Tuesday, May 13, 2008

Saya menulis 11 Gurindam. Kompas memuat 9. Inilah dua Gurindam yang tak termuat itu.

10. Gurindam Pasal yang Kesepuluh:
Menuju Sajak, Jalan Sajak

Bila kau berkata, "aku sedang menuju sajak!"
Yakinkah kau? Kau sedang menempuh jalan Sajak?

Bila kau berkata, "aku telah sampai pada sajak!"
Tahukah kau? Selalu ada yang lebih Sajak dari sajak?

Bila kau berkata, "aku telah menemu yang paling sajak!"
Sadarkah kau? Saat itu kau ditinggalkan banyak sajak?

Bila kau berkata, "aku bersajak, ah, percuma saja!"
Padahal sajak adalah pemakna pada yang sia-sia.

Bila kau berkata, "aku tak menemu diri dalam sajakku"
Sajak membawa kau mengenali dirimu dalam dirimu.



11. Gurindam Pasal yang Kesebelas:
Ladang Sajak, Ladang Mawar


Tanah hitam di ladang sajak yang mawar,
menyimpan cinta, mendekap tubuh akar.

Embun mandi di ladang sajak yang mawar,
memanggil, lalu datang pelangi selingkar.

Sinar matahari di ladang sajak yang mawar,
mengecup pipi pagi, rindu semalam terbayar.

Semak gulma di ladang sajak yang mawar,
tanggal gugur duri, tinggal sesulur yang sabar.

Angin datang lalu, di ladang sajak yang mawar,
memetik wangi-wangi, menebar benih kabar.

Diam batu di ladang sajak yang mawar,
menahan-nahan takjub meredam debar.

Siul-siul serunai di ladang sajak yang mawar,
ketika sepi pun ia, alangkah merdu kau dengar.

Burung hinggap di ranting sajak ladang mawar,
bermimpi rajut sarang di mekar kelopak mekar.

Akulah Petani Puisi, di ladang yang mawar,
memetik sajak-sajak di tangkai cahaya fajar.