Tuesday, August 19, 2003

Ode bagi Buku

dari sajak Ode To The Book oleh Pablo Neruda



Ketika akhirnya sebuah buku kututup

aku membuka hidup.

Aku dengar juga

tangis yang ragu menghiba

di antara dermaga-dermaga

tiang-tiang tembaga

menggelincir turun ke lubang-lubang pasir

hingga ke Tocopilla.

Waktu telah malam

di antara pulau-pulau

samudera kita

berdebaran bersama ikan,

menyentuh kaki, menyentuh paha,

rusuk-rusuk rapuh

negeriku.

Seluruh malam

berpagut teguh sepanjang pasir, hingga fajar

bangkit menggugah nyanyi

seperti dia yang telah menggairahkan gitar.



Hempasan samudera mengelu-elu

Hembusan angin

menyeruku

dan Rodriguez memanggilku,

juga Jose Antonio --

Ada telegram tiba

dari negara -- "Negaraku"

dan dari seorang yang kuberi cinta

(yang tak kan kusebutkan siapa)

mengharapkan aku kini ada di Bucalemu.



Tak ada sebuah buku yang mampu

membungkusku dalam kertas

mengisi sekujurku

dengan tipografi,

dengan jejak cetak teramat riang

atau bisa mengikat mataku,

Aku beranjak keluar dari buku ke taman buah manusia

dengan parau lagu, kerabat lagu-laguku,

yang mengolah baja-baja pijar

atau menyantap daging bakar

di sisi perapian, di rumah pegunungan.

Aku cinta buku yang

penuh petualangan,

buku tentang salju atau hutan-hutan,

ke dalam bumi atau langit tinggi,

tapi aku membenci

buku tentang laba-laba

yang menyangka

telah ditebarnya jaring berbisa

menjebak lalat yang baru saja

melingkar belajar mengepak sayapnya.



Buku, biarkan aku pergi menjauhimu.

Aku bukan hendak mengenakan baju

dalam jilid-jilid,

aku tidak hendak beranjak keluar

untuk memunguti karya-karyaku,

karena sajak-sajakku

tak menyantap sajak-sajak --

mereka melahap takjub peristiwa-peristiwa

mereka hidup dalam kasar cuaca

mereka menggali sendiri umbi

dari bumi dan hidup lelaki.

Aku kini ada di jalanku.

Dengan debu di sepatu berdebu

terbebas dari kurung mitos-mitos:

Maka kembalikan saja buku ke dalam buku,

dan aku akan turun saja ke jalanan.

Aku telah pelajari hidup

langsung dari hidup itu sendiri.

Cinta mengajariku cukup dari satu kecupan

dan tak mengajarkan apapun pada orang lain,

kecuali bahwa aku telah hidup

dengan yang lazim ada di antara para lelaki,

ketika bergelut, beradu otot,

ketika mengatakan semua ucap mereka dalam lagu-laguku.