Tuesday, November 6, 2007

[Majas # 012] Hiperbola

HIPERBOLA. Pengungkapan yang dilebih-lebihkan sehingga kenyataan yang diungkapkan itu menjadi terasa tidak masuk akal.

Di dalam puisi, sebenarnya, tidak ada yang tidak masuk akal. Ketika menyair, penyair justru seringkali melawan batas-batas akal itu untuk membuka kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa dicapai oleh bahasa.

Gaya bahasa hiperbola kadang dekat, berhimpit, atau bertumpangan dengan gaya bahasa metafora, simile, atau metonimia. Ya, seringkali, untuk mencapai bahasa yang bertenaga dan membetot perhatian, metafora dibuat dengan berlebih-lebihan, meloncati kenyataan, dengan hiperbola juga.

Bila dalam percakapan bisa, gaya bahasa hiperbola berkesan negatif, karena yang dilebih-lebihkan itu dekat kepada yang didusta-dustakan, maka dalam puisi sebuah hiperbola justru bisa menjadi kekuatan. Asalkan gaya bahasa itu memang dipakai pada saat yang pas.

Contoh:

a. Sony Farid Maulana

aku dengar kegaduhan badai
seperti reruntuhan dadamu yang remuk
dihantam gada kehidupan kota besar:

....

("Darah Hitam"; dalam buku "Secangkir Teh"; Grasindo: Jakarta, 2005)


sorot matamu
walau tampak berkabut
terasa api mencairkan alir darahku
yang nyaris beku di kulkas kesepian

....

("Prosa Hitam"; ibid)

.... Sungai bukan lagi
tempatku bercengkerama dengan ikan-ikan. Alirannya,
mengaduh pedih disilet limbah industri

....

("Sebuah Potret Dunia Ketiga", ibid)


b. Toety Heraty

isyarat sesat tak mewujudkan manfaat
disodorkan olehnya asbak penuh meluap

....

("Pengertian", dalam buku "Mimpi dan Pretensi"; Balai Pustaka: Jakarta, Cet. ke-3, 2000)


sekali tegak racun dan duka membuat
syaraf menyala-nyala


("Jembatan", ibid)


c. Gus tf


dan di suatu tempat pada suatu ketika, kubur-kubur
dibongkar
rangka-rangka dibakar
: tegakkan!....

("Isme Kejadian", dalam buku "Sangkar Daging", Grasindo: Jakarta, 1997)


siapa mengirimku ke sini, dalam amplop terbuka begini
bisingnya! kudengar
beribu-ribu suara, dari beribu-ribu
berhala
beribu-ribu dunia, beribu-ribu kamera
: tapi tak ada
orang yang kaukatakan telah menunggu sejak lama
mengulang manusia


("Pemandangan", ibid)