Thursday, December 26, 2002

Puisi yang Terancam Hukuman Mati



1. Puisi yang tak Pernah Selesai



bahkan saat mulai

menuliskannya, pun

tangan angan sudah

lumpuh terkulai...





2. Puisi yang tak Ingin Ditulis





empat baris kosong

si penyair cuma bisa

bengong, katanya:



"ah tak mau lagi

aku berbohong."





3. Puisi dalam Tanda Kurung



mana yang lebih dahulu kau

tuliskan? tanda kurungkah?

atau bait puisi di dalamnya?



"bukan keduanya! kau

salah! sebab yang pertama

kutulis adalah judul

puisinya."





4. Puisi yang Bukan Puisi



buat apa kau tulis puisi, kalau

kemudian kau hanya ingin

bertanya padanya, "kau ini, puisi

atau bukan?"







5. Puisi yang Teracam Hukuman Mati



bahkan puisi pun telah jadi tersangka

"ada bukti-buikti yang mengarah dan

menguatkan dugaan itu," kata

seorang, mungkin ia anggota tim

investigasi yang terlalu banyak bicara.



bukti? ah begitu samar, begitu sumir,

bukankah, katamu, si penyair telah

lama mati? lalu siapa yang jadi

saksi kunci?. "masalahnya aku tertidur

lelap ketika debat menghangat

mengulas soal persiapan upacara

pemakaman ini."





bahkan puisi pun terkait jaringan

masa lalu, dalam daftar interogasi

kau baca: siapa yang memprovokasi? siapa

yang memerintahkan makna? siapa yang

mengajak kata terlibat dalam bait-bait yang

meledak dalam sebuah klub diskusi.



bahkan puisipun terancam hukuman mati

tapi, biar saja, semua toh ada

di tangan kuasamu, setelah membaca

kau hendak mengutuk? atau memuja-muja?

bilang ini buruk? atau wah luar biasa?

puisi bisa hidup dan mati, berulang kali

dan aku terus saja ngidam, hamil,

melahirkan puisi, sambil menyanyi

lagu yang enak dan merdu sekali.





Nop, 2002.