Friday, April 7, 2006

Obrolan dengan Joko Pinurbo
"Urusan Saya dengan Puisi Belum Beres"


LEWAT pesan-pesan pendek (SMS), saya bertanya-jawab dengan penyair Joko Pinurbo. Empat hari (4-7 April 2006) dia melayani kerecokan saya. Saya kira dialah penyair dengan karya yang paling segar dan paling luas penggemarnya saat ini, termasuk saya yang mengoleksi enam dari tujuh bukunya.

Joko Pinurbo sudah menerbitkan tujuh kumpulan sajak. Celana (Indonesiatera, 1999), Di bawah Kibaran Sarung (Indonesiatera, 2001), Pacarkecilku (Indonesiatera, 2002), Trouser Doll (2002), Telepon Genggam (Penerbit Buku Kompas, 2003), Kekasihku (Kepustakaan Populer Gramedia, 2004) dan Pacar Senja (Grasindo, 2005).

4 April 2006

HAH: Semoga telepon genggam sampeyan tidak sedang tidur di kuburan, dan belum dibuang ke laut. Salam kenal, saya Hasan Aspahani.

(Saya mengutip sajak Selamat Tinggal dari buku Telepon Genggam).

JP: Terima kasih. Salam juga. Masih bikin 'kamus'?

(Yang ia maksud adalah enam sajak 'kamus' saya yang dimuat di Kompas, 18 Desember 2005).

HAH: Terima kasih, sudah baca sajak itu, masih sampai nggak asyik lagi. Kapan buku barunya? Saya punya semua buku sampeyan. Tidak membosankan, panjang umur dan cetak ulang selalu, ya?

(Kalimat terakhir itu saya cuplik dari sajak Selamat Ulang Tahun, Buku dari buku Telepon Genggam juga).

JP: Wah, saya lagi macet nulis. Sedang mulai membangun rasa-puisi lagi.

HAH: Nah, itu dia. Bagaimana aja caranya?

5 April 2006

JP: Lagi saya cari caranya. Setiap puisi ternyata punya cara sendiri untuk datang kepada penyair.

HAH: SMS baru saya terima pagi ini, maaf. Soal cara datang puisi itu, ya, saya percaya banget. Masih di Matabaca, Mas?

JP: Ya, masih bantu-bantu Matabaca, ini semacam proyek idealis saja.

HAH: Masih mengajar juga? Aha, saya ingat, kata mandul kita hamili, kata lapuk diberi birahi, supaya sepi bertunas, tumbuh dan berbuah.

JP: Sudah 2-3 tahun ini saya berhenti mengajar dulu. Sulit mengatur waktu. (Atau kita yang terlalu diatur oleh waktu?).

(Joko Pinurbo lahir di Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1962. Tahun 1981 tamat dari SMA Seminari Mertoyudan, Magelang. Tahun 1987 lulus dari Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta. Selama mengajar di almamaternya dia sambil juga membantu majalah Basis. Ia juga pernah membantu jurnal Puisi.)

HAH: Penasaran di KTP sampeyan pekerjaannya apa?

JP: "Karyawan Swasta", (mestinya "Penyair Swasta").

HAH: Ha ha ha. Buku puisi apa yang paling sering sampeyan baca. Oh ya sajak untuk Eka Kurniawan itu yang terbaru ya?

JP: Sulit mengatakan mana yang paling. Banyak buku puisi yang sering saya baca ulang, antara lain CA (Chairil Anwar), SDD (Sapardi Djoko Damono, GM (Goenawan Mohamad). Banyak yang bagus sih. Ya, itu puisi terbaru, ditulis atas permintaan. Bagian dari amal lah.

(Inilah sajak yang dimaksud:

CINTA TELAH TIBA

untuk eka dan ratih

cinta telah tiba
sebelum kulihat parasnya
di musim semi wajahmu

telah menjadi kita dan kata
saat kucicipi hangatnya
di kuncup rekah bibirmu

kian dalam dan tak terduga
saat kuarungi arusnya
di laut kecil matamu

(2006)

Ratih Kumala menyiarkan puisi ini di mailist Apresiasi Sastra)

HAH: Usil nih, bagaimana dulu ketemu celana, boneka, kamar mandi, kuburan?

JP: Gimana ya, antara ingat dan lupa. Antara sadar dan tak sadar. Intinya, itu bermula dari keinginan untuk mengekplorasi imaji-imaji domestik. Supanya punya fokus dan kekhasan gitu. Tapi memang harus selalu berusaha mencari lingkungan imaji yang lain lagi.

HAH: Ini cerewet, Mas nulis pakai pena dan kertas? Atau hanya bisa di komputer?

