Thursday, October 9, 2008

Komentar-komentar untuk TELIMPUH

1. Ide atau gagasan atau ilham dalam menulis puisi ternyata bukanlah sesuatu yang semata-mata “diberikan” tetapi juga “diperjuangkan”. Hasan Aspahani membuktikan dalam sajak-sajaknya, bahwa ide bisa didapat dengan berbagai cara dan dari berbagai
situasi. Melawan kecenderungan untuk tergantung pada mood, Hasan malahan dengan asyik dan tak pernah bosan-bosannya berusaha menemukan ide-ide baru. Lihatlah, ia meloncat dari mitologi ke dongeng, dari kamus sampai komik strip, dari kaleng Coca Cola hingga lapangan sepakbola…

Dengan terus mempertahankan etos menulis sajak seperti ini, berani bertaruh, Hasan dalam waktu dekat akan dapat memenuhi “target” menulis sejuta puisi — seperti judul blognya yang terkenal itu — sekaligus menjadikan dia sebagai salah satu penulis sajak Indonesia paling produktif hingga saat ini.

.: Ready Susanto, penulis dan editor.
www.kata2bersahaja.blogspot.com

2. Saya sudah tamat membaca TELIMPUH. Setelah ORGASMAYA, buku ini cukup santai dan bersahaja. Saya semakin belajar dan mengajar diri dalam kalimah berbuku TELIMPUH.

Segar nan indah dalam cogan dan kosa kata yang bergelimpangan mewarnai udara yang pernah diamnya di minda. Terpantun juga ke medan cetak dan alam maya. Prolog, monolog mahupun dialogmu mencerna bicara pesta hidup seadanya.

Hasan, engkau semakin menjadi tukang larut yang jitu dan berwibawa - TERSOHOR lah jadinya. Syabas kerana semakin berani dengan mainan kata-kata, berani mengutara dan berani menggegar nusantara. Tertarik sangat dengan Kamus Empat Kata. Asyik! BERANI! Asyik! REVOLUSIONARY

/dzan - di Singapura.

3. Membaca Telimpuh, seperti membaca tiga buah buku. Satu, Buku Komik dengan kejelian memanfaatkan obyek-obyek yang terdapat dalam halaman dan peralatan membuat komik untuk mengungkapkan perasaan. Dua, Buku kamus monolingual yang berisi kata-kata yang jarang digunakan (paling tidak oleh saya) atau kata-kata yang sudah sangat populer namun berhasil diredefinisi dengan jitu secara puitis. Tiga, Kamus olahraga khususnya sepakbola, yang bercerita tentang perjalanan hidup dan juga kritik sosial.

Ayah Fauzan


4. Cerdas, jenaka,penuh imaji, kadang menggelikan dan tak dapat diterka dan diduga akhir jalan ceritanya, tapi juga menyegarkan .

.: Prayoga Kurniawan

5. Membaca sajak-sajak Hasan Aspahani bagi saya seolah-olah berada dekat dengan pacar. Kadang menyebalkan dengan kemanjaan-kemanjaan yang diberikannya yang di luar batas. Namun, membuat saya selalu kangen dan memberikan perhatian yang lebih kepadanya. Karena di balik ketidaklaziman yang diberikannya, ada ruang-ruang baru. yang kadang membuat saya mengernyitkan dahi, tertawa terbahak-bahak. merenung masygul. Dan saya yakin, Hasan Aspahai akan semakin menanamkan pengaruhnya yang besar untuk kemajuan dunia puisi Indonesia di masa yang akan datang.

Eko Putra