Monday, December 10, 2007

Perilaku Seksual Bahasa Mikael

... dan sebuah mulut berahi kudengar memaki:
'Bangsat, kenapa aku di sini!"


("Potret Taman untuk Allen Ginsberg", Goenawan Mohamad)


BAHASAKU dan aku lahir dari dua ibu yang tak menikah,
(di bait akhir sajak ini kau akan tahu apa alasannya).
Mereka berdua tak bisa berpaling dari pertanyaan itu,
"Hei, lidah kalian, sepasang lidah lesbian, bukan?"

Mereka bertemu di sebuah mal besar. Ibuku tak bisa
menghindar. Seperti sekudap donat dan pizza bundar,
juga tak bisa mengelak dari janji di lidah mereka.

Bahasaku lahir setelah ibuku memesan benih di bank
sperma - mungkin - dari Australia. Dua ibuku sedang
menikmati posisi 6:9 ketika aku lahir bersama bahasaku.

Di rahim siapakah aku dijaninkan? Kedua ibuku pun tak
tahu. Aku tiba-tiba saja sudah ada ada di lidah mereka.
Aku dan bahasaku dipertemukan jilatan dua lidah itu.

Lidah ibuku adalah lidah yang biasa saling berdusta.
Tapi, mereka pasangan yang jujur. Ada masanya mereka
saling membuka semua yang sembunyi di balik kata.

Mereka sedih ketika menyadari betapa banyak yang tak lagi
bisa lahir dari lidah mereka, dan kelak di lidahku juga.
(bait ini bisa juga kau baca begini: Kadang bahasaku
harus juga berkali-kali menggugurkan kandungan maknanya)


Kata-kata dalam bahasaku adalah tempat aku sembunyi.

Lidahku tak bisa lagi menyetubuhi bahasa dengan posisi
misionaris saja. Kami suka, gaya yang menganjing juga.

Kalau lidahku menyetubuhi bahasa lain selain bahasa
yang lahir bersamaku, maka aku bukannya ingin menolak
perkawinan sedarah. Bagiku, bagi lidah ibuku, memang
tidak ada lagi lembaga perkawinan itu. Tidak ada lagi!
(pengulangan 3 kata - "tidak ada lagi!" disengaja agar
larik terakhir itu seimbang dengan larik sebelumnya).

Aku & bahasaku bahagia berperilaku seksual seperti itu?
(Ah, bait ini seharusnya tidak ada. Coba meneliti lagi
ke bait pertama, di bait mana ia janjikan alasan itu?)