Monday, October 6, 2008

Kalau Hari Minggu Dulu Kuturut Ayahku ke Kota

KALAU hari jadi Minggu, dulu, kuturut
Ayahku ke kota itu. Ibu tak pernah ikut,
dia cuma bilang pada kami, "jangan mati
di kota, ya, karena kubur kalian di sini.
Ya, di desa ini." Lalu ia menutup pintu.



Ayah cuma mengibas tangan dan mengisyaratkan
agar aku lekas naik ke boncengan. Seakan ia
mau bilang padaku, "ada-ada saja ibumu itu.
Di kota memang bukan tempat kuburan, sebab
kota telah lama penuh makam, orang mengubur
segala yang masih hidup: kehidupan-kehidupan,
harapan-harapan."


*

DI kota yang hanya kukenal bila hari jadi
Minggu itu, ayah memarkir sepeda di sebuah
warung kopi. Ada seorang perempuan tua
menjaga kios suratkabar. Ayah membeli koran
Minggu di situ. Aku diizinkan membawa majalah
kesukaanku: cerita tentang keluarga kelinci
yang lucu selalu, dan gajah kecil merah jambu.


*

AKU kini ada di kota itu, bertahun-tahun sudah,
hingga tak lagi tahu apa beda minggu dan hari
lain yang bukan minggu. Tak ada lagi perempuan
tua penjaga kios surat kabar minggu, tak ada
lagi, warung kopi tempat ayah singgah memarkir
sepeda. Kuburan di desaku makin penuh saja.
Sedangkan aku sendiri, di kota ini, seperti
menggali kubur bagi kehidupanku, bagi harapan-
harapanku. Semuanya semakin hidup di sini.
Segalanya terkubur di kota yang seperti akan
hidup abadi ini.

Aku kini di kota ini, dan akhir-akhir ini kenapa
ya, aku ingin sekali ayahku datang menjemputku,
mengajakku boncengan naik sepeda, ke rumah kami
dulu, bertemu ibu yang membukakan pintu untukku,
kapan saja, apakah hari Minggu atau bukan Minggu.