Friday, April 11, 2008

Perihal Kejujuran dalam Berkarya

Bang Hasan,

Saya baru saja menulis puisi. Karya saya dimuat di media lokal. Mungkin saya adalah penyair golongan C. Satu minggu yang lalu, seseorang yang jam terbangnya sudah jauh dari saya, sebut saja penyair golongan B, mengkritik tulisan saya dan mengatakan saya belum jujur dalam berkarya.

Yang ingin saya tanyakan adalah, seperti apakah kejujuran dalam berkarya?
Apakah hiperbola adalah sesuatu yang haram? Bukankah hakikat sebuah fiksi adalah dusta (karangan)? Bagi saya kata jujur tersebut terlalu ambigu.

Saya teringat seseorang yang berkata begini, "saya adalah seorang pembohong besar." Apakah dia sudah jujur mengatakan bahwa ia pembohong? Apakah orang yang berkata bahwa ia jujur adalah orang yang jujur?

Terima kasih, Arif Rizki


Arif Rizki,

Terima kasih atas pertanyaanmu. Saya tanggapi pertanyaan terakhirmu. Ketika ada orang berkata kepada saya bahwa dia adalah seorang pembohong besar, atau sebaliknya dia adalah orang jujur, apa perlunya saya menguji ucapannya itu? Apa perlunya saya menetapkan orang lain itu pembohong atau orang jujur? Saya bisa berteman saja dengan dia tanpa harus menetapkan dahulu dia pembohong atau jujur.

Kalau saya tahu dia pernah berbohong maka saya akan memilih-milih mana omongannya yang saya percaya dan mana yang dianggap angin lalu saja. Kalau ketidakmampuan saya memastikan bohong dan jujurnya dia bisa berakibat buruk pada saya, maka saya sebaiknya menjauhi dia.

Nah, sekarang saya jawab pertanyaanmu tentang kejujuran dalam berkarya. Sayang kamu tidak sertakan sajakmu yang dicap tidak jujur itu.

Apakah jujur? Jujur itu tidak bohong. Berkata apa adanya. Ketika kamu lapar, dan orang bertanya, "apakah kamu lapar?" lalu kamu bilang, "ya, saya lapar", maka itu berarti kamu telah jujur. Keadaan kadang membuat kejujuran itu sulit dilakukan. Misalnya kamu berhadapan dengan seorang yang kamu tahu hanya punya sepotong roti dan kamu tahu dia lapar sekali, lebih lapar dari kamu. Ketika dia bertanya, "apakah kamu lapar?" dan dia seakan hendak membagi rotinya denganmu, maka mungkin kamu saat itu akan berkata tidak jujur. "Tidak saya tidak lapar, silakan kamu makan saja, saya kira kamu lebih memerlukan roti itu." Dengan demikian, kamu sudah berbohong. Dosakah kamu dengan kebohonganmu itu? Ah, saya tidak tahu, tapi saya kira saat itu kamu pasti merasa jauh lebih enak daripada kamu jujur mengatakan bahwa kamu lapar dan kemudian dia membagi rotinya denganmu.

Begitulah saya memandang bohong dan jujur. Saya tidak tahu apa maksudmu dengan kejujuran itu ambigu. Kita bisa diskusi lagi nanti soal ini. Saya selalu ingin berada pada situasi yang memungkinkan saya bisa jujur pada siapa saja. Karena itu saya tidak mau mencuri. Mencuri itu bisa membuat saya tidak jujur. Jujur adalah bekerja sendiri, mendapatkan apa yang memang menjadi hak untuk kita.

Saya kira begitulah kejujuran dalam berkarya. Karya apa saja. Karya itu kerja bukan? Bekerjalah untuk menghasilkan sesuatu. Bekerjalah untuk menciptakan puisimu. Jangan "mencuri" dan mencuri karya orang lain. Itu tidak jujur. Kamu tidak akan pernah menghasilkan puisi yang benar-benar puisimu kalau kamu mencuri.

Perihal Fiksi

Baiklah kita sederhanakan bahwa puisi itu sah berada di wilayah fiksi. Soalnya ada juga yang memasukkan puisi tidak pada fiksi, tapi penjarakan (distansi). Ah, ini kita bicarakan lain kali.

Saya suka sekali dengan tulisan pendek almarhum Kuntowijoyo di Kompas, dulu sekali. Dia bilang fiksi atau prosa adalah strukturalisasi dari tiga hal yaitu pengalaman, imajinasi dan nilai-nilai.

Bila kamu tidak pernah menyentuh dinginnya salju, artinya kamu tidak pernah punya pengalaman langsung dengan salju. Memang, kamu bisa tahu tentang salju dari baca buku, melihat foto atau menontonnya di televisi. Tetapi saya yakin itu semua tidak pernah bisa menggantikan apa yang bisa kamu dapat dari pengalaman langsung bersentuhan dengan salju.

Pengalaman adalah salah satu dari bahan fiksi. Pengalaman itu kemudian diolah dengan imajinasi. Kenapa imajinasi? Karena bila tidak maka yang kamu tulis adalah fakta. Misalnya kamu ingin bikin cerita setelah kamu punya pengalaman berada di tengah hujan salju. Kamu imajinasikan bahwa kamu di sana berdua dengan seorang perempuan yang kamu kasihi. Nah, itu wilayah imajinasi. Itu bukan dusta bukan bohong. Imajinasi adalah alat untuk mengolah pengalaman tadi.

Bagaimana dengan nilai-nilai? Nilai yang kamu kandung dalam hidupmu pasti berbeda dengan nilai orang lain. Orang Eskimo yang punya belasan nama yang berbeda untuk berbagai jenis salju lain cara memandang salju dengan caramu karena kamu berasal dari wilayah tropis. Karena itu, kalau kamu berdua ingin menulis sebuah cerita dengan pengalaman yang sama itu, maka nilai-nilai yang berbeda tadi akan membuat cerita yang berbeda.

Begitulah. Saya kira, hakikat fiksi itu bukan dusta. Dengan menulis fiksi, kamu tidak hendak berdusta dengan pembaca, bukan? Bukan dusta itu tujuanmu membuat fiksi. Karl May, punya imajinasi yang luar biasa, sehingga tanpa pengalaman langsung dia bisa membuat cerita petualangan dari dalam penjara. Ia hanya rajin menggunting koran dan lihai membaca peta. Dia tidak ingin membohongi orang dengan karyanya.

Sekarang soal hiperbola. Itu adalah gaya bahasa. Ada banyak gaya bahasa. Beberapa contoh bisa kamu lacak di blog saya. Gaya bahasa adalah salah satu alat dalam membangun puisi. Ada berbagai macam alat.

Chairil bilang, "aku mau hidup seribu tahun lagi." Ini saya kira adalah contoh gaya bahasa hiperbola. Bohongkah Chairil? Mungkinkah orang hidup seribu tahun? Wajarkah keinginan orang untuk hidup seribu tahun? Saya kira bait itu tidak benar kalau dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan tadi. Bait itu adalah bait puisi yang bisa dimaknai dengan cara lain dan itu lebih bermanfaat.

Sekian, semoga mencerahkan.

Hasan Aspahani