampilkan di kisah pertama Ballada Si Roy: “Joe”.   Ya, Gola Gong selalu memulai kisah serialnya dengan kutipan sajak. 

***

 Kamis, 28 Oktober 2010 lalu, saya bertemu Gola Gong,  si pengarang Si Roy.  Sosoknya tentu tak misterius lagi. Roy sudah tidak ditulis lagi setelah buku ke-10, Epilog.  Saya sudah tahu nama aslinya adalah Herry  Hendrayana Harris.  Saya sudah tahu dia meninggalkan pekerjaan bergengsi di sebuah stasiun televisi, dan memilih menetap di kampung kelahirannya, mengelola komunitas yang menggalakkan kreativitas menulis dan memabaca bagi siapa saja, terutama anak-anak orang yang tidak mampu menempuh pendidikan formal. 


 Petang itu, saya duduk semeja-seperkopian bersama Joko “Jokpin” Pinurbo, Afrizal Malna dan AS “Sulak” Laksana.  Kami bicara soal puisi, tentu saja.  Soal kenapa sejak tahun 1996, sejak Wislawa Szimborska, tak pernah lagi penyair menjadi pemenang Nobel Sastra .  Dia tiba-tiba mendekati kami. Saya tak langsung melihatnya, karena kursi saya membelakangi pintu masuk restoran Hotel Pelangi tempat kami menginap.  Saya hanya menebak-nebak dengan takut.  Ini  pasti mimpi petang hari. Saya tak tahu ada atau tidak nama Gola Gong di daftar  peserta Temu Sastra Indonesia (TSI) ke-3 Tanjungpinang. 

“Eh, Gola Gong!” Saya tak tahu itu tadi yang menyapa Sulak atau Jokpin. Saya lekas menoleh.  Gola Gong malah menyapa saya.  “Hasan Aspahani ya?”  Saya berdiri menyalaminya, tak bisa mengatakan apa-apa.   “Akhirnya ketemu juga. Saya mau ketemu kamu,” katanya.  Nada bicaranya rendah, tegas dan santun.

Wajahnya letih.  Ia memang baru saja menempuh perjalanan panjang dari Jambi dan akan banyak lagi kota yang akan ia kunjungi. Ia punya pekerjaan besar mengerakkan kebiasaan membaca di tanah air. Ia perlu menemui komunitas-komunitas penggerak literasi  yang seide-sepergerakan dengan program itu.  Dari Jambi ia ke Batam dan ke Tanjungpinang. Perjalanan yang justru menyehatkan tulang-tulangnya. Ia sempat terancam lumpuh karena  pengapuran tulang. 


Gola Gong yang saya temui adalah sosok yang sungguh sederhana.  Baju dan jinsnya saya kira bukan bahan termahal  yang bisa ia dapatkan. Ia tampak tak terbebani  popularitas dan nama besarnya sebagai pengarang serial cerita yang punya ratusan ribu pemuja – termasuk saya.  Rambutnya yang ikal itu kurasa tak banyak berubah sejak ia membuka diri,  setelah lama menyembunyikan identitas: ia gondrong, dan sebagian rambutnya menutup wajah. 

Kami tak sempat bicara panjang saat itu. Dia mengenalkan Toto St Radik, nama sahabatnya yang sajaknya  kerap  dikutip di serial Si Roy.  Gola Gong dan Toto petang itu ingin menelusuri Tanjungpinang. “Nanti malam kita ngobrol!” katanya, berlalu. Aha! Setelah 22 tahun…..[bersambung]