Tuesday, September 2, 2003

Catatan Seorang Pembuat Komik

SUDAH kuduga dia: tokoh komik yang baru saja

     terbunuh di lembar terakhir cerita. Aku sangat

     mengenal efek bunyi langkah kakinya. Dan, zing!

     Tajam suara sunyi, bunyi diamnya. Tapi, siapa yang

     terakhir memegang kunci studio? Aku hanya ingat

     pesuruh kantor yang kuminta membakar sisa-sisa A3.





SIA-SIA bergegas. Alamat dan rumah ternyata telah

     terkemas, bersama kuas, pensil 3B, dan tinta cina.

     AKu pun ternyata ada di sana: di dalam ransel kerja

     yang selalu didekap dada - kadang di kepala. Ada

     skenario gambar-gambar, narasi adegan, teks, dan

     balon-balon ucapan yang belum digelembungkan.

     "Mari pulang ke komik kita, Saudara. Engkau

     sebenarnya hendak merantau kemana?" Siapa yang

     berkata? Rasanya aku tak pernah menuliskan

     kalimat yang diterbangkan tokoh komik itu.



AKU ternyata telah lama kehilangan rumah, karena

     telalu asyik dengan denah-denah, sketsa adegan,

     juga karakter tokoh-tokoh, map-map kertas, lemari

     arsip, rancangan sampul. "Masih ingat? Di toko

     alat tulis mana terakhir kali engkau singgah?" Ah,

     sudah lama aku tidak belanja. Terakhir kali aku lupa

     membeli karet penghapus. Aku tidak detil dengan

     urusan kenangan dan daftar belanja.



MASIH juga, ada yang terus mengikuti langkahku.

     Bahkan ketika aku kembali ke studio, melangkah

     melawan arah rumah, bahkan ketika kunyalakan

     lampu di atas meja gambar. Pasti dia juga yang

     membuat makam sendiri pada kertas-kertas yang

     terbakar, eh ada batu nisan yang minta diberi

     nama dan tanggal kematian. "Namamu sendiri,

     Saudara. Kau tidak melupakannya, bukan?"



Sep2003