Friday, October 13, 2006

Semacam Sampiran Pantun Tanpa Isi

Siapa mengerti kenapa bingkai itu bertali
Sedang gambarmu tak sempat kaupasang

Lama menatap bingkai yang makin kosong
Memperjelas cermin wajahmu dilapisi debu

Berapa lama sembunyi di belakang bingkai
Tak jenuh menunggu: kau hanya kian ragu

Bingkai kayu berukir rambatan bunga liana
Kau letih mencari kemana akar mencakar

Di balik bingkai siapa menulis namamu
Huruf-huruf yang disamarkan oleh waktu

Kau menduga bayang menegas di bingkai itu
Memastikan cahaya yang membuat ia ada

Tanpa gambarmu, bingkai menahan getir getar
Kosong: semacam sampiran pantun tanpa isi

     

Catatan:
      Semula saya ingin menulis beberapa buah pantun. Pantun dengan sampiran yang menggali imaji-imaji bingkai. Pantun dengan sampiran itu akan saya isi dengan renungan-renungan tentang bangkai, tentang kematian dan tentu dengan demikian juga tentang kehidupan. Bangkai, bingkai. Bangkai, bingkai. Saya kira permainan bunyi antara kata kunci pada sampiran dan pada isi itu akan mengasyikkan.
      Tapi, dalam perjalanan penciptaan pantun-pantun itu saya menemukan keasyikan lain. Saya membuang saja isi dan meninggalkan sisa sampirannya. Kenapa dibuang? Apakah masih pantun namanya jika hanya ada sampiran tanpa isi? Ah, ya bebas saja. Tak ada yang mengatur saya, bukan? Saya toh punya satu jurus kunci: menyelamatkan puisi saya dengan judul yang mengikat semua sampiran-sampiran itu menjadi benar. Jadilah judul itu: Semacam Sampiran Pantun tanpa Isi. Sampai pada bait terakhir, saya kemudian terpikir untuk "menyelesaikan" rangkaian sampiran pantun itu dengan bait yang mengandung kalimat yang menjadi judul. Ini berisiko, sebab sampiran-sampiran kosong itu bisa jadi tidak "kosong" lagi. Tapi, apapun lah, saya beranikan asja menempuh risiko itu dengan membuat bait penghabisan tersebut.
      Bukan sekali ini saya "mempermainkan" pantun. Sekali waktu saya pernah juga membuat pantun-pantun yang tak tuntas. Sekali waktu saya juga pernah membuat dua pantun yang diselingi dua baris tunggal. Bebas saja, bukan? Saya mungkin akan menemukan permainan lain pada pantun ini. Pantun toh tak akan jatuh kepantunannya karena saya permainkan. Puisi saya tetap saja sah sebagai puisi, dan ia memberikan keasyikan pada saya. Semoga ia juga memberi keasyikan pada Anda yang ikut membaca.