Saturday, January 23, 2010

[Tadarus Puisi 037] Memang Ada yang Layak Ditunjukkan

Kwatrin Seperti Ada Yang Ingin

Sajak Ridwan Firdus


: kepada sebuah nama


Seperti ada yang ingin disampaikan
Oleh sepasang mata kita yang malu-malu
Itu, yang diam-diam saling bertukar pesan
Tentang semacam isyarat, semacam rindu

Seperti ada yang ingin diceritakan
Lewat senyuman manis dan tanganmu yang
Menengadahkan gerimis: mungkin kenangan
Yang perlahan meleburkan namaku dan namamu

(2009)

PUISI,  tubuh puisi, bisa dengan serta-merta menyiratkan (dan menyuratkan) dari tangan penyair seterampil apa dia dituliskan. Sajak ini misalnya. Sesungguhnya, ia amat sederhana. Dan itulah kekuatannya. Penyairnya tidak ingin menggamblangkan sesuatu yang ia sampaikan. Karena mungkin dia tidak bisa dan memang tidak perlu. Maka, ia pun menyeolah-olahkan, menyemacamkan, atau menyepertikan saja.  

Puisi ini saya rasakan lahir dari pengamatan dan penghayatan atas perasaan-perasaan kecil dengan amat jeli.  Karena itu ibarat aliran darah, dia mulus sekali, tak ada ganjalan di seluruh pembuluhnya. Ibarat tarikan nafas, dia lancar, tak tersendat oleh gumpalan filek.  

Saya memperhatikan frasa "menengadahkan gerimis".  Sekilas mungkin itu terasa sebagai sebuah kesalahan pemakaian akhiran 'kan'. Mungkin yang pas adalah "menengadahi".  Kalau ini kesalahan, saya kira penyairnya melakukan dengan sengaja. Ini semacam 'kenakalan' berbahasa dan itu adalah modal penting bagi seorang penyair.  Saya menyukai itu, tapi saya tak terlalu bisa menjelaskan kenapa saya suka.   Mungkin karena dari situ tercipta tarik-menarik, tolak-menolak antara tangan dan gerimis. Seperti ada rebutan memiliki kata tengadah itu antara tangan dan gerimis.  Juga karena dari situ tercipta gema bunyi "...an", yang datang berulang-ulang. Saya seperti mendengarkan serangkaian koor yang indah. 

Di blognya Ridwan Firdaus - dia yang menulis sajak ini - berkata, "Aku menulis puisi karena ingin orang-orang tahu bagaimana aku memandang dunia lewat tulisan".  Saya kira sajak di atas adalah contoh yang berhasil bagaimana penyair merukunkan niat menyairnya.  Kalau cara pandang yang ingin ditunjukkan itu biasa-biasa saja, buat apa ditunjukkan?  Tapi, sajak di atas, ditulis dengan cara pandang yang istimewa. Dunia kecil yang dihadirkan adalah dunia yang layak ditunjukkan. Tahniah!