Sunday, December 23, 2007

Kisah Sepasang Terompet

SUDAH lama kami tidak bersapaan. Sebagai sepasang
kekasih, hubungan kami sudah di ambang perpisahan.

Di penghujung Desember, aku singgah di rumahnya.
Dia sedang menerawang tenang di beranda depan.

"Hai, honey, boleh aku temui terompet lamamu itu?
Terompet yang tahun lalu pet-pet-petnya berhasil
mengganti tahun kita yang lama menjadi tahun baru?"

Dia masih menerawang, matanya menatap ke dalam
matanya sendiri, saat dia berkata, "Mungkin saja
dia ada di teras samping. Tadi kulihat dia masih
di sana. Kesepian. Aku sudah bosan meniupnya.
Aku disiksa kenangan kalau mendengar suaranya."

Aku pun bergegas menuju ke arah yang ditunjuknya.
Kutemukan terompet itu rontok rumbai-rumbainya,
peyot corongnya, dan aduh nyaris koyak mulutnya.

"Keterlaluan, terompet kenangan kok disia-siakan."
Aku teringat terompetku yang kutinggalkan di rumah.

*

TANPA pamit dan minta izin padanya, sang terompet itu
kuajak pulang, untuk kupertemukan dengan terompetku.

Mereka berdua langsung saja berpelukan erat sekali.
Dua mulut itu berpagutan seakan tak mau dilepaskan.

"Wah, sedang apa kalian?" tanya saya. Mereka bilang,
"kami sedang belajar saling tiup, saling membunyikan."

*

DI malam tahun baru ini, ingin sekali aku singgah di
rumahnya. Ingin sekali aku sampaikan kisah perdamaian
sepasang terompet: terompetku dan terompetnya itu.