Sunday, November 14, 2010

Manusia Pasien

KAMI manusia pasien. Mengapar di ruang perawatan, kelas sangat miskin.

Mulut hanya masin, karena kami mengunyah garam pasir, agar darah tetap
berdesir mengalir, berhulu muara jantung, menghilir ke syaraf yang ujung.

Jantung kami, sudah berkali-kali tiba-tiba berhenti, terhimpit marah sendiri,
kami mendadak mati, dan dipaksa hidup lagi: tetap ada di rumahsakit ini.

*

Kalian suka mengirim datang ke sini, wanita bermahkota di luar kepala,
dadanya membawa pisau-pisau, nanti pisau itu menikami tubuh kami,
menugalkan luka-lubang-tanam tempat tumbuh subur marah yang lain.

*

Tubuhku cincangan timun, dirajang marah kami sendiri, direndam dalam
cairan cuka, air mahamasam: air dari luka-luka di tubuh kami itu sendiri.

Kami tidak sakit. Kami disakitkan. Kalian suka melihat kami menderita?