Saturday, May 24, 2008

Tiga Belas Cara Saya Membaca Sajak Nirwan (3)


Oleh Hasan Aspahani




3. Yang Menghindar dan yang Tersandung

PENYAIR kita ini, Nirwan Dewanto, menulis sajak-sajak yang kemudian terhimpun dalam Jantung Lebah Ratu di Jakarta. Ia menetap di Jakarta. Ia berproses di Jakarta. Ia menjalani kehidupan di sana, tentu sambil sesekali bertolak ke kota-kota atau ke dusun-dusun lain. Ia menghirup ruap uap kehidupan kota itu. Ia tentu lebih banyak mengudarai paru-parunya dari atmosfer kota itu.

Buat saya, menjadi sangat penasaran ketika menemui sajak-sajaknya yang sangat tidak mengota. Ia menjauh dan berhasil bebas dari imaji-imaji perkotaan, yang bagi sebagian penyair Jakarta lain pasti sulit, atau memang tidak ingin dihindari.

Nirwan bisa menghindari - mungkin dengan sengaja dan dengan upaya keras - idiom-idiom perkotaan, lalu pasti dengan tenaga mencipta yang luar biasa, kegelisahan yang keras, kecerewetan pada diri sendiri yang nyinyir, kritik-diri yang pedas, ia menarik, mendekatkan, menguasai kata-kata yang rasanya berasal dari khazanah yang jauh dari gapaian tangan kepenyairannya. Satu sisi ini bisa dianggap sebagai sebuah upaya yang berhasil melahirkan ucapan yang berbeda misalnya dengan Binhad Nurrohmat dan Zen Hae dua penyair yang juga sama bermukim di Jakarta.

Binhad pada satu sisi asyik memanfaatkan dan mengolah pengamatannya dan atau penghayatannya atas gaya hidup orang-orang kota. Orang-orang yang risau, bertahan mati-matian, atau larut saja dalam mengikuti pasang-surut arus moralitas-seksualitas. Zen Hae di sisi lain seakan berteriak melihat alam yang tidak alami lagi dan ruwet bahkan rusak. Tengok bagaimana dia menghadirkan matahari dalam sajak-sajaknya selalu dengan tampilan yang tidak beres. Matahari yang rusak.

Nirwan tentu dengan sadar menghindar untuk menempuh jalan Binhad dan Zen Hae. Ini tentu strategi yang ia pertimbangkan dengan matang. Tapi jurus mengelaknya di Jakarta tersandung di tempat lain di waktu lain yang bahkan jauh mendahuluinya. Mari kita bandingkan. Bisakah kita membedakan selang-seling bait-bait kuatrin berikut ini:


a1. Maka membisik burung-burung matahari
di antara degup darah kita.
Pergilah ke rimba, terbangkalah ke udara
ada jendela hari yang belum terbuka.


(Rumput-rumput Bernafas, 2001)

a2. Matamu badam biru dari bawah seprei
- sepasang terakhir kubawa mati -
sambil kupahatkan busur pinggangmu
pada cermin berlumur darah lembu.


(Gandrung Campuhan, 2006)

Juga dua bait berikut ini:

b1. Ketika teluk timur dan perempuan-perempuan
tercabik selendangnya oleh ranting bakau,
sungai siak terisak, menciumi bayang-bayang
desember yang telentang, bau bangkai arang.


(Teluk Timur, 2002)

b2. Lempang pematang oleh mata dara,
terbang kiambang oleh mata buah ara,
tapi tak lagi menjulai malai jantungku
sebab sembunyi darahmu di pucuk meru.


(Madah Merah, 2006)

Bisakah dengan mudah dibedakan yang satu bait siapa dan yang lain bait siapa? Tidakkah kita akan menduga bahwa ini dihasilkan oleh satu penyair yang sama? Bait-bait pertama saya petik dari Marhalim Zaini (Segantang Bintang, Sepasang Bulan; Yayasan Pusaka Riau, 2003), bait pengiring dari Nirwan.

Saya mau bilang, bahwa jurus Nirwan yang menggali ke akar lama untuk mendapatkan ucapan-ucapan baru dalam sajaknya tidak terlalu mempesonakan saya. Kenapa? Karena saya sudah terpukau pada sajak-sajak serupa dari penyair-penyair lain (terutama di Riau) jauh sebelum Nirwan, seperti yang saya contohkan, saya mendapatkan itu dari Marhalim (Lahir di Bengkalis, 1976) penyair Riau yang kala itu masih membangun tapak dasar kepenyairannya dan sedang banyak menetap di Yogyakarta, masih gondrong, kurus, dan belum berkaca mata.

Tidak salah, penyair siapa saja memilih bentuk-bentuk sajak lama itu. Tapi rasanya, buat Nirwan terlalu mudah jika bentuk lama itu diberinya "isi" yang juga "lama", isi yang tidak menawarkan kebaruan.

Di mata saya, Marhalim fasih dengan ucapan itu karena dia memang penutur asli, dan Nirwan walaupun tampak sama fasihnya, di mata saya tetaplah seorang yang memperoleh kafasihan itu lewat kursus dan disiplin diri yang keras, dan saya baru yakin bahwa dia telah lulus dan layak memakai ucapan-ucapan itu bila ia tunjukkan pada saya semacam nilai TOEFL-nya.(bersambung)