Friday, May 12, 2006

Kisah: Apakah yang Kita Harapkan dari Hujan?

Oleh Hasan Aspahani

Apakah yang kita harapkan dari hujan?

SAYA melihatnya dari jauh saja. Saya sama sekali tak berani mendekatinya. Baju saya basah. Di luar hujan lebat dengan suaranya gemuruh. Saya tak bisa menghindari tempias. Saya memperhatikan mata tua di balik kacamatanya. Siapa tahu dia melihat ke mataku. Siapa tahu dari tatapan matanya ke mataku, saya mendapat keberanian untuk mendekatinya. Hari mulai senja. Masih hujan juga. Hujan yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan payung. Hujan yang tadi bersama saya sempat berdiri di samping tiang listrik.
Tapi, dia terlalu sibuk melayani orang-orang yang meminta tanda tangannya. Orang-orang menyodorkan buku puisinya untuk ditandatangani olehnya. Dia penyair besar. Peminat karya-karyanya datang dari banyak kalangan. Dia juga seorang profesor sastra. Saya sebenarnya ingin sekali menyapanya, berbicara padanya, dan meminta sesuatu padanya.

Tetapi, ya, sampai orang-orang tak lagi mengerubunginya, dan dia keluar menembus hujan, masuk di mobilnya, saya masih tidak punya keberanian untuk melakukan apa yang tadi sebenarnya ingin sekali saya lakukan. Saya tidak berani menyapanya. Saya tidak berani bicara padanya. Apalagi meminta sesuatu padanya, sebuah permintaan yang sudah lama saya persiapkan. Di dalam mobil yang segera berlalu saya melihat ia seperti di dalam akuarium. Kaca mobilnya basah. Saya seperti mendengar ia menggumamkan. “Aku adalah air,” teriakmu, “adalah ganggang adalah lumut adalah gelembung udara adalah kaca adalah….”

Ruang seminar itu pun sepi. Tinggal beberapa orang panitia membereskan kursi, melepas spanduk yang tadi melatari meja pemakalah. Di meja itulah tadi dia duduk menyampaikan makalah. Saya bukan peserta seminar. Saya hanya menunggu di luar ruangan. Menyiasati hujan. Ini bukan seminar gratisan. Saya tak sanggup bayar. Ketika seminar selesai saya baru masuk ke ruangan dan ah saya tak berani juga mendekatinya. Seperti ada yang menyuruh saya berhenti. Sampai dia pergi. Saya seperti kena teluh oleh bait-bait sajaknya. Ketika berhenti di sini ia mengerti, ada yang telah musnah. Beberapa patah kata yang segera dijemput angin begitu diucapkan dan tak sampai ke siapa pun.

Apakah yang kita harapkan dari hujan?

Saya pulang. Hari masih hujan. Hujan turun sepanjang jalan. Hujan rinai waktu musim berdesik-desik pelan kembali berama sunyi. Kita pandang: pohon-pohon di luar basah kembali.

Di kedai saya beli koran dan pisau. Saya tak tahu kenapa saya beli koran dan pisau. Koran sore. Ada berita apa hari ini, koran sore? Saya meskipun jarang juga, biasanya beli koran pagi. Maka, koran sore itu pun saya pakai saja untuk membungkus pisau. Saya masih menyesali kenapa tadi tak juga saya berani menyapanya dan menyampaikan permintaan yang sudah lama saya ingin ajukan padanya. Saya terus berjalan-setengah-bermimpi menembus udara yang semakin tebal asapnya. Sampai di rumah,saya merasa kantuk memberat di kepala. Mengantungi mata. Suara tik tok jam menyaingi gemuruh hujan. Saya ingin sekali bisa menginderai kembali sampai akhirnya: terpisah dari hujan. Tapi, ah, sepertinya hujan akan lama dan saya semakin menyesali kenapa tadi seteleh seminarmu saya tak juga berani mendekatinya dan mengajukan permintaan yang sudah lama saya simpan.

Apakah yang kita harapkan dari hujan?

Saya seperti tinggal bertiga kini bersama pisau dan koran. Saya tidak tahu kenapa tadi membeli koran. Saya tidak tahu kenapa tadi saya tiba-tiba juga ingin membeli sebilah pisau. Mata pisau itu seperti tak berkejap menatapku. Ia berkilat seperti membayangkan urat leher saya. Saya membuka map yang tadi saya persiapkan untuk disodorkan padanya. Map berisi puisi-puisi saya. Saya tadinya ingin meminta dia untuk membaca dan membuat kata pengantar untuk puisi-puisi saya itu. Dengan kata pengantarnya mungkin akan ada penerbit yang mau menerbitkan puisi-puisi saya. Tapi, saya ternyata tidak juga punya keberanian. Saya semakin merasa kantuk saya makin hebat. Saya ingin tidur, tetapi puisi-puisi saya mengajak saya berbincang. Begitulah, kami bercakap sepanjang malam: berdialog pada suku kata yang gosok-menggosok dan membara. “Jangan diam, nanti hujan yang mengepung kita dengan kain putih panjang lalu mengunci kita di kamar ini!”

Apakah yang kita harapkan dari hujan?

Saya akhirnya tertidur juga. Darahku berkesiap. Darahku bersikeras bermimpi tentang denyut-denyut air yang membual dari rahim bumi. Darahku terkesiap oleh mimpi tentang darah yang menggenang di jalanan dicairkan dan didinginkan oleh hujan. Itu darahku. Sopir oplet bercerita kepada pesuruh kantor tentang seorang lelaki penggemar berat seorang penyair yang terlanggar mobil yang membawa si penyair besar waktu menyeberangi hujan dan menembus jalan. Pesuruh kantor itu kemudian bercerita kepada penjaga kedai tentang seorang lelaki penggemar penyair besar yang terlanggar mobil yang membawa si penyair besar waktu menyeberangi hujan dan menembus jalan membentur aspal lalu beramai-ramai diangkat ke tepi jalan. Penjaga kedai itu bercerita kepadaku tentang seorang penggemar penyair besar yang dilanggar mobil yang membawa si penyair besar waktu menyeberangi hujan dan menembus jalan, membentur aspal, lalu diangkat beramai-ramai ke tepi jalan dan menunggu setengah jam sebelum dijemput ambulans dan meninggal sesampai di rumah sakit. Dan aku ingin sekali bercerita padamu tentang peristwa itu.

Apakah yang kita harapkan dari hujan?

Pagi hari saya terbangun. Darahku tak lagi berkesiap meskipun masih hangat jejak mimpi semalam dalam kepalaku. Saya seperti mencium bau yang mengingatkanku akan sesuatu yang kini sudah bukan milikku lagi saat saya membuka jendela. Koran sore di meja masih terhampar di koran bersama pisau. Saya menduga ada berita kecelakaan mobil di koran sore itu. Tapi, ah berita itu tentu sudah sangat basi kalau saya baca pagi ini. Cahaya matahari meloncat ke dalam dan tampak olehku seperti ada yang satu demi satu bangkit dari lantai. Menjelma semacam gas. Namun masih kaudengar engahnya mendaki berkas-berkas sinar matahari. Saya merasa tidak memerlukan kata pengantarnya lagi untuk sajak-sajak saya yang entah kapan akan saya bukukan. Saya berharap sore nanti akan hujan lagi, tapi…..

Apakah yang kita harapkan dari hujan?


Tiban Indah Permai 8 Mei 2006.

* Sebagian besar kalimat dalam kisah ini datang dari sajak-sajak Sapardi Djoko Damono. Lacaklah!