Thursday, July 29, 2004

[Ruang Renung # 84] Diksi atau Pilihan Kata

BAHKAN ketika kita berbicara pun kita harus memilih kata. Bahkan dalam bahasa lisan pun kita kadang-kadang bisa mengidentikkan seseorang karena pilihan kata-kata yang sering diucapkannya, sering diulang-ulangnya, bahkan dalam kalimatnya kata itu seperti memiliki makna sendiri.



APATAH lagi di dalam puisi. Pilihan kata juga menjadi pertaruhan bagi keunggulan puisi. Penyair-penyair kuat bisa kita identikkan - antara lain - dengan kekhasan pilihan kata-kata dalam puisinya. Terdedah - barah - luka - air mata adalah sebagian dari serangkaian kata yang kerap dan amat disukai oleh Sutardji Calzhoum Bachri. Lindap - bersijingkat - menjelma - adalah sebagian dari sejumlah kata yang mendapatkan tempat dan pemaknaan yang maksimal dalam puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Kalau Joko Pinurbo lain lagi. Dia suka menghadirkan kata kuburan - celana - burung - ibu - ranjang. Cobalah perhatikan lagi kata-kata apa yang kerap dipilih oleh penyair siapa. Afrizal apalagi, pilihan katanya sangat khas dan mengejutkan. Kata-kata yang tampaknya tidak puitis bisa disulapnya jadi puisi yang teramat tipikal Afrizal. Demikian juga kata puisi-puisi lama tentu bisa berbeda dengan puisi-puisi karya penyair mutakhir.



BAGAIMANA kita bisa memilih kata kalau kita tak kenal banyak kata? Itulah masalahnya. Kita mesti berkenalan dulu dengan banyak kata. Menyimpannya di gudang perbendaharaan di kepala kita, membiarkannya tinggal di sana, mungkin suatu suatu saat ia menggoda-goda kita minta dipuisikan, atau suatu ketika kita ketemu benih puisi yang mesti melibatkan kata-kata yang sudah kita simpan tadi. Tetapi, kalau kita sadar memilih kata-kata yang biasa saja, kata-kata yang tidak istimewa, maka itupun sebuah pilihan. Sebuah upaya untuk menidakbiasakan kata yang biasa-biasa saja dan mengistimewakan kata yang di mata yang bukan penyair tidak istimewa.



SESUNGGUHNYA tidak ada kata yang tidak puitis. Semua kata berhak menyusun komposisi puisi. Semua kata berhak ikut serta dalam membangun sebuah puisi.



TAPI, puisi bukan sekadar menyusun kalimat dengan kata-kata yang aneh. Kita harus sekaligus menyusun batu-batu bagi jalan setapak agar pembaca bisa sampai pada makna. Tidak, kita tidak mengarahkan. Kita sedang menulis puisi. Biarlah petunjuk itu jadi semacam saran halus, semacam bisikan. Orang kelak boleh mengambil makna yang kena bagi dirinya sendiri. Bukan makna yang kita kalengkan jadi instan dalam puisi kita. Kiranya, dengan demikian puisi kita jadi lebih nilainya, upaya kita memilih kata-kata tidak sia-sia jadinya.



TANTANGANNYA sekarang: ayo cari kata-kata khas untuk kita. Rampas, rampok, ambil, jadikan semua yang membaca sajak-sajak kita kelak diam-diam atau terbuka mengakui bahwa kata-kata itu adalah syah milik kita. Saya belum ketemu. Saya juga masih berburu. Maaf, saya harus buru-buru.[hah]