Thursday, February 20, 2003

Reply Kenangan, 1978





mayat, ini mayat budi, mayat budi!

aih, aku rindu kalimat itu, Pak Guru

kalimat yang dulu kubayangkan

kautulis dengan kapur yang membuat

kau seperti dikepung uban (baca: usia),

tahun 1978, diam-diam aku mengejakannya

di bukuku dan kemudian bangga sendiri

lihat! aku sudah cakap menulis, kan?



tentu tak pernah ada gambar dan warna darah

di buku inpres yang sampai juga ke kelas kita

lewat birokrasi kantor penilik sekolah kecamatan

(belajar tulis baca, tak sopan dengan tema kematian),

lalu dengan bakat menggambarku kubuat budi

dengan matanya kelam, senyumnya hitam: ini mayatnya

aih, kenapa tak diponten gambarku itu, Pak Guru?



Pak Guru, aku memang bukan murid yang bisa kau

banggakan, senam pagi, talkin indonesia raya, tak

lebih menarik bagiku daripada membayangkan:



prosedur kematian,



prosesi kehancuran!



Feb2003