Friday, January 10, 2003

Skenario Persetubuhan Pertama di Dunia





: untuk Ramon, Nanang (juga yang lain, siapa saja yang ingin).





/adegan I/



Ia terbaring bersama letih

yang belum sempat ia beri nama,

juga seorang di sampingnya

yang sama asingnya.



"Hawa? Hawa? Betulkah Tuhan

pernah menyebut nama itu di surga?





/adegan II/



Yang terbaring memejam di sampingnya. Begitu

damai tampaknya:

"Tapi, apa yang berdebar di dadaku,

apakah juga ada di dada itu? Di dada itu?



Yang bergetar di selangkangku, apakah

juga ada di selangkang itu? Ya, di situ?"



Yang terbaring memejam di sampingnya, sesungguhnya

juga tak dapat lelap sepenuhnya. Dia teramat ragu,

tapi jangan-jangan iblis lagi yang punya kerja. Dia teramat ingin

didengar bisik hatinya:

"Adam, rasanya kita tak akan terlalu menyesal

telah terusir dari surga."





/adegan III/



Tapi, ada yang tak sempat disadarinya ada di surga sana,

ketika disentuhnya telanjang tubuh yang sama.



Ya, ada yang tak sempat dirasakannya ada di surga sana,

ketika dipandangnya pesona mata yang sama.





/adegan IV/



Langit masih jingga, subuh teramat muda.

Daun hati masih menyimpan sihir sinar bulan.

Dingin kala itu begitu lain, begitu ingin.



Dua tubuh itu akhirnya menuntaskan

persetubuhan pertama di dunia. Setelah

semalaman begitu lain, begitu ingin.



Di rumput, tak terlacak lagi, mana keringat,

mana embun, mana cairan yang lain.



"Tuhan, di mana engkau semalam?"





jan2003