Wednesday, July 28, 2004

Penyair Lahir dan Mati

dalam Rahim Perang








PERANG tidak hanya melahirkan nama-nama yang jadi pahlawan, angka-angka statistika korban dan kisah-kisah kekalahan dan kemenangan. Perang juga melahirkan seorang penyair. Rupert Chawner Brooke adalah penyair yang lahir dari rahim Perang Dunia I. Penyair Inggris ini berhasil mengekspresikan rasa dan jiwa patriotik generasi pada masanya. Terutama lewat sajak tunggal yang banyak dibaca, dan diambil semangatnya: "The Soldier".



The Soldier



If I should die, think only this of me:

That there's some corner of a foreign field

That is for ever England. There shall be

In that rich earth a richer dust concealed;

A dust whom England bore, shaped, made aware,

Gave, once, her flowers to love, her ways to roam,

A body of England's, breathing English air,

Washed by the rivers, blest by suns of home.



And think, this heart, all evil shed away,

A pulse in the eternal mind, no less

Gives somewhere back the thoughts by England given;

Her sights and sounds; dreams happy as her day;

And laughter, learnt of friends; and gentleness,

In hearts at peace, under an English heaven.






Rupert Brooke, begitulah ia lebih masyur disapa, lahir sebagai anak seorang kepala sekolah di Rugby, 3 Agustus 1887. Brooke memang dikenang lewat sajak patriotik tersebut. Tetapi, sepanjang usia berkaryanya yang pendek itu dia menulis ratusan puisi lain dengan beraneka tema. Selalu saja, ia semakin dikenali, semakin dibaca karyanya, maka semakin besar pula kekaguman dan kebesarannya sebagai penyair, lebih dari yang semula selintas diduga. Sementara WB Yeats menyebutnya lelaki paling ganteng se-Inggris Raya.



Sejak di sekolah dan universitas, Brooke sudah jadi sosok yang menonjol. Dia terlibat dalam gerakan seperti Fabian Society. Dan reputasinya juga tumbuh sebagai penyair yang ganteng, menarik dan intelek semasa tahun-tahunnya di Cambridge. Inilah sejumlah jejak-jejak awal yang kemudian membawanya menjadi penyair yang banyak dipuja. Brooke bersahabat dengan Frances Darwin. Cucu perempuan naturalis Charles Darwin ini menjulukinya '"Apollo Muda, Berambut Kencana".



Pengakuan resmi bagi Brooke sebagai penyair tidak ia raih hingga tahun 1911. Ketika itu "Poems 1911" buku kumpulan puisi pertamanya terbit. Pada tahun itu juga ia menerbitkan buku puisi karya berdua sahabatnya Edward Marsh, "Georgian Poetry". Marsh juga yang kelak menulis memoar bagi sang sahabat.



Tapi Brooke tidak berhenti. Dia risau dan melakukan pencarian untuk menemukan dunia yang menawarkan sensasi untuk ditulis. Dia menggelandang ke Jerman dan Italia di tahun 1913. Lalu penjelajahannya juga merambah ke Amerika, Kanada, melintas samudera selatan hingga ke Selandia Baru. Selama itu pula dia menjadi koresponden untuk surat kabar Inggris dan rutin mengirimkan laporan. Dalam pengembaraan itu pula dia bertemu dengan gadis Samoa bernama Taatamata. Kepada gadis itulah ia mempersembahkan cinta dan sebuah puisi berjudul "Tierre Tahiti".



Di awal kehidupan barunya sebagai penulis puisi dan prosa yang mulai membaik, babak baru bagi memoar hidupnya kelak pun mulai dituliskan. Inilah bagian paling memukau dalam hidupnya. Perang Dunia I pecah. Saat itu dia sedang berdinas di Angkatan Laut Inggris dan berpangkat di bawah letnan. Tahun 1914 kala itu, September bulannya. Sebulan penuh ia menjalani latihan bersama pasukan Inggris dan terutama lebih banyak dalam peran-peran yang tidak melibatkannya dalam tempur senjata (non-combatant) di Antwerp. Saat itulah dia menjadi saksi mata pelarian orang-orang Belgia.



Tahun berikutnya, baru menginjak bulan Februari, Brooke sebenarnya sudah menunjukkan tanda-tanda sakit, tapi karena panggilan perang dia berlayar juga bersama pasukan Mediterranean Expeditionary dengan misi bertempur melawan tentara Turki di Dardanelles. Brooke dalam surat-suratnya kepada Frances tampaknya menerima titah nasib terlibat dalam pertempuran itu. Dia membayangkan perang Troya dan memimpikan penaklukan atas kota Konstantinopel. Tapi, ia tak pernah sampai pada adu senjata. Ia hanya sempat menulis dan mengirimkan sejumlah puisi.



Pukul 4:46 sore, 23 April 1915, Brooke tewas karena keracunan darah, dalam usia muda: 28 tahun. Dia tewas di rumah sakit kapal Prancis yang berjangkar di Pulau Skyros, Yunani. Ia dimakamkan di tempat yang ia kunjungi beberapa hari sebelumnya. Ia komentari kecantikan tempat itu sebelumnya. Pukul 11 malam, hari itu juga Brooke dimakamkan. Iring-iringan duka melintasi sungai kering, batu marmer putih dan merah jambu terhampar, aroma zaitun, bunga-bunga popi liar.

Beberapa hari berselang, kabar kematiannya sampai juga di Inggris. Dan segera saja ia menjadi sosok yang hidup dalam mitos, tambah meruap dipanasi api perang dunia. Perdana Menteri Inggris Winston Churchill pun menambah sosok sang penyair lebih melegenda, ketika ia berkata, "Sebuah suara sudah diperdengarkan, sebuah catatan sudah ditorehkan, lebih sejati, lebih menggetarkan hati, lebih mampu mengupayakan keadilan bagi kemuliaan usia muda kita dalam tangan-tangan yang terlibat dalam perang saat ini, lebih dari apapun lainnya...."



Ada sajak terakhir yang ditemukan dalam buku catatan ketika ia meninggal.



I strayed about the deck, an hour, to-night

Under a cloudy moonless sky; and peeped

In at the windows, watched my friends at table,

Or playing cards, or standing in the doorway,

Or coming out into the darkness. Still

No one could see me.



I would have thought of them-

Heedless, within a week of battle - in pity,

Pride in their strength and in the weight and firmness

And link’d beauty of bodies, and pity that

This gay machine of splendour`ld soon be broken,

Though little of, pashed, scattered . . .



Only, always,

I could but see them - against the lamplight - pass

Like coloured shadows, thinner than filmy glass,

Slight bubbles, fainter than the wave’s faint light,

That broke to phosphorous out in the night,

Perishing things and strange ghosts - soon to die

To other ghosts - this one, or that, or I.