Wednesday, March 17, 2010

[Mempergunjingkan Chairil # 05] Melahirkan Bahasa Baru

CHAIRIL Anwar, Asrul Sani, Rivai Apin. Mereka adalah "Tiga Menguak Takdir", sebagaimana judul buku puisi yang mereka terbitkan bersama. Ada kesamaan di antara mereka: sama-sama rakus membaca sastra asing. Tapi, toh hasilnya berbeda. Chairil mencuat menjadi penyair terkuat di antara mereka bertiga.


Dalam hubungannya dengan sastra asing - demikian Sapardi Djoko Damono menilai - Chairil Anwar tidak menerima pengaruh itu secara pasif.

"Ia sengaja 'merebut' pengaruh dari apa saja yang dibaca, disadur, dan diterjemahkannya -- dan kemudian dipergunakannya untuk tidak hanya mengembangkan tema, tetapi juga untuk menciptakan cara pengungkapan baru, 'bahasa' yang baru, yang berbeda dari yang dipergunakan oleh para penyair yang sebelum peran g menyiarkan sajak-sajak terutama dalam majalah Poedjangga Baroe, yang tetap juga dipergunakan oleh para penyair di zaman Jepang," kata Sapardi dalam "Chairil Anwar: Perjuangan Menguasai Konvensi", makalah yang ia paparkan di hari peringatan Chairil Anwar, di Pontianak, tahun 1995.

Jadi, kekuatan Chairil adalah membaca! Dia pembaca yang lapar dan lahap. Dia membaca sajak-sajak luar, yang berbeda dengan sajak-sajak yang ada di negeri ini pada zamannya. Dari situ dia mendapatkan perbandingan, dari situ dia memperkaya khazanah baru bagi persajakannya.

Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana dia membaca? Lalu apa yang dilakukan setelah membaca? Chairil menerjemahkan, menganalisa, menyadur, mengunyah dan tidak menelan mentah-mentah segala pengaruh dari bacaan itu.

"Pada dasarnya," kata Sapardi, "menerjemahkan adalah suatu proses menciptakan cara pengungkapan baru dalam bahasa sasaran bagi pengalaman yang terkandung dalam bahasa sumber."

Lalu, kata Sapardi selanjutnya, jika pengalaman itu merupakan hal asing juga dalam kebudayaan bahasa sasaran, yang harus dilakukan penerjemah adalah menciptakan cara pengungkapan baru.

"Proses seperti itulah yang kira-kira terjadi pada Chairil Anwar; dari proses itu lahir "bahasa baru" dalam puisi Indonesia," kata Sapardi menyimpulkan.

Apa yang tidak bisa ditiru dari Chairil? Apakah sekarang mustahil bagi kita, melahirkan lagi sebuah atau beberapa "bahasa baru" dalam puisi Indonesia? Saya jawab: bisa!***