Wednesday, February 21, 2007

Sajak yang Tak Lirik, Saya Mau Teriak Tak Bisik

.:. Aku ingin marah pada siapa dengan sederhana?
Dengan sajak yang tak sempat dibacakan
rakyat kepada presiden yang dulu dipilihnya.



/1/
BERJALAN di pematang sawah, waktu sudah sore hari,
aku bertemu Pak Petani, duduk lelah, seharian tak selesai
menyiang padi, tak bisa juga berteduh di bayang sendiri.

Petani menarik tali, bergoyangan orang-orangan, burung
terkejut sebab berkelonteng kaleng, melepas malai padi.

Orang-orangan sawah itu berwajah gambar Jusuf Kalla,
dan Soesilo Bambang Yudhoyono. "Saya gunting saja
dari poster pemimpin negara kita, di pasar harganya
Rp5.000 dua, tambah bonus lambang Garuda Pancasila."

Saya amati wajah kedua orang yang dulu saya coblos
gambarnya, di TPS yang dulu dibangun seadanya
oleh panitia pemungutan suara di lahan yang kini jadi
tempat penampungan sampah. Di lahan bekas sawah.

Eh, ada burung yang buang kotoran sambil terbang.

Kotorannya jatuh tepat di pipi wajah orang-orangan
sawah tadi. Seperti alir air mata. Aku dan Pak Petani
tertawa, sayang waktu itu tak ada juru kamera televisi.

/2/
KETIKA banjir menggenangi rumahnya hingga setengah pintu,
perahu kertas yang dulu dilepaskannya, datang bersandar.

"Banjir tahun lalu, aku terbawa jauh ke hulu," tanya nakoda tua
di perahu kertas itu. "Aku saksikan hutan tak lagi berhutan,
sisa perdu, aku saksikan rumah-rumah mewah yang hanya
dihuni centeng dan babu, eh sesekali Tuan atau Nyonya
pemilik datang bergantian bersama perempuan dan lelaki muda
yang bukan anak, bukan saudara, bukan pula teman arisan.

"TAHUN ini banjir lebih dalam dari tahun lalu," katanya pada
nahkoda tua, yang sibuk mengeringkan jubah dan janggutnya.

"Naiklah ke kapalmu, berlayarlah di banjir besar ini bersamaku,"
kata nahkoda tua. Kabarnya Presiden mengizinkan bendungan
besar itu dibuka, dan membiarkan banjir menenggelamkan Istana.

Bayangkanlah kita bisa berlayar sampai ke ruang kerjanya,
menyentuh kursinya yang nyaman, meraba mejanya yang mewah,
dan membayangkan seberapa nyenyak di sana kita bisa tiduran.

/3/
METRO-Goldwyn-Mayer mempersembahkan film kartun animasi:
Tom "Ruki" Kucing dan Jerry "Yusril" Tikus, dengan kisah yang
baru, walau skripnya lama, Judulnya: "Kejarlah Daku, Kau Korupsi".

Alkisah, di rumah itu telah banyak barang yang dicuri. Di rumah itu
tinggal seorang mantan pencuri besar, yang sudah tua, tapi tak
pernah bisa diseret ke penjara. Konon, banyak pejabat yang kini
berkuasa dulu orang yang berutang jasa pada sang pencuri tua.

Lalu datanglah Tom "Ruki" Kucing, dan Jerry "Yusril" Tikus.
"Kami ada untuk memberantas pencuri, menghapus korupsi".

Tom "Ruki" Kucing membawa alat penyadap suara. "Agar orang
yang mau mencuri eh korupsi, terlacak sejak bisikan pertama."

Jerry "Yusril" Tikus menenteng alat pemindai sidik jari. "Agar orang
yang mau mencuri eh korupsi, berpikir seribu kali, sebab sidik jarinya
ada, telah disimpan dan tinggal dicocokkan dengan bukti di TKP.

Mereka saling menyombongkan kehebatan alat-alatnya. Pencuri tua
tersenyum geli saja, membayangkan adegan jenaka dari kamarnya:

Adegan yang sangat jenaka: Tom "Ruki" Kucing bilang alat sadapnya
menangkap suara pencuri, suara Jerry "Yusril" Tikus. Sementara
Jerry "Yusril" Tikus bilang berhasil melacak sidik jari pencuri, sidik
jari Tom "Ruki" Kucing. Mereka lantas main adegan kejar-kejaran.