Saturday, December 11, 2010

Tamasya Puisi

1. Menulis puisi, bagi saya, kadang kuanggap sebagai tamasya bahasa. Tamasya yang sempurna adalah aku pergi ke tempat yang belum kukunjungi.

2. Atau bisa juga ke tempat lama, yang aduh kenapa ya aku tak pernah bosan ke sana? Tamasya bahasaku itu membuat bahasaku segar.

3. Kadang  tamasya itu tak sampai ke tempat yang dituju. Tapi, hm, untungnya perjalanannya saja kadang sudah amat menyenangkan.

4. Kadang di lokasi itu pun aku tak tahu apa sebenarnya yang sedang berwajah-wajahan dgn aku. Asing? Tak apa, biar asing asal baru.

5. Aku suka membayangkan daerah-daerah baru kemana aku akan mengajak bahasaku  tamasya. Untuk itu, aku perlu peta.
 
6. Pulang dari  tamasya yg seronok, bahasaku & aku mestinya tersegarkan kembali. Kembali kerja, bahasa melaksanakan tugas kebahasaannya.

7. Tamasya bahasa tdk cuma puisi yg sengaja. Di beberapa tempat tak terduga2 bisa kurasakan atmosfer  tamasya.

8. Kadang berziarah ke kenangan yg mati, kata yg mati, puisi yg mati bisa jadi  tamasya juga, lho. Dari situ bisa ketemu yg terhidupkan.

9. Dalam bahasa rutin, kata-kata kerja, cari nafkah, mengantor, atau beribadah. Bahasa bisa jenuh, itu sebabnya perlu santai

10. Aduh, bahasaku mulai lelah. Serial tweet ini bukan  tamasya. Jadi cukup sekian.