Monday, August 20, 2007

[Ruang Renung # 225] Bermain Aman di Wilayah Peka

WILAYAH keimanan bukan daerah yang tabu untuk dimasuki puisi. Tapi, wilayah itu tidak boleh dimasuki dengan petantang-petenteng. Ah, sebenarnya semua wilayah tidak boleh dimasuki seenaknya oleh si penyair, sebab dia harus keluar dari wilayah itu dengan hasil yang maksimal. Sekali lagi, jangan dengan alasan kebebasan berekspresi, penyair lantas sembarangan saja masuk ke sembarang rumah lantas mencuri sesuatu untuk puisinya.

Joko Pinurbo menulis sajak yang menurut saya yang tak mengerti banyak iman Kristiani ini sangat sensitif. Ia seakan bermain-main dengan sebuah peristiwa penting yang dialami Yesus Almasih, yaitu hari Paskah, yaitu hari bangkitnya Yesus setelah disalib.

Betulkah ia tak memakai celana saat itu? Betulkah ia hanya memakai sobekan jubah? Penyair meyakini jawaban dari pertanyaan itu adalah "ya". Yesus dan Maria dalam sajak "Celana Ibu" (Kekasihku, halaman 35), memerankan diri mereka sendiri. Mari kita simak sajaknya:

Celana Ibu
Sajak Joko Pinurbo

Maria sangat sedih menyaksikan anaknya
mati di kayu salip tanpa celana
dan hanya berbalutkan sobekan jubah
yang berlumuran darah.

Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit
dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang
ke kubur anaknya itu, membawakan celana
yang dijahitnya sendiri dan meminta
Yesus mencobanya.

"Paskah?" tanya Maria.
"Pas sekali, Bu," jawab Yesus gembira.

Mengenakan celana buatan ibunya,
Yesus naik ke surga.

(2004)

Satu-satunya metafora di sajak ini adalah "celana". "Celana" dalam sajak ini berperan maksimal. Teks telanjangnya menampilkan celana denotatif yaitu celana, penutup tubuh bagian bawah, tetapi celana konotatif pun tampil sama kuatnya. Celana konotatif dalam sajak itu bisa diartikan sebagai kasih sayang seorang ibu kepada putranya.

Bagian inti dari sajak ini, adalah dialog di bait ketiga itu. "Paskah?" tanya Maria. / "Pas sekali, Bu," jawab Yesus gembira. Ini bagian paling getir, pahir, jenaka sekaligus penuh makna. Dua bagian awal, menurut saya sengaja dibangun untuk mengantar pembaca sampai pada bagian inti ini. Bagian bait berikutnya pun seakan hanya menyempurnakan sajak, sekaligus menguatkan bagian inti itu tadi.

Sajak tidak harus dijejali kata-kata bermakna konotatif. Keindahan sajak justru bisa dicapai maksimal bila racikan antara yang konotatif dan denotatif disajikan dengan pas. Begitulah sajak ini memberi contoh bagaimana kedua makna itu diadon dan jadilah sebuah adonan yang pulen!

Marahkah petinggi agama atau lembaga-lembaga agama karena wilayahnya "dipermainkan" penyair seperti dalam sajak ini? "Malah ada pastor yang membaca sajak ini dalam khotbahnya di gereja," kata Joko Pinurbo, si penyair penggubah sajak ini. Saya kira masalahnya bukan karena petinggi agama itu sangat toleran pada lisensi penyair, atau amat mahfum pada sajak atau lembaga agamanya tidak "militan". Masalanya, si penyair telah berhasil masuk dengan baik ke wilayah peka itu dengan amat santun, memberi makna baru pada peristiwa sakral itu dengan sangat indah tanpa merusak makna hakikinya, dan membuka tafsir baru pada peristiwa itu.