Monday, August 11, 2003

Formulir Kosong Puisi

(Dialog Puisi antara

aku Hasan Aspahani

dan dia Nanang Suryadi)






aku:



kukirim padamu formulir kosong puisi, pada bait yang lengang kau menanti sendiri mengisi titik-titik dengan sunyi bunyi.



dia:



secelah kekosongan tinggal di pinggir halaman dan jeda antara baris bait di mana singgah sunyi namun gaduh juga yang bertalu, setelah lembar terisi: takdir sepi.



aku:



beribu lembar sepi tak terisi, mana huruf yang menulis bunyi? beribu gambar sunyi tak terwarnai, mana harap yang melingkari hari?



dia:



biarlah sepi mencari bunyinya sendiri karena dimainkannya denting dalam bening hening dan diwarnainya malam dengan hitam lengang hingga kau rasa setusuk sepi menyeri...





aku:



sebelum disebutnya namamu sebelum disahutnya rindumu sebelum disambutnya cahayamu: gaduh bunyi lunas disucikan sunyi.



dia:



telah ditera namaku di situ juga waktu saat berjumpa saat terlunas segala rindu menatap wajahnya yang cahaya hingga lebur diri dalam cahaya lautan cintanya semata!



di jantung hati sepisau sepi menikam tikam hingga sampai di puncak ngeri merindui kekasih diri di kilau tajam sehunus sepi tak henti mengunjam ke dalamdadadiri.





aku:



di dadaku sepi telah dalam kutanam telah berulang tikam kuhunjam, di dadaku nyeri telah lama kubungkam telah bertulang dendam kupendam.



dia:



ingin kutemu sejati dimanakah engkau wahai kekasih diri hingga kutemu sejati cinta sejati lunaskan nyeri rindu di hati...



aku:



kekasih ada di sejati hati yang merindu kekasih ada di sejati rindu yang mencari kekasih sejati ada dalam nyeri abadi yang tak pernah terlunasi...





Jakarta-Batam, Agt 2003