Monday, May 12, 2008

Kebohongan tentang Jakarta, Mikael!

Sajak Kavi Matasukma


         Dalam diri orang sinis adalah seorang
         idealis yang kecewa -- George Carlin



AKU tak tahu seperti apa
         rasanya dikangkangi New York, Tuan Rendra!

Aku melihat pedih di selangkang Jakarta
Aku melihat seribu cukong berak di atas kepalanya.

Kakiku sebelah tertinggal di Soekarno-Hatta,
aku lari pincang dan tak sampai juga ke Istana Negara
Maskapai Lion Air itu tadi
         bikin papan jadwal mahal itu tidak berguna.

"Buat apa singgah di istana?"
         kudengar seperti Binhad yang bertanya,
         "Presiden tidak ada, dia sedang menyusun
         pidato di rumahnya,
         dia mau tampil di Asian Idol, ha ha ha ha!"

"Datang saja ke Kampus Lidah Buaya.
         Barangkali masih bisa kau temui Tardji di sana,
         malam belum terlalu tua, biasanya
         ia sedang menghitung sajak dan sisa usia."

Dan Jakarta menyala,
(Jakarta selalu menyala)
         huruf-huruf raksasa memaksa mataku membaca
         berbagai merek rokok, kondom dan pil stamina.

[Dan aku hanya Kavi Matasukma,
aku mencari kekasihku Shania Saphana.
Aku tahu dia tak ada di manapun di Jakarta,
aku datang, biar saja, aku hanya mencarinya.
Aku hanya ingin teriak bertanya, "Jakarta, di mana
kau sembunyikan kekasihku Shania?"]

AKU tak bertemu kubur-kubur pergi
         berlayar membawa pelabuhan, Tuan Tardji!

Aku melihat Jakarta berjalan mengangkang
Aku melihat tangan-tangan menadah pada selangkang.

Sebelah tanganku masih berpegangan di tangga pesawat.
Kalah gesit dengan tangan dari kota-kota yang jauh,
tangan Surabaya, tangan Papua. Mungkin juga Yogya.

Tangan yang mengepal dan mengacung sambil berseru:
"Aku menantangmu Jakarta, lawanlah aku, hei Penyair Tua,"
kudengar seperti Saut Si Penyerang. Menyerang.
"Sampai tak ada hutan lagi. Tak ada kayu lagi,
di Jakarta yang suka berdusta. Ha ha ha ha!"

Si Penyair Tua tak sedang di sana. Ia sedang di Salihara
         membangun blackbox pertama di Jakarta.
         Saut, ia tidak menyiapkan makamnya.

Dan Jakarta terus menyala.
(Jakarta makin menyilau pada mata)
         Tapi orang-orang sembunyi di ruang remang.
         Sembunyi dari dusta sendiri.

Engkaukah itu? Lelaki tanggung yang bicara
         kebenaran tentang Jakarta? Membaca
         makalah di PDS H.B. Jassin, dengan ludah asin?
         (Aih, di Reader's Digest aku mengutip George Carlin)
         Lalu memaki Sitok dan Nirwan,
         menahbiskan Jimmi Multazam sebagai penyairmu,
         sambil mengutip Tuan Rendra: Bersatulah
         pelacur-pelacur kota Jakarta! Ha ha ha ha!

Engkaukah yang tak lagi berpura-pura bekerja di
         Jurnal Perempuan? Tapi kenapa pula berpura-pura?
         Begitu angkuhkah tubuhmu untuk meneteskan
         keringat, setetes saja? Atau karena kau merasa
         telah berdialog dengan arwah Umar Kayam?

[Ah, aku hanya Kavi Matasukma,
aku mencari kekasihku Shania Saphana.
Aku tahu dia tak ada di manapun di Jakarta,
tapi bolehkah kubayangkan kau pertemukan
kami di Stasiun Kota? Atau di dindingnya
kutuliskan saja, "Kavi Matasukma tidak dari
mana-mana, di manakah kau Shania Saphana?]