Wednesday, October 18, 2006

[Tadarus Puisi # 009] Kapan Datang dari Kenangan?

Goenawan Mohamad
Cerita untuk Mita

Di tromol itu kulihat permen dan bintang-bintang
dan gambar seorang perempuan pirang.
Ia memperkenalkan: "Aku dari sebuah masa kecil.
Kau kukenal dalam kenangan."

Sebenarnya aku tak banyak punya kenangan
tapi malu untuk ditertawakan.
"Oh, ya, siapa ya nyonya, kapan datang dari Belanda?"
Ia tertawa: "Salah, aku merk manisan Amerika."

1976


KALAU kita terpukau oleh sajak-sajak Goenawan Mohamad (GM) yang memang memukau itu, maka kita akan mudah pula terkejut dan kemudian mengingat satu sajaknya "Cerit untuk Mita". Saya kira inilah sajak GM yang paling remeh idenya, dengan demikian juga tetap saja ia: sangat istimewa.

GM yang mengutip Goethe; menulis tentang Zagreb untuk Xanana Gusmao; menyajak untuk pelukis Frida Kahlo, dan penyair Amerika Allen Ginsberg; tentang New York, Sarajevo, Sydney dan Hiroshima; eh tiba-tiba saja ada menulis sajak tentang permen dan gambar seorang perempuan pirang yang dikenal dari sebuah masa kecil, dalam sebuah kenangan di merk manisan Amerika.

Si aku yang tak punya banyak kenangan - karena itu kenangan ringan ini begitu riang dikenang - tetapi si aku malu ditertawakan, sok tahu saja mengira si nyonya berambut pirang berasal dari Belanda. Seperti main tebak-tebakan. "Salah, aku merk manisan Amerika." Jenaka.

Riang. Ringan. Ini bukan sajak tanpa makna, tapi memang tidak terlalu menuntut dan tidak menantang pembaca untuk mencari makna dari padanya. Tapi apa salahnya? Sajak toh tak harus melulu harus mengajak pembaca cemas dan gelisah. Yang riang dan ringan juga bisa membuat kita merenung. Sajak memang bisa dan boleh bicara soal hal yang remeh dan sepele. Sajak memang boleh bicara tentang apa saja, kan?. Ah, betapa kayanya. Betapa kita bisa menjemput sajak di mana saja, bukan?