JP: Sering coret-coret dengan pena dan kertas dulu. Tapi belakangan kok enak langsung di komputer ya... Toh saya masih selalu 'catatan kecil' di notes (bila tiba-tiba muncul 'iblis' alias ilham).

HAH: Pernah terganggu dengan kritikan? Bagaimana memberdayakan pujian?

JP: Terganggu sebentar, habis itu ya biasa-biasa saja. Merenung, mengendapkan, mengambil hikmahnya. Kritik juga harus dikritisi kan? Pujian tentu menyenangkan. Tapi juga bisa membius hingga lupa diri. Paling baik tetap sadar-diri. Kita harus siap mental untuk dicela dan dipuji.

HAH: Saya masih akan rajin bertanya, punya kamus KUBI? Masih rajin mengangon kata? Sampai besar dan cari kerja sendiri?

JP: Punya dan sering buka-buka. Untuk cari tahu makna kata. Untuk ngepasin diksi. Untuk lihat-lihat berbagai obyek puitik yang dapat digarap. Untuk mendapatkan inspirasi. Sesekali tergoda untuk bikin kata sendiri.

HAH: Kepada penyair yang lebih muda nasihat apa yang paling sering sampeyan berikan?

JP: Baca baik-baik karya pendahulu. Pelajari ilmunya, cermati jurus-jurusnya, temukan celah-celah yang masih bisa digarap, lalu cobalah bikin jurus-jurus yang lain atau beda (untuk tidak mengatakan baru). Pelihara terus naluri puitik dengan berbagai cara. Dan tahan bantinglah. Kepenyairan dan kepengarangan membutuhkan tidak hanya bakat tapi ketajaman nalar dan daya tahan mental. Jangan bernafsu ingin cepat terkenal atau jadi 'tokoh'.

HAH: Pertanyaan terakhir untuk hari ini, ketika apa mulai pede kirim karya ke media? Kapan akhirnya dimuat?

JP: Ketika SMA dan dimuat. Tapi dulu sering lho karya saya nggak dimuat. Sekarang lainlah. Setiap penyair, saya kira punya era sendiri. Ada sih penyair yang awet, seakan-akan hidup terus, melintasi era demi era.

6 April 2006

HAH: Pagi Mas Jokpin, apa kabar? Saya mau jadi murid lagi hari ini. Adakah seseorang atau sebuah momentum yang jadi titik balik hingga sampeyan terus menapak di jalan puisi?

JP: Salah satunya saat buku puisi pertama saya Celana terbit. Ketika itu saya sudah 37 tahun dan merasa belum apa-apa. Telat banget kan? Tidak diduga, buku itu mendapat sambutan hangat. Beberapa orang bilang kumpulan puisi itu merupakan semacam 'janji baik' bagi perpuisisan (untuk tidak mengatakan kepenyairan) Jokpin. Sejak itu saya makin bergairah menulis puisi. Saya berutang budi pada Celana.

HAH: Celana itu juga penting buat saya, di Riau kalau itu ada mahzab yang hegemonik banget. "Celana" meyakinkan saya, bahwa pengucapan masih bisa diekplor. Terima kasih.

JP: Itu yang penting: masih banyak celah atau kemungkinan cara dan bentuk pengucapan yang bisa diekpsplor. Tapi memang harus sabar, tekun dan gigih.

HAH: Selama, hampir 30 tahun menyair, adakah tahun-tahun ketika Mas Jokpin merasa ingin sudah saja? Apa pula yang menggembirakan dalam persajakan kita kini?

JP: Merasa "sudah saja" sih tidak (jangan sampai ah). Merasa gamang sih iya. Yaitu saat sebelum Celana terbit. Yang menggembirakan antara lain munculnya cara ucap dan imaji yang dulu belum muncul ini menunjukkan Bahasa Indonesia menyediakan potensi atau kemungkinan yang masih terbuka untuk terus dieksplorasi.

(Penyair Joko Pinurbo menulis sejak SMA. Karyanya dimuat di berbagai surat kabar, majalah, jurnal, dan antologi. Ia menerima penghargaan sastra: Penghargaan Buku Puisi Pusat Kesenian Jakarta 200, Hadiah Sastra Lontar 2001, Sih Award 2001, Penghargaan Karya Sastra Pusat Bahasa 2002, dan masuk nominasi Khatulistiwa Literary Award 2001, 2002, 2003)

HAH: Ada waktu khusus mengarap puisi? Senja mungkin?

JP: Tengah malam, Mas. Senja enak enak untuk duduk-duduk, melamun, minum teh, merokok.

HAH: Nah, kalau diminta merumuskan (atau sudah?) apa filosofi dasar sajak-sajak Jokpin?

JP: Sulit dirumuskan. Tapi bisa dicermati di bagian akhir puisi Sudah Saatnya (dalam buku Telepon Genggam), dan bait kedua sajak Aku Tidak Bisa Berjanji (Kekasihku).

(Bait terakhir sajak Sudah Saatnya adalah, " sudah saatnya kata-kata mandul kita hamili; yang pesolek ngapain dicolek, toh lama-lama kehabisan molek. Sudah saatnya kata-kata yang lapuk diberi birahi. Supaya sepi bertunas kembali, supaya tumbuh dan berbuah lagi".

Bait kedua sajak Aku Tidak Bisa Berjanji adalah, "Sajakku hanya sisa tangis seorang bocah yang ditinggal ibunya pergi cari obat dan tidak juga kembali, sementara panas tubuhnya terus meninggi. "Cepat pulang, Bu!")

HAH: Kapan bikin The Complete Poems of Joko Pinurbo?

(Setahu saya baru penyair Goenawan Mohamad yang sudah menerbitkan buku sejenis, selain Chairil Anwar yang tentu saja terbit posthumous).

JP: Nantilah, Mas. Baru setengah jalan.

HAH: Puisi sampeyan selalu langsung jadi, ya? Atau ada juga yang putus sambung baru rampung?

JP: Hampir tidak ada yang sekali jadi. Prosesnya rumit, dan bikin capek juga. Setelah jadi, dari luar mungkin kelihatan gampang dan mulus. Yang berat justru saat 'editingnya', mengutak-atik dan membongkar-pasangnya.

HAH: Mungkin karena itu Sampeyan kesal banget sama salah ketik.....

JP: Ya, betul.

HAH: Seandainya Mas punya duit tak terhingga untuk membeli hak cipta atas puisi, puisi penyair mana yang mau diborong?

JP: Semua puisi terbaik dari semua penyair di negeri ini. Setiap penyair pasti punya puisi yang saya anggap 'indah'. Termasuk puisi papa penyair yang tak atau belum terkenal.

HAH: Sebenarnya segan menanyakan ini, apa kritik Mas untuk 'puisi kamus' itu? Tanya habisan hari ini, besok saya recoki lagi.

(Saya melanggar saran dua penyair besar. Rainer Maria Rilke dan Pablo Neruda. Rilke bilang jangan minta pendapat tentang syairmu kepada orang lain. Neruda si peraih Nobel Sastra 1971 itu malah tidak akan pernah memberi petunjuk kepada siapapun untuk puisi).

JP: Unik, segar, mengejutkan. Saya aja nggak kepikir kesana. Tinggal menggali variasi tema dan suasananya kalau mau dibuat puisi serial. Saya kira itulah tantangan puisi serial.

7 April 2006

HAH: Puisi itu dilakoni bukan hanya dituliskan. Ada bagian dari kalimat itu yang Mas Jokpin percaya?

JP: Saya lebih suka mengatakan bahwa pergulatan hidup kita sehari-hari termasuk aktivitas kerja cari duit, ronda, dll. merupakan bagian penting dari sumber ilham bagi proses kreatif kita.

HAH: Tergoda menulis hal lain selain puisi?

JP: Kadang tergoda juga menulis novel, misalnya. Tapi rasanya urusan saya dengan puisi belum beres.

HAH: Mas pernah melancong ke luar negeri atas nama puisi, kan? Pulangnya bawa apa?

JP: Pernah diundang baca puisi di Belanda dan Jerman. Pulang bawa tubuh saya yang kedinginan. He he he...

(Joko Pinurbo diundang baca puisi di Festival Puisi Antarbangsa Winternachten Over-zee 2001, di Jakarta, Festival Sastra/Seni Winternachten 2002 di Belanda, Forum Puisi Indonesia 2002 di Hamburg, Jerman, dan Festival Puisi Internasional-Indonesia 2002 di Solo).

HAH: Kata Ignas Kleden Mas Jokpin sangat obsesif merenungi tubuh. Kata Nirwan Jokpin memparodikan penyair sebelumnya.

(Ignas Kleden mengulas dengan dalam dan bagus sekali sajak Joko Pinurbo di buku Di Bawah Kibaran Sarung. Telaah Nirwan Dewanto dikutip dari majalah Tempo edisi akhir tahun 2002 dan dicuplik di buku Telepon Genggam. Ulasan Ayu Utami bisa dibaca di buku Pacar Senja).

JP: Ah, saya hanya pemulung celana.***