Tuesday, July 20, 2004

Dongeng Tukang Buat Dingklik

/1/



Sambil duduk lesehan, dia membayangkan

dingklik-dingklik yang pernah dia ciptakan.



"Semoga saja, mereka tak lupa dan terus mengerti

bahwa menjadi dingklik adalah menerima takdir

untuk direndahkan...." gumamnya dalam sendiri.



Dia ingat dulu pesan yang selalu dibisikkannya

kepada semua dingklik yang pernah dia ciptakan,

"Kemuliaan bagi sebuah dingklik adalah pasrah diduduki..."



/2/



Sambil baring-baring di tikar anyaman, dikenangnya,

dulu ketika dia pertama kali berkenalan dengan dingklik.



"Ah, jangan terlalu berlebihan, aku cuma sebuah

dingklik. Tak ada apa-apanya dibanding kursi atau...."



Itulah benda pertama yang dikenalnya sebagai perabotan.

Sebuah dingklik sederhana yang sering dipakai ibunya

sebagai penggilasan kalau mencuci di sumur.

Sebuah Dingklik yang sering jadi talenan

kalau dia menyiangi ikan hasil pancingan.

Sebuah dingklik yang juga didudukinya

ketika meraut bambu jadi layangan.



/3/



Lalu nasib mendudukkannya di sebuah bengkel kusen.

Di sisa-sisa waktunya, dengan sisa-sisa kayu

dibuatnya beragam dingklik-dingklikan.



Dengan sepenuh cinta, dingklik itu diberinya warna

dan kalimat-kalimat seadanya,

seperti: "jangan lihat penampilan, yang penting kegunaan,"

atau begini: "this is a recycle dingklik!"

kadang-kadang begini, "dingklik is furniture for nature..."

dan bisa juga begini, "berdingklik-dingklik dahulu,

bersenang-senang kemudian."



/4/



Tak disangka, dingkliknya banyak peminatnya.



Mula-mula dia memberikannya saja kalau ada yang meminta.

Lama-lama, orang rela membayar sekadarnya.

Dia pun terus berkarya dan tak henti berpesan:

"Kemuliaan bagi sebuah dingklik adalah pasrah diduduki..."



/5/



Pada suatu ketika, ketika tiduran di bale-bale,

dia bermimpi bertemu dengan dingklik-dingklik ciptaannya.



Betapa sedih hatinya, mendengar keluh mereka.

"Entah kami harus bangga atau berduka,

di rumah orang-orang kaya yang membeli kami,

kami ini dijadikan hiasan belaka..."



Entah, dia pun tak tahu harus bangga atau berduka.

Tapi, dia masih terus saja memproduksi dingklik,

mungkin untuk selama-lama. "Kemuliaan...," ujarnya

tanpa meneruskan hingga kalimatnya itu tertuntaskan.