Saturday, March 4, 2006

Tak Tahu Sebab, Apa Sebab,
Kita pun Lupa Berbagi Jawab



INI perahu pun terus berlayar. Kita jauh terlempar.
Pada pulau tak lagi berkabar. Kita jatuh terdampar.

Jejak dikejar ombak, lalu kaki lekanglah langkah.
Pantai ditolak lambai, maka hati palinglah arah.

Batang-batang kelapa rebah, menjemput tangan laut.
Tiang-tiang dermaga patah, kita rubuh, disentuh maut!

Manakah kapal? Mana kapal bersandar menjemput?
Hanya ada rusuk kayu, sauh patah, di lumpur surut.

TANPA laut, kita hanya duduk di warung lapuk, para
nahkoda mabuk, pada kemudi tak sampai lagi peluk,
menenggak kerak arak, membiarkan bulan bengkak,
lalu lukanya pecah, hujan nanah, kota dikutuk sumpah.

Ah, kita sudah lama piatu ditinggal Bapa Pembuat Perahu,
yang khatam mengajarkan arah angin: 360 mata penjuru!


TANPA kapal, kita hanya bertaruh, mengadu kayuh,
kelasi-kelasi lumpuh, yang tak ketat lagi memeluk badai,
tali tali cuma meliliti leher, tergantung di tiang: layar patah.

Ah, kita sudah lama yatim, ditinggal Ibu Penggambar Peta,
kini, tak tahu sebab, apa sebab, kita pun lupa berbagi jawab.