Thursday, December 9, 2010

Monolog Senyum yang Sederhana













: Asep Sambodja

KITA dipertemukan oleh sepasang senyum:
senyum di wajahmu dan senyum di mataku.

Mataku mudah tertular senyum, apalagi jika
senyum itu seramah senyum wajahmu, senyum
yang kau kembangkan itu: senyum sore-sore,
sesenyum cahaya Taman Ismail Marzuki 


"Aku sedang berlatih teater," katamu - aku
tak menduga - itu jawabmu atas tanyaku 
"Kenapa engkau tersenyum, Kawan?"




KITA dipertemankan oleh sebait senyum,
senyum yang mengekal di sebuah buku puisi

Engkau penilik yang cermat, aku murid yang
bersemangat, mengumpulkan pekerjaan rumah:
beberapa bait puisi yang kutulis dengan senyum
sepanjang malam itu. 

Tahukah engkau? Aku sempat ingin mencontek 
pada Nanang Suryadi dan T.S. Pinang, teman 
dudukku sebangku di bangku khayal dan panjang ini, 
tapi senyummu dengan lembut menjewer telingaku.


"Jangan berakting di depanku, Hasan, aku ini 
sutradara dan pelatih di teater mahasiswa," katamu.


*


KEMATIAN itu? Ha ha ha, bisa-bisanya dia 
mengira bahwa dia bisa memisah kau dan aku

Sakitmu bukan lakon sederhana. Engkau bilang,
"sebentar lagi aku akan naik ke panggung yang
sebenarnya! Aku sedang berlatih menyembunyikan
pedih di balik senyum yang semanis-manisnya!"

Aku pasti akan datang bersama Medy Loekito, 
Anggoro Saronto, Tulus Wijanarko, Iwang Kurniawan, 
Randu Rini, Saut Situmorang, dan Cecil Mariani,  kami
menonton pentasmu : Monolog Senyum yang Sederhana.