Wednesday, April 9, 2003

Syair Daur Ulang



INI syair daur ulang, kupungut sisa-sisa

kata dari percakapan terbuang. Kekasih

yang saling berbohongi di bangku taman, lalu pergi

berpelukan. Mereka pura-pura bercinta. Selalu saja begitu.

Gadis yang pulang malam, dan merasa berhasil

mengakali ibunya di depan pintu rumah. "Sayang,

aku telah membuang kata itu dari semua ucap

lidahku," kalimat yang diam-diam hendak jujur dikata,

tapi selalu saja tak pernah sempat, sebab kilah

dusta masih saja lebih lincah menyelinap di

kelindan kata-kata. Aku memungutnya. Barangkali saja

ada yang sudi membaca. Syair ini, cuma memungut

sisa-sisa kata. Atau kau sebut saja sebagai

sia-sia?



DALAM sebuah syair daur ulang, barangkali kau akan

bertemu dusta yang pernah amat kau rahasiakan. Mungkin

kau akan melihat cahaya kata yang pernah kau ungsikan ke

gelap ucap. Di luar pagar rumah, di balik pintu kamar

bernomor, di keranjang-keranjang sampah, aku memungut

robekan-robekan kalimat, janji-janji yang tak berumur

panjang, juga tissue kumal meruap uap keringat yang

buru-buru dilap. Mungkin juga juga cecer air yang

tiba-tiba muncrat dari lenguh nikmat. Sesaat. Siasat. Sesat.

Aku memungutnya untuk syair sederhana. Sekedar mengingat.

Mungkin engkaulah kekasih yang di bangku taman itu.

Barangkali, kita kenal gadis yang tiba-tiba gatal dan

merasa bangga dan harus berlaku binal.



Apr 2003