Sunday, July 29, 2007

Di Antara Sampiran dan Isi Pantun Tua

          kalau ada sumur di ladang
          boleh kita menumpang mandi


TAPI ladang-ladang mati,  mengubur para petani
dalam sumur-sumur dangkal, meninggal isak sesal:
mataair berairmata lumpur, pasir dan batu koral.

"Itulah sumur yang kau gali dahulu, dari ladang
ke ladang," kata bocah lelaki kurus yang tak henti
memandangi langitnya, menunggu layang-layang
yang mungkin bisa ia  kejar, karena bambu
panjang telah lama patah, kail pun tak berumpan.

*

IA telah lama ingin mandi. Keringat kemarau
mengubah warna dan bau tubuhnya jadi asing.

Ia bayangkan para penebang datang dengan mesin
gergaji. Salah mengira tubuhnya, rebah batang tua
yang hendak dibelah jadi sembilan belah.

Tak terjawab bilakah pertama kali ladang yang pernah
subur ini berangsur kehilangan sumur-sumur, dan para
petani kalah lekas dengan umur, mati atau tersiksa uzur.

Pantun Tua, Pantun Tua,  siapa bisa mengingatkan
isimu pada bocah lelaki itu? Setelah sampiran itu tak lagi
bisa kami lagukan bersama. Panen batal,  hari tenggelam,
tak ada lagi padi yang bisa ditugal. Apalagi diketam.
 
           kalau ada umur panjang
           boleh kita berjumpa lagi?