Monday, April 14, 2003

Seni yang Hitam Muram



Terjemahan Sajak

The Black Art

Anne Sexton



Wanita yang menoreh pena, ia dikuasai rasa,

rasuk sukma, isyarat tanda!

Bahkan siklus musim dan kanak-kanak dan pulau-pulau

tak cukup juga; pun duka pelayat dan kabar dusta

dan segar sayur menggoda pun tak pernah cukup juga mengusiknya.

"Aku akan merayu bintang, aku bisa," pikirnya.

Seorang penulis, dengan di tangan pena, adalah seorang mata-mata.

Sayangku, wahai, akulah wanita itu.



Lelaki yang menoreh pena, ia memuja duga

seperti sihir dan pukau mantera

Bahkan ketika ereksi dan debat kongres dan benda-benda

tak pernah bisa cukup; bahkan mesin dan perahu-perahu purba

dan perang pun tak pernah cukup memaling wajahnya.

Dengan perabot kayu bekas, pohon hendak diciptanya.

Seorang penulis, dengan di tangan pena, adalah seorang pendusta

Kekasihku, wahai, engkaulah lelaki itu.



Cinta, tak pernah sunyi sendiri hanya untuk kita,

benci itu bahkan hingga ke sepatu dan topi-topi kita,

kita saling mencinta satu sama lainnya, indahnya, mulianya.

Cahaya teduh dan biru di tangan kita,

Kejujuran sungguh dan penuh di mata kita.

Tapi ketika kita ijabkabulkan perjanjian

kanak-kanak terbiar pada kemuakan.

Terlalu banyak santapan dan tak ada yang membiarkan

melahap habis, kengerian yang melimpah meluap.





The Bed Art

(seni yang di pembaringan)

Yono Wardito



lelaki yang memamah pena, ia tak tahu rasa

busuk gulma, syarat tanda!

bukan siklus musim dan kanakkanak dan pulaupulau

tak kuncup jua; pun duka menyayat dan debar dusta

getar guyur tergoda pun tak pernah cukup juga mengikisnya

"aku akan selaju kumbang, aku bisa" pikirnya

seorang penulis, dengan ditangan pena, adalah seonggok katakata

sayangku, wahai, akulah lelaki itu



wanita yang memamah pena, ia menghujat durga

seperti kilir dan sakau lentera

ketika orgasme dan debat kongres dan bendabenda

tak pernah bisa cukup; bahkan mesin dan perahuperahu durja

perang pun tak pernah cukup mencuri wajahnya

dengan godot kuyu bongkas, pohon tak diciptanya

seorang penulis,diselangkangan pena, adalah seorang pendusta

kekasihku, wahai,engkaulah wanita itu



cinta, pernah mencuri sendiri atas nama kita

benci itu bahkan hingga menjadi benalu puisipuisi kita

kita tak saling mencinta satu sama lainnya, nikmatnya, terkutuknya

cahaya subuh dan kelambu diatas tubuh kita

kebohongan tumbuh dan sungguh dimata kita

ketika kita ijabkabulkan perselingkuhan

katakkatak berhambur pada kenikmatan

terlalu sedikit sarapan dan ada yang menyiarkan

kumuntahkan habis, kenikmatan yang melimpah menguap.



Note: Puisi ini dikopi dari milis penyair (18/4). Dengan tambahancatatan: Sorry, Bro, he he he!





The Bitch Art

(seni melacur)

Randu



lelaki yang memamah malam, merontokkan surga

berkelip di atasnya tak terjamah rasa

meniadakan siklus diri,

melebur bersama kanak-kanak yang melahirkan musim

dari tapak-tapak mereka



perempuan yang menyetubuhi malam, meliuk atas nama surga

liur yang menetes semata selembar keyakinan

hidup adalah butir-butir depresan tuk melupakan luka

tak pena mencatat sejarahnya, tak ada rekam memajang lenguhnya



cinta yang menginjak malam, mengutuk surga

sayap-sayapnya rapuh terlalu lama berterbangan

seperti capung di lingkung tanda

tak ada yang akan turun dari surga, selain hujan

tak ada yang tersisa di surga, selain hujan.



Note: Puisi ini dikopi dari milis penyair (18/4).