Saturday, March 13, 2010

[Mempercakapkan Chairil # 01] Yang Muda yang Menghayati Hidup

CHAIRIL lahir tahun 1922. Pada tahun 1942 - pada usia 20 tahun - ia menulis sajak "Nisan". Ini sajak sulungnya yang kita terima. Ia pasti ada menulis sajak sebelum itu, sajak yang ia simpan, karena dia anggap belum menjadi, lalu hilang tak tersimpan, tak terlacak lagi, atau belum memuaskan dia.
Inilah sajak yang ditempatkan pada urutan pertama di kumpulan sajak lengkapnya "Aku Ini Binatang Jalang" (Gramedia Pustaka Utama, Editor Pamusuk Eneste).



Pemuda seusia itu, menulis sajak "Nisan", begini:

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
dan duka maha tuan bertakhta.



Sajak yang pendek saja. Sebuah kwatrin. Dengan rima yang tertib. ABAB. Sebuah bentuk formal persajakan yang lazim dipakai oleh penyair pada masa itu.

Pada masa itu, Rosihan Anwar menulis sajak begini:

Bukan sahaja permainan kata
Benar lantaran Keyakinan jua
Hingga tak segan bila ketikanya
Hendak dikorban sekalipun jiwa.



Pada masa yang sama, Anas Ma'ruf menulis sajak begini:

Hati berontak meradang bengis,
Garang dan nekat mungkin terjadi,
Terbatas segala ratap dan tangis,
Hidup menyesali nasibnya sendiri.



Kalau kita baca sekarang, dua contoh sajak selain sajak Chairil di atas, terasa kedua sajak itu gayanya jadul sekali. Sementara milik Chairil sampai saat ini masih terasa baru!

Kata-katanya, sama saja. Kecuali kata "sahaja" di sajak Rosihan yang langsung bikin kita terasa terdampar di sekolah rakyat. Jadi, kalau pilihan kata yang tersedia sama, berarti itu tidak jadi masalah. Maka pasti kekuatan sajak Chairil ada pada bagaimana cara kata-kata itu digubah. Ini kerja menyair yang sesungguhnya: menemukan cara ucap sendiri, bagi sajak-sajaknya sendiri. Dan Chairil berhasil melakukan itu.

Ini soal kemahiran (dan kecerdasan berbahasa). Soal lain adalah bagaimana Chairil menghayati hidup untuk ia sajakkan. Ia bicara soal kematian. Ia sampai pada rumusan yang jenius: bukan kematian benar menusuk kalbu. Sajak ini terus-terang ia tulis untuk (atau karena) kematian neneknya. Perlu kita lacak, pada masa itu, frasa "menusuk kalbu" sepertinya bukanlah gabungan kata yang lazim. Chairil menciptakan paduan itu untuk menyatakan perasaannya.

Sajak ini, bicara soal ketabahan menerima maut yang menandai ketibaan segalanya. Chairil untuk kepentingan persajakannya mempersonifikasikan "nisan", metafora dari maut itu. Ia menyebutnya sebagai "tuan", yang hanya setinggi itu (berjarak) dari debu, rendah sekali. Hina sekali. Debu itu lalu disejajarkan dengan "duka" (sebuah persandingan yang bagi saya mengejutkan).

"Tak kutahu...", kata Chairil. Itu artinya, dia mau bilang, "baru aku tahu....". Ini pilihan cara mengucap yang menurut saya juga sangat orisinal. Dan itu ditulis oleh seorang penyair berusia 20 tahun! Pada usia itu, tak sedalam itu penghayatan saya atas kehidupan. Tak sehebat itu penguasaan saya atas bahasa.

Sajak pendek ini mengajari kita banyak hal untuk menjadi penyair yang hebat: penghayatan yang dalam atas hidup, dan kemahiran menguasai bahasa sebagai alat untuk mewujudkan nilai-nilai hasil menghayati kehidupan itu. []