Thursday, September 1, 2005

[Ruang Renung # 124] Kirimkan Puisimu pada Teman

UJUNG LÉRO
Sajak Jimpe

Ujung Lero, engkau mata
penjemput seluruh luka
sebelum sampai di pelabuhan,
bibir yang selalu membaca kedatangan-kedatangan

[Parepare, Agustus 2005]


KIRIMKAN puisi kita pada teman. Jimpe di Sulawesi mengirim puisi di atas untuk saya. Kami tak pernah bertemu muka. Tapi pertemanan ini begitu terasa.

YA, puisi bisa jadi pertanda pertemanan, atau pengingat pertemanan. Ia bisa jadi pemererat pertemanan. Apalagi kalau puisi itu memang kita tulis khusus untuk teman kita jauh nan di sana. Sebagai penanda bahwa kita mengingat dia.

BANYAK penyair yang menulis puisi seperti itu. Rumi menulis Matsnawi untuk sahabat paling karib yang meninggalkannya. Bukalah buku puisi milik seorang penyair, temukan puisi yang ia tulis untuk kerabatnya. Rasakan kedekatan yang bisa terasa dari puisi itu. Ukur kedekatan pertemanan mereka dari puisi itu.

BERAPA banyak teman yang kita punya? Sudahkan kita menulis puisi untuk teman-teman kita? Mereka tidak meminta. Tapi itulah alasan terbaik untuk menulis puisi untuk mereka. Seperti puisi, pertemanan akan terasa lebih indah jika kita melandasinya dengan keikhlasan.[]