Saturday, January 18, 2003

ODE BAGI GURIH GARAM*



alih bahasa dari sajak Pablo Neruda



Asin garam

di wadah garam

pernah kulihat ia di ladang garam.



Aku tahu

engkau tak akan mau

percaya pada apa kataku,

tapi sungguh

asin garam itu berlagu,

lagu-lagu yang asin, bentang

ladang-ladang garam itu

berlagu-lagu

meski dengan mulut yang

ditimbun tubuh bumi.



Aku pun menggigil dalam kesunyi-sunyian ini,

ketika sampai kudengar

suara asin garam

di gurun geram.

Tak jauh dari Antofagasta

padang-padang rumput basa

menerusulangkan gema:

sebuah suara

yang parah terluka,

lagu-lagu

duka cita.



Pada guha-guha

asin garam

menggunung kubur cahaya,

katedral tembus cahaya,

kristalnya samudera, ombak

yang terlupa padanya.



Maka lalu, pada setiap meja hidang

di mana saja di dunia,

wahai garam,

kami temui gurih serbukmu

memercikkan

cahaya kehidupan

pada tiap saji santap kami.



Penjaga palka-palka kapal-kapal tua,

penemu arah

di puncak-puncak laut.

Pelaut tersemula

yang entah asalnya,

bertukar arah dengan buih-busa.

Debu-debu laut yang datang

padamu, mengirimkan

ke lidahmu kecupan malam samudera: lalu

rahasia rasa yang adil disampaikan

kepada semua bumbu, semua rempah.

Sembah saji, dari lautmu tersari;

Miniatur terkecil

ombak, pada wadah garam di meja

membukakan pada kita

lebih dari sekadar serbuk putih di dapur kita;



garam:

pada asinnya

kita kecup kecap tak terhingga rasa.



Jan2003.



* Judul asli: Ode To Salt.