Monday, August 18, 2003

Ihwal Duduk, Ihwal Kursi

dari sajak To Sit Down/Pablo Neruda



Semua telah duduk

duduk di meja

duduk di singgasana

duduk di rapat-rapat pertemuan

duduk di kereta penumpang

duduk di kapel

di pesawat, di sekolah, di stadion

semua telah duduk atau bersiap hendak duduk

tapi tak ada yang mengenang

kursi-kursi

yang telah kubuat dengan tanganku.

Apa yang telah terjadi? Kenapa, ketika takdirku

membuat ku duduk, di antara hal ihwal lainnya,

kenapa mereka tak membiarkanku

merekatkan empat kaki

dari pohon mati

menjadi sebuah tempat duduk yang memangku

tetanggaku

kenapa harus menunggu di sana? menunggu kelahiran

dan kematian orang terkasihnya?

(Kursi yang tidak bisa kubuat, yang tak pernah kubuat

mengubah bentuk, mengubah gaya

setiap kayu yang semula sejati

menjadi benda yang dingin, datar, bersih

tak terlindung bayang, seremoni pohon-pohon)

Lingkaran gergaji

seperti planet

menjelang turun, ketika malam

ke bumi

lalu bergulung menerabas hutan-hutan

di negeriku ini

melintas saja tanpa sempat melihat menembus lubang cacingku

yang hilang dalam pekik sendiri

dan demikianlah, aku melangkah

dalam aroma sakral

hutan belantara

tanpa melakukan apa-apa

melawan tajuk-tajuk pohon

mesti ada sebatang kapak di tangan

meski ada ilmu yang membuat keputusan

meski aku tahu bagaimana menebang belukar

dan merakit kursi

imobilitas

dan terus mengulanginya lagi

sampai setiap orang di dunia

duduk, mendapat jatah kursi.