Sunday, December 28, 2003

Oda Bagi Tomat

Sajak Pablo Neruda








Jalanan

penuh berisi tomat,

tengah hari,

musim semi,

sinar terang

terbelah

bagai

sebuah

tomat,

saribuahnya

mengalir

menderas di jalanan.








Ini Desember,

takteredakan,

tomat-tomat

menyerbu

dapur,

dia datang waktu makan siang,

menyelinap

ke atas gerai dapur

di antara gelas-gelas,

mangkuk mentega,

biru toples garam.








Ia menanggalkan

cahayanya sendiri,

keagungan yang ramah.

Malangnya, kita mesti

membunuhnya:

pisau

terbenam pada

daging segar,

merah isinya

matahari

yang dingin,

dalam,

tak habis-habis,

berdiam di salad-salad

di Negeri Chili,

bahagia, menyandingi

bawang putih,

dan bagi merayakan perkawinan itu

kami

curahkan

minyak sayur,

sari zaitun,

ke separuh hemisfer,

merica

datang menambahkan

aromanya,

garam, daya magnetnya;

Itulah pernikahan

teragung hari itu,

daun seledri

menggerek mengibar

bendera,

kentang-kentang

menggelembung dahsyat,

dan aroma

daging panggang

mengetuk pintu,








Ha, inilah saatnya!

Ayo!

dan, di

atas meja, di tengah

panasnya musim panas,

sang tomat,

bintangnya bumi, berulang

kembali dan bintang

yang subur,

memajang

belitannya,

kanalnya,

ayun angguk luar biasa

dan berlimpah jumlah,

tak ada lubang,

tak ada sisa kulit,

tak ada daun atau duri,

tomat rela menawarkan

persembahannya

warnanya menyala

dan sejuknya kesempurnaan